Soal Patung di Pantai Wane, Ini Pernyataan Para Tokoh di Wilayah Monta Selatan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Sebanyak 8 tokoh pada 7 Desa wilayah Monta Selatan menyampaikan pernyataan tentang keberadaan patung di sekitar Pantai Wane Desa Tolotangga Kecamatan Monta. Pernyataan itu dibuat berdasarkan hasil kesepatan hasil pertemuan yang dihelat, Kamis (24/10). (Baca. Viral Soal Patung di Wane, Begini Komentar Kepala Kemenag Bima)

Pertemuan para tokoh membahas soal patung di Pantai Wane. Foto: Ist

Adapun 8 tokoh tersebut masing – masing Tetua Adat Tolotangga Syarifuddin HMT yang juga Mantan Sekdes, Kepala Dusun Wane Arifin, Tokoh Muda – BPD terpilih Desa Wane Suhardin, Ketua BPD Tolotangga yang berdomisili di Wane Alimin Husen, Humas POKDARWIS Desa Wane Syarif Al-Kisah, Kepala Dusun Tolouwi Sunardin, Tokoh Masyarakat Sondo Jufrin dan Pokdarwis Tolotangga Syahrawadin. (Baca. Pernyataan FUI Bima, Patung di Wane Harus Dibongkar)

Syarifuddin mewakili para tokoh tersebut menjelaskan, menilik dinamika isu melalui media sosial tentang patung yang kian jauh dari realita faktual, maka pihaknya memberikan penjelasan.

Pertama, lokasi tersebut merupakan lahan pribadi milik Kombespol Ekawana Prasta, mantan Kapolres Bima yang dibeli labor dari salah seorang warga Tolotangga bernama M Saleh Makka sekitar 4 tahun lalu.

“Lahan tersebut seluas lebih kurang 4 Hektar are dan telah disertifikat,” katanya.

Kemudian, patung-patung tersebut berada dalam lahan pribadi dan merupakan hiasan taman yang dalam proses pendiriannya diketahui secara pasti oleh mereka sebagai pemuka adat.

“Kami dan seluruh masyarakat 7 desa wilayah Monta Selatan, tidak pernah merasa risih dengan keberadaan patung hiasan taman tersebut,” jelas Syarifuddin.

Mereka pun berkeyakinan, keberadaan hiasan taman itu bukanlah suatu hal yang menjadi ancaman pelunturan nilai budaya dan kearifan lokal, apalagi melunturkan aqidah. Karena warga di wilayah itu mengetahui pasti, bangunan di lokasi tersebut bukanlah tempat beribadah, atau cikal bakal rumah ibadah, melainkan villa yang dijadikan tempat peristirahatan bagi pemiliknya sewaktu-waktu datang untuk berkunjung atau berlibur.

Patung di Wane yang dipersoalkan warga. Foto: Ist

Poin lain dari kesepatan itu sambungnya, keberadaan villa dan berbagai ornament taman di lokasi tersebut telah menjadi daya tarik yang memberi manfaat bagi kunjungan wisatawan, dan hal tersebut memberi dampak positif pada kreatifitas pemuda (Kelompok Sadar Wisata). Sehingga mengalihkan para pemuda dari melakukan perbuatan – perbuatan yang melanggar hukum dan norma.

“Kami juga mengimbau dengan sangat kepada pihak manapun untuk tidak gegabah mengembangkan isu – isu yang dapat melahirkan stigma negatif, yang justru membuat wilayah kami terus dipandang tidak aman, sehingga berdampak pada kurangnya minat masyarakat luar untuk berkunjung atau berwisata,” urainya.

Syarifuddin juga menegaskan, pihaknya berkomitment untuk tetap menjaga keutuhan dan keharmonisan (Kamtibmas) di lokasi kawasan pantai Wane, umumnya Kecamatan Monta dan Kabupaten Buma. Demi dinamisnya kelanjutan pembangunan dan transformasi sosial kemasyarakatan, serta tidak akan terpancing dengan adanya hal-hal yang bersifat provokatif dari pihak luar yang belum tentu mengetahui secara pasti.

“Maka kami pun berharap pada waktu-waktu selanjutnya terdapat upaya – upaya seluruh pihak untuk terus memajukan kawasan Pantai Wane dan menjadikannya sebagai sentra pariwisata,” tambahnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *