Pembagian BPNT di Kantor Camat Asakota Langgar Protokol Pencegahan Covid-19

Kota Bima, Kahaba.- Warga Kecamatan Asakota Senin siang (27/4) berbondong-bondong mendatangi kantor Camat untuk menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Suasana ramai pun terpantau di aula kantor camat setempat.

Suasana pembagian BPNT di aula Kantor Camat Asakota. Foto: Bin

Sekitar ratusan warga Kecamatan Asakota memadati aula dan halaman kantor camat. Mereka satu persatu menanti untuk menerima bantuan dalam bentuk sembako jenis beras dan gula.

Tapi, cara pembagian bantuan tersebut dan mengumpulkan masyarakat untuk menerima bantuan justru telah melanggar protokoler pencegahan Covid-19. Warga tanpa jarak duduk berdekatan, bahkan ada beberapa di antaranya yang tidak memakai masker.

Miris melihat kondisi pembagian bantuan tersebut. Di satu sisi Pemerintah sejak awal masif melakukan pencegahan penyebaran Virus Corona. Tapi di sisi lain, Kecamatan Asakota teledor memfasilitasi pertemuan dan bagi bagi bantuan dimaksud.

Warga Kelurahan Kolo Maya mengaku, dirinya datang sejak pagi untuk menerima batuan tersebut. Tapi sampai siang ini belum juga dapat panggilan.

“Iya dari tadi tunggu,” katanya.

Demikian juga disampaikan oleh Mariam, warga Kelurahan Melayu. Dirinya di data oleh RT RW kelurahannya untuk dapat bantuan itu.

“Katanya sih bantuan sembako,” terang Mariam.

Salah satu petugas BRI yang berada di lokasi dan memberikan bantuan saat dikonfirmasi enggan memberikan komentar. Kendati ia tahu protokol pencegahan Covid-19, tapi pembagian ini difasilitasi oleh pemerintah.

Sementara itu, Camat Asakota Suryadin yang berusaha di temui di kantornya untuk konfirmasi terkait warga Asakota yang ramai ramai berkumpul di aula kantor, tidak berada di tempat. Salah seorang staf nya mengaku Camat sedang keluar.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *