oleh

Wali Murid SDN 19 Protes Anaknya Tidak Diikutkan Program Berenang

-Kabar Bima-21 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Suryadin, orang tua FH yang duduk di kelas I SDN 19 Kota Bima tak kuasa menahan marah, lantaran mengetahui anaknya ditinggal sendiri di dalam kelas oleh guru dan siswa – siswi lainnya yang berangkat mengikuti program renang di Arema Raya, Kamis (5/3).

SDN 19 Kota Bima. Foto: Ist

FH tidak diizinkan ikut pergi berenang, karena tidak membawa uang administrasi serta bekal lain. Keputusan guru tersebut pun dinilai Suryadin berlebihan, karena sangat menganggu psikologi serta mental anaknya.

Kepada media ini ia mengaku, mestinya program berenang itu diadakan hari Senin lalu. Karena try out, sehingga diundur sampai Kamis. Namun saat waktu program itu dilaksanakan, putranya jsutru tidak dibawa.

“Hanya karena tidak membawa bekal dan uang administrasi. Anak saya ditinggal di dalam kelas. Tentu ini membuat anak saya sedih, dan psikologisnya terganggu,” kesalnya, Jumat (6/3).

Karena anaknya tidak jadi berangkat, dirinya menumpahkan kemarahannya dengan menulis status pada dinding facebooknya. Bahkan sempat mencolek anggota komite sekolah setempat. Akhirnya setelah bertemu dan dimediasi oleh sekolah dan komite. Guru olahraga mengaku khilaf dan menyampaikan permintaan maaf.

Kemudian saat itu sambungnya, Kepala SDN 19 Kota Bima juga meminta agar postingannya di FB segera dihapus. Alasannya menyangkut nama baik sekolah.

“Jelas saya tidak menerima, ko’ saya justeru disalahkan dengan kondisi ini. Bukannya saya sudah legowo menerima keadaan anak saya ini,” katanya.

Suryadin mengatakan, karena peristiwa itu putranya tidak masuk sekolah dan sedang mengurus pindah ke sekolah lain. Lalu saat mengurus pindah, justeru istrinya terlibat adu mulut dengan guru setempat di sekolah.

“Kami sudah menerima proses mediasinya, tapi dari masalah ini kami justru disalahkan. Apalagi muncul keinginan kami memindahkan Fahjan ke sekolah lain,” terangnya.

Sementara itu Kepala SDN 19 Kota Bima Sri Wahyuni mengaku, FH tidak diikutkan untuk pergi berenang karena tidak membawa pakaian renang. Pihaknya pun memikirkan keselamatan siswa dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Sementara masalah administrasi, bukan masalah besar dan guru bisa memaklumi.

“Masalahnya FH ini tidak bawa pakaian renang. Sementara pakaian renang itu syarat keselamatan. Jika kami izinkan FH ikut, sementara tidak ada pakaian renang dan peristiwa buruk terjadi, justeru sekolah yang disalahkan. Ini juga harus dipikirkan orang tua, bukannya menyorot kami dengan alasan tidak jelas,” ujarnya.

Sri menegaskan, sebelum mencuat di media sosial. Dirinya juga menyorot sikap Suryadin yang membesar-besarkan masalah sepele. Padahal bisa dibicarakan baik-baik.

Mengumbar di medsos juga membuat beberapa guru di sekolahnya merasa keberatan, dan meminta postingan status tersebut dihapus. Karena merasa diserang dan nama baik sekolah disorot.

“Akibat postingan tersebut, banyak netizen yang tidak tahu persoalan, terus menyerang sekolah kami,” tandasnya.

Oleh karena itu Sri berharap, dengan adanya kejadian ini masyarakat dan terutama walimurid untuk lebih bijaksana mengambil sikap serta bermedsos. Karena sejak zaman dahulu sampai saat ini, tidak ada satupun guru yang ingin mencelakai muridnya.

*Kahaba-04

Komentar

Kabar Terbaru