122 Orang Warga Kabupaten Bima Terjangkit Demam Berdarah, 1 Orang Meninggal

Kabupaten Bima, Kahaba.- Musibah Virus Corona belum berakhir, kini warga Kabupaten Bima dihadapkan dengan penyakit lain yakni demam berdarah dengue (DBD).

Kabid Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dikes Kabupaten Bima Rifa’i. Foto: Red

Kabid Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dikes Kabupaten Bima Rifa’i menyampaikan, total warga Kabupaten Bima yang positif DBD sebanyak 122 orang. Jumlah tersebut tersebar di 18 Puskesmas Bima.

“Hanya 3 Puskesmas yang tidak menangani pasien postif DBD. Yakni Puskesmas Donggo, Langgudu Timur dan Tambora,” sebutnya, Rabu (15/4)

Kata dia, puskesmas yang paling banyak menangani pasien positif DBD yakni Puskesmas Wera yaitu sebanyak 36 orang. Kemudian Puskesmas Sape sebanyak 20 orang, Monta 16 orang, Palibelo 14 orang dan Woha sebanyak 9 orang.

Lalu, Puskesmas Langgudu 5 orang, Wawo dan Bolo masing masing 4 orang, Sanggar dan Belo masing masing 3 orang, Ambalawi 2 orang. Sedangkan Puskesmas Ngali, Parado, Madapangga, Lambu, Soromandi dan Lambitu masing masing 1 orang.

Ia berharap, kasus DBD di Kabupaten Bima segera berakhir. Untuk itu diharapkan kepada masyarakat selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan lingkungan dengan melaksanakan 3 M yakni Menguras, Menutup dan Mengubur barang bekas yang bisa menampung air hujan.

“Untuk mengantisipasi DBD, masyarakat juga harus mendaur ulang barang bekas,” ucapnya.

Dia menerangkan, dari jumlah pasien DBD tersebut, sebagian sudah dinyatakan sembuh. Sementara 1 orang dinyatakan meninggal dunia yakni warga Sape.

“DBD bisa diminimalisir apabila melakukan langkah preventif atau pencegahan dilakukan sebelum musim hujan dengan pemberantasan sarang nyamuk,” jelasnya.

*Kahaba-10

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *