oleh

Aksi Pemuda dan Mahasiswa Belo Berakhir Ricuh

-Kabar Bima-4 kali dibaca

Kabupaten Bima, Kahaba.- Aksi Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Kecamatan Belo yang menagih janji pemerintah dan menyorot soal kelangkaan pupuk, di depan Kantor Camat Belo berakhir ricuh, Rabu (5/2) berakhir ricuh. (Baca. Pemuda dan Mahasiswa Belo Tagih Janji Pemerintah)

Suasana ricuh saat aksi Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Belo. Foto: Ahyar

Aksi dimulai pukul 10.00 Wita dan dikawal aparat kepolisian itu sebelumnya berjalan aman dan masa secara bergiliran menyampaikan orasi.

Camat Belo Bambang Setiawan saat menanggapi tuntutan demonstran menjelaskan soal janji yang telah ditandatangani Wakil Bupati Bima beberapa waktu lalu. Janji itu di antaranya pembangunan infrastruktur jalan yang akan dikerjakan tahun 2020, kemudian Lapangan Desa Cenggu, Bombo Ncera sebagai tempat wisata, dan pemasangan lampu jalan di sepanjang jalan, mulai dari desa Cenggu sampai Desa Diha yang dijanjikan akan mulai dikerjakan.

Kemudian kericuhan pun terjadi saat salah seorang massa aksi naik di atas mobil, dan mengambil pengeras suara dari camat yang sedang menjelaskan soal tuntutan para demonstrasn.

Tidak terima dengan tindakan salah seorang masa aksi itu, aparat Pol PP langsung menendang massa aksi. Massa aksi pun bereaksi, adu pukul antara aparat Pol PP dengan masa aksi pun terjadi.

Aparat kepolisian yang berada di lokasi melihat kejadian itu langsung melerai kedua belah pihak. Aksi kembali dilanjutkan dan berjalan aman hingga selesai.

Sebelumnya, Koordinator lapangan Robin dalam orasinya mengatakan, saat aksi demonstrasi tahun 2019 lalu, Pemerintah Kabupaten Bima pernah berjanji akan memperbaiki infrastruktur jalan raya dan drainase, pemasangan lampu jalan, perbaikan lapangan Desa Cenggu, bantuan pembangunan pariwisata bombo ncera, dan hadirkan mobil damkar.

“Janji itu ditandatangani Wakil Bupati Bima. Tapi sampai sekarang tidak ada tanda – tanada janji itu direalisasikan,” sorotnya.

Kemudian soal pupuk sambungnya, hampir disemua kecamatan mengalami kelangkaan, termaksud di Kecamatan Belo. Harga pupuk pun sangat tinggi, padahal dalam peraturan Mentri Pertanian Nomor 1 Tahun 2020  mengenai HET, harga Pupuk per sak itu hanya Rp 90.000.

“Di lapangan harganya mencapai Rp135.000 bahkan mencapai Rp 150.000 per sak,” bebernya.

Pada kesempatan itum, massa juga mendesak Camat Belo agar segera menggelar rapat bersama KP3, distributor, Dinas Pertanian, pengecer, Kapolsek Belo dan kepala desa se-Kecamatan Belo untuk membicarakan solusi terkait masalah pupuk dan pestisida yang dijual di atas HET.

Sementara Camat Belo Bambang Setiawan saat menemui massa menanggapi, pihaknya akan mengundang KP3 dan dinas terkait untuk  melakukan rapat dan membahas mengenai tuntutan masa aksi. Demikian juga dengan sejumlah tuntutan lain, akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bima.

“Besok Kita akan panggil pihak KP3 dan dinas terkait untuk melakukan rapat bersama,” janjinya.

*Kahaba-09

Komentar

Kabar Terbaru