Warga Tente Butuh Ruang Terbuka Publik

Kabupaten Bima, Kahaba.- Komunikasi 2 arah antara legislatif dan masyarakat di Kantor Kecamatan Woha, Kamis (14/11) dimanfaatkan dengan baik oleh warga Tente. Bagaimana tidak, momen jarang itu digunakan untuk mengungkapkan sejumlah persoalan yang terjadi di tengah – tengah masyarakat. (Baca. Reses di Kantor Camat Woha, Dewan Dapil I Jaring Aspirasi Warga)

Warga Desa Tente Faris saat menyampaikan aspirasi di reses dewan. Foto: Bin

Saat reses 7 orang wakil rakyat Kabupaten Bima Dapil I itu, beragam aspirasi pun diutarakan. Baik itu masalah infrastrktur, maupun hal – hal yang bersifat non fisik. Dengan harapan, ungkapan keinginan itu bisa segera diwujudkan oleh para anggota dewan. (Baca. Reses di Talabiu, Masyarakat Menaruh Harapan Besar Pada Firdaus)

Seperti yang usulkan oleh salah seorang warga Desa Tente Faris, selama ini ia merasa gundah dengan kondisi desanya yang semakin hari, semakin tidak memiliki ruang terbuka untuk publik beraktivitas.

Dampaknya, pun harus dirasakan oleh warga, terutama anak – anak. Akibat tidak adanya ruang tersebut, para bocah di desa setempat lebih sering menghabiskan waktu beramain mereka di jalan raya. Padahal, jalur tersebut cukup beresiko dan mengancam keselamatan mereka.

Menurut Faris, perhatian pemerintah untuk membangun Ruang Terbuka Publik di Desa Tente sama sekali tidak ada. Padahal, masyarakat setempat sangat membutuhkan ruang tersebut. Sehingga aktivitas masyarakat juga tersentral pada fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

“Kasian anak – anak, karena tidak ada tempat seperti itu, maka terpaksa bermain di jalan raya yang banyak lalu lalang kendaraan,” ungkapnya.

Ia pun menyarankan, untuk pembangunan ruang terbuka publik tersebut berada di lahan yang dibangun Kantor Bank NTB. Di sana merupakan lokasi yang sangat strategis dan berdampingan dengan monumen Pancasila yang  bersejarah.

“Kami sangat berharap kepada wakil rakyat untuk bisa segera merealisasikan keinginan ini. Agar Desa Tente memiliki ruang terbuka publik untuk masyarakat bisa beraktivitas,” inginnya.

Selain meminta itu, di hadapan 7 orang anggota legislatif yang mewakili Kecamatan Woha, Monta dan Kecamatan Parado tersebut, Faris juga meminta agar pemerintah segera membuat daerah resapan. Untuk mengatasi masalah banjir yang setiap tahun pasti terjadi. Faris memberi solusi, jika danau yang ada di perbatasan Desa Tengah, Desa Naru dan Desa Keli, harus diperhatikan dan diperbaiki kembali.

“Di sana itu daerah resapan dari dulu dan alami, tapi tidak pernah diperhatikan. Jika itu dijadikan daerah resapan kembali, maka masalah banjir akan bisa diatasi,” terangnya.

Bahkan, tempat tersebut menurut dia, karena danau yang cukup besar, juga bisa diolah untuk menjadi tempat wisata air di Kecamatan Woha. Sehingga menjadi wadah perputaran ekonomi masyarakat sekitar.

Diujung penyampaian aspirasinya, pria yang juga anggota Babinsa Desa Tente itu juga meminta agar pemerintah membangun ASI di wilayah Woha, untuk dijadikan tempat pentas seni dan budaya skala Nasional.

Dengan adanya tempat itu, maka generasi memiliki aktifitas untuk melatih diri jadi seniman dan budayawan. Sehingga terhindar dari pergaulan bebas dan virus narkoba.

Sementara itu, salah satu Anggota DPRD Kabupaten Bima Firdaus mengapresiasi usulan yang disampaikan Faris. Aspirasi itu telah ditampung, untuk dibahas bersama pada tingkat komisi yang menangani uslan dimaksud.

“Kami di dewan akan memperjuangkan usulan itu. Memang di Desa Tente harus dibuatkan ruang terbuka publik, agar bisa menjadi contoh bagi desa yang lain. Demikian pula dengan pembuatan daerah resapan, itu sangat penting untuk dilakukan. Kami akan perjuangkan,” tutur Duta PDIP itu.

“Kahaba-05

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *