KT Lamoci Cenggu Gelar Pagelaran Seni dan Budaya Mbojo

Kabupaten Bima, Kahaba.- Karang Taruna (KT) Lamoci Desa Cenggu menggelar Pagelaran Seni dan Budaya Mbojo di Lapangan Hijau Cenggu, Sabtu pekan kemarin. Kegiatan itu diikuti sejumlah sanggar seni yang ada di 3 kecamatan, yakni Kecamatan Belo, Palibelo dan Woha.

Foto bersama usai Pagelaran Seni dan Budaya Mbojo yang dihelat KT Lamoci Cenggu. Foto: Ist

Ketua panitia Ikhwan Saputra menyampaikan, kegiatan itu bertema peran generasi milenial dalam melestarikan seni dan budaya mbojo. Tema itu diambil karena peran generasi milenial dianggap sangat penting dalam menjaga dan melestarikan budaya.

“Era sekarang ini peran milenial menjadi sangat penting dan strategis,” ujanya.

Kata dia, secara tidak sadar, kita berada pada era modernisasi dan globalisasi. Era yang membuat banyak generasi menikmati produk luar dan mengabaikan prodak lokal. Padahal, kalau dibangun dan didesain dengan serius, produk lokal bisa saja lebih bagus dan dinikmati oleh orang luar.

“Produk lokal kalau dibranding dengan baik, maka bukan tidak mungkin dicari oleh orang luar,” katanya.

Ia membeberkan, anggaran kegiatan itu bersumber dari dana desa sebanyak Rp 6.800.000. Selain itu, juga bersumber dari pihak-pihak lain.

“Terimakasih kami sampaikan atas kontribusi menyukseskan kegiatan ini,” ucapnya.

Camat Belo Bambang Setiawan dalam sambutannya menyampaikan, terimakasih dan apresiasi terhadap KT Lamoci Desa Cenggu. Terutama kepada seluruh panitia yang sukses menggelar kegiatan tersebut.

Camat berharap pemerintah desa setempat bisa mengakokasikan anggaran yang lebih besar lagi untuk kegiatan seperti itu. Pasalnya, kegiatan itu dinilai efektif untuk menanamkan nilai seni dan budaya kepada anak-anak.

“Kalau bisa kegiatan seperti ini diadakan selama 3 hari,” harapnya.

*Kahaba, C09

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *