oleh

Sorot Tidak Transparan Kelola Anggaran Masjid Baitul Hamid, Warga Mengadu ke Yayasan Islam 

-Kabar Bima-11 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Yayasan Islam Bima menerima laporan sejumlah warga Kelurahan Penaraga, terkait sikap Ketua Pengurus Masjid Baitul Hamid H Sudirman yang tertutup dan tidak pernah transparan dalam mengelola anggaran rumah Allah tersebut.

Ketua Yayasan Islam Bima H Muhammad bersama jajaran saat dikonfirmasi di ruangannya. Foto: Eric

Ketua Yayasan Islam Bima H Muhammad mengakui, ada sejumlah warga Penaraga yang datang mengadu dan mengeluhkan sikap ketua pengurus masjid Baitul Hamid terkait kelola anggaran Masjid Baitul Hamid .

“Mereka datang pekan kemarin, mengeluhkan sikap ketua pengurus masjid yang tidak transparan mengelola anggaran bantuan selama menjabat,” ungkapnya, Selasa (14/1).

Menurut dia, dari dasar laporan tersebut, kini pihaknya menelusuri laporan penggunaan keuangan, dengan melakukan cek langsung. Karena berdasarkan data yang ada, setiap tahun masjid tersebut mendapat kucuran dana lebih dari Rp 200 juta.

“Dana tersebut itu bersumber dari uang hasil celengan masjid, dana hasil bagi lelang tanah Yayasan Islam serta beberapa dana lain. Namun karena tidak pernah dilaporkan pertanggung jawabannya, sehingga masyarakat mengeluh,” katanya.

Salah satu warga setempat juga inisial RD menambahkan, dirinya juga menyorot keputusan ketua pengurus yang selalu membeli barang kebutuhan masjid di luar daerah. Padahal di Bima masih banyak toko yang menjual perlengkapan masjid yang bagus, serta menghemat biaya karena alasan jarak.

“Perlengkapan seperti karpet, sarung hingga kelengkapan lain dibeli luar daerah, tentu biaya operasional akan membengkak,” bebernya.

Sementara itu Ketua Pengurus Masjid Baitul Hamid H Sudirman yang dimintai tanggapan membantah semua tudingan tersebut. Kaerna selama menjabat ketua, pihaknya selalu menggelar rapat sembari memberikan laporan pekerjaan dan keuangan.

“Saya menggelar rapat itu bersama dewan pengurus masjid saja, bukan untuk semua publik. Disitu disampaikan berapa serapan dana, dan laporan kegiatan pekerjaan, beserta hasil,” tandasnya.

Sudirman mengungkapkan, sebagai bentuk transparansi penggunaan anggaran masjid. Sampai saat ini laporan pertanggung jawaban pekerjaan masih dalam tahapan pemeriksaan lapangan oleh pengurus Yayasan Islam. Jadi bisa dilihat hasil pekerjaannya, kemudian mengecek sejumlah barang yang dibelanjakan. Apakah sesuai harga, dengan objek perlengkapan.

Pihaknya mempersilahkan Yayasan Islam memeriksa dan mengaudit hasil pekerjaan, sehingga bisa diberikan keputusan ada pelanggaran atau tidak.

“Saya tidak pernah memegang uang masjid, yang pegang itu bendahara. Mengenai alasan pembelian barang kelengkapan masjid di luar daerah, bukan mencari untung. Tapi semata-mata melihat kualitas barang tersebut, terbukti sampai saat ini masih awet,” tambahnya.

*Kahaba-04

Komentar

Kabar Terbaru