Taman Amahami Juga Jadi Tempat Tongkrongan Sapi

Kota Bima, Kahaba.- Ternak liar di Kota Bima berkeliaran dimana – mana. Selain kesadaran pemilik ternak yang tak kunjung sembuh, pemerintah setempat melalui dinas terkait juga sepertinya belum punya jurus jitu menyelesaikan masalah klasik ini.

Sapi saat berada di Taman Amahami menginjak dan memakan tanaman. Foto: Ist

Ternak liar seperti sapi dan kambing di Kota Tepian Air ini tidak sulit ditemukan. Selain berada di ruang – ruang publik, juga beberapa kali terlihat masuk di Kantor Walikota Bima dan luput dari perhatian Dinas Pol PP Kota Bima.

Setelah diberitahu dan gerombolan ternak keluar kantor Walikota Bima, atau tepatnya berada di depan kantor Kelurahan Penatoi yang berada di samping kantor kepala daerah tersebut, baru petugas Pol PP datang dan mengamankannya.

Nah yang terbaru saat ini, Sapi ditemukan berkeliaran di Taman Amahami Kota Bima. Sejak siang ternak tersebut leluasa memakan tanaman di taman tersebut. Ada sekitar 10 sapi yang juga terlihat memilih untuk menjadikan taman tersebut sebagai tempat tongkrongan.

Warga Kota Bima Akhyar M Nur mengaku, saat dirinya dari Kantor Bupati Bima, kemudian hendak sholat dzuhur di Masjid Terapung, melihat gerombolan sapi di Taman Amahami.

“Sapi tadi banyak, mereka menginjak dan makan tanaman di taman itu,” katanya.

Usai menunaikan kewajiban 5 waktu tersebut, dirinya masih melihat sapi, bahkan semakin banyak. Entah dari mana datangnya, jamaah Masjid Terapung itu tidak tahu. Tapi keberadaan sapi tersebut jelas sangat menganggu keberadaan taman dan pemandangan kota.

“Ya kalau bisa diamankan, sayang taman itu sudah bagus – bagus kemudian rusak karena ternak liar,” ucapnya.

Sementara itu, Kepada Dinas Pol PP yang berusaha dikonfirmasi melalui selulernya, tidak aktif.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *