Kinerja Camat dan Lurah Disorot, Teledor Maknai Imbauan Cegah Pandemi Covid-19

Kota Bima, Kahaba.- Anggota DPRD Kota Bima Sudirman DJ menyorot kinerja pemerintah kecamatan dan kelurahan yang tidak bisa memaknai imbauan Pemerintah Kota Bima soal larangan sementara waktu untuk tidak sholat di masjid, guna mencegah penyebaran Virus Corona.

Anggota DPRD Kota Bima Sudirman DJ. Foto: Eric

Pasalnya, hingga saat ini hampir di semua kelurahan tetap melaksanakan sholat berjamaah 5 waktu di masjid. Berkumpul dan beramai – ramai ke masjid. Padahal, sejak awal pemerintah telah mengeluarkan imbauan untuk melaksanakan sholat di rumah saja.

“Larangan ini bersifat sementara, guna mencegah penyebaran Covid-19. Bukan melarang selamanya untuk tidak sholat di masjid,” ujarnya, Sabtu (25/4).

Menurut Duta Partai Gerindra itu, imbauan pemerintah tersebut untuk kebaikan bersama. Karena wabah ini menular dan sangat berbahaya. Imbauan agar masyarakat menjalankan sholat di rumah semata – mata dalam rangka pencegahan.

Kata dia, masih berbondong-bondongnya warga beribadah di masjid tentu saja menandakan tidak ada perhatian jajaran pemerintah kecamatan dan pemerintah kelurahan menyikapi dan mengawal isi imbauan tersebut.

“Kalau pemerintah kecamatan dan pemerintah kelurahan dan jajarannya di bawah bisa meneruskan imbauan itu, tentu tidak ada warga yang masih sholat di masjid,” katanya.

Dengan kondis ini sambung Sudirman DJ, percuma saja Pemerintah Kota Bima mengalokasikan anggaran sebesar RP 14 miliar untuk cegah menyebarnya Covid-19, namun di sisi lain pada tingkat pemerintah kecamatan dan kelurahan teledor memaknai imbauan tersebut.

“Lantas untuk apa anggaran belasan miliar itu dialokasikan, kalau imbauan itu tidak diikuti oleh masyarakat. Akan percuma anggaran itu,” sorotnya.

Untuk itu, Sudirman meminta kepada Pemerintah Kota Bima untuk mengevaluasi kinerja jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan. Kemudian mendorong agar Tim Covid-19 yang telah dibentuk hingga tingkat kelurahan agar bekerja maksimal melakukan upaya pencegahan pandemi global tersebut.

“Sekarang bandara sudah ditutup, saking seriusnya pemerintah mencegah penyebaran wabah ini. Tapi tetap upaya pencegahan ini tidak akan maksimal sementara di tingkat kecamatan dan kelurahan masih teledor dan tidak punya taring menjalankan imbauan agar beribadah di rumah saja,” tegasnya.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Syahwan

    Sudah kami lakukan di tingkat kecamatan dan kelurahan… Cuma masyarakat masih banyak yang belum mau melaksanakan itu… Sudah kami laksanakan di tingkat kecamatan untuk meniklanjuti surat dari walikota dan MUI… Kendalanya masyarakat blm mau aja Krn masyarakat kita ya begitu tele… Kombi anggota DPRD… Klo boleh seperti Bupati Lombok timur menutup hanya azan yg di bolehkah… Ini kendala yg kami hadapi…mks saran nya pak Sudirman DJ

  2. MENO

    Perlu ada evaluasi ditingkat Camat dsn Kelurahan terkait surat Himbauan Wali Kota Bima dan MUI, Kapasitas Pak Dj adalah melakukan pengawasan pada Pemerintah Daerah Kota Bima sesuai dengan Undang-Undang Pemerimtahan Daerah kr ini menyngkut kemaslahatan bersama, wajar kalau steitmen pak Dj agar melakukan evaluasi, hal menjadi peehatian serius bagi perintah Kecamatan dan Kelurahan. Sebenarnya Pemkot Bima memgundang Pemerimtahan Kecamatan dan Kelurahan untuk.mengevaluasi hambatan terhadap surat edaeran tersebut

    • Syahwan

      Sudah kami lakukan pengawasan…coba dulu hadapi masyarakat yang begitu ngotot di lapangan… Kami sudah berapa kali rapay di tingkat kecamatan dan kelurahan…. Ini masalah Masyarakat yg belum mau mengerti dan blm ada sangsi yang di terapkan mas Meno… Coba dulu hadapi masyarakat… Mks sarannya… Kami di kecamatan bukan tidak bekerja maksimal cuma sangsi apa yg harus di terapkan ini masalah Masyarakat yg bnyk dan ngotot tetap sholat berjamaah….

  3. Syahwan

    Kita sudah beapa kali rapat soal evaluasi…. Di tingkat kecamatan dan kelurahan tetap kita lakukan sesuai edaran walikota dan MUI… Coba mas Meno berdiri depan masjid dan larang orang2 itu apa mampu… Kita hanya bisa menghimbau dan memberikan penjelasan… Krn sangki blm ada buat masyarakat… Apa ada aturan yg berani memberikan sangki… Kami bukan tidak bekerja kami bekerja di kecamatan dan kelurahan… Cuma kendala bagaimana menghadapi masyarakat yg datang di masjid… Pasti ribut itu yg kita hindari… Ya kita hny pasrah terserah masyarakat aja mau sakit atau tidak… Watak kita mas Meno… Tele Wati wau di ngoa sblm ada yang meninggal baru takut

  4. Syahwan

    Kami.di kecamatan selalu mendata setiap orang pendatang dan di laporkan oleh tim gugus…. Cuma kesadaran pribadi yang belum ada… Setiap pendatang kami datangi untuk melaksanakan isolasi mandiri… Tidak mungkin kami menjaga rumahnya setiap jam…. Masalah kesadaran itu yg blm.ada… Krn intinya blm.ada yang mati Krn Corona… Klo sudah ada baru takut… Tabeaat itu yg blm bisa di lepas oleh masyarakat kita…. Kata lain tele… Wati wau di ngoa… Kita bekerja dan memberikan pendataan setiap penduduk yg baru datang…. Coba wau pu ngoa dou ma tele… Wati wau di mtu Lao Wati PU wara ma Made ampo na Tira mas Syamsul Maarif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *