Wartawan Bima Ikut Pelatihan Cek Fakta Dari Google

Kota Bima, Kahaba.- Puluhan wartawan di Bima mengikuti Training Network yang dihelat Google News Initiative (GNI) bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Aula FKUB Kota Bima, Sabtu (23/11). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Google untuk memberdayakan inovasi pada titik temu media dan teknologi untuk mendorong jurnalisme berkualitas.

Pihak dari Google saat menyampaikan materi pada pelatihan cek fakta. Foto: Bin

Trainer GNI Anca Hardiansya menjelaskan, kegiatan ini serentak digelar di 50 daerah di Indonesia, termasuk di Kota Bima. 2 ribu jurnalis seluruh Indonesia dan 500 media pun mengikuti kegiatan.

“Kami berharap wartawan yang hadir bisa memanfaatkan betul training ini untuk meningkatkan kemampuan sebagai jurnalis,” harapnya.

Menurut dia, menciptakan dunia yang melek informasi membutuhkan kerjasama jurnalis dan teknologi. Sebagai jurnalis juga harus mengikuti setiap perkembangan teknologi, jika tidak maka akan tertinggal.

Anca menjelaskan, berita hoax menyebar luas dan semakin sulit untuk membedakan mana yang berita asli dan berita bohong. Lantas kenapa publik mudah termakan hoax, karena rendahnya minat baca dan literasi. Sebab, kadang setelah melihat judul langsung menganggap dan menyimpulkan, padahal isi belum dibaca.

“Ada banyak orang Indonesia yang berkerumun di internet, lebih dari separuh populasi, dan terpapar karena adanya literasi yang tidak memadai,” ungkapnya.

Dari kegiatan ini pun pihaknya ingin mengubah kata hoax yang sejauh ini sudah dikonsumsi publik, menjadi Misinformasi dan Disinformasi. Sehingga kata hoax perlahan hilang dan digantikan dengan Mis dan Disinformasi.

“Misinformasi itu informasi yang salah, namun orang yang membagikannya percaya itu benar. Sementara Disinformasi, informasi yang salah dan sengaja dibagikan dengan maksud menipu, mengancam atau membahayakan,” jelasnya.

Adapun tujuan berita – berita yang masuk dalam Mis dan Disinformasi disampaikan yakni Parodi atau untuk  lucu lucaan. Kendati tidak ada niat menyakiti, tapi berpotensi membodohi. Kemudian konten yang sengaja dibuat untuk menyesatkan. Konten asli atau palsu (Aspal), seolah sumbernya asli padahal palsu. Lalu konten pabrikasi, tidak nyambung antara judul berita, foto dan caption dengan isi beritanya. Lalu konteksnya salah, dan konteks aslinya dihilangkan, serta yang terakhir konten manipulasi.

“Adapun alasan ini dilakukan yakni, jurnalisme yang lemah, buat lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, partisanship, cari duit, gerakan politik dan propaganda,” sebutnya.

Menurut Anca, beberapa hal yang dijelaskannya itu untuk mendorong agar jurnalis skeptis dan kritis. Karena jika jurnalisme masih lemah, maka Indonesia belum aman dan terhindar dari hoax.

Ia juga mengungkapkan, salah satu penyebar informasi yang tidak benar itu dari situs abal – abal. Di Indonesia saja, ada 8 ribu situs penyebar hoax tersebar di Indonesia. Maka untuk mengetahui dan mengindentifikasi situs berita palsu, bisa dilakukan dengan cara mengecek alamat situsnya, cek detail visualnya.

Selain itu, mewaspadai jika pada situs tersebut terlalu banyak iklan. Lalu bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream, periksa about us. Kemudian, judul dan isi berita yang sensasional serta tidak lupa mengecek situs media mainstream.

Tidak saja membahas soal situs abal – abal, dirinya menyebutkan ada cara lain untuk mengetahui informasi palsu yang disampaikan dalam bentuk foto. Dengan cara mengecek kebenaran foto dimaksud melalui google reverse image.

Reverse image search merupakan teknik pencarian pengambilan gambar berbasis konten yang melibatkan penyediaan sistem CBIR, dengan sampel gambar yang kemudian akan dijadikan dasar pencariannya.

Pelatihan untuk mengasah kemampuan jurnalis dan sikap skeptis tersebut rencana akan digelar selama 2 hari. Puluhan wartawan di Bima masih akan melanjutkan training pada hari Minggu (24/11) di tempat yang sama dengan materi kebersihan digital dan sejumlah materi lain.

*Kahaba-01

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *