Sudah Hidup Memilukan, Wanita di Dara Ini Selalu Luput Perhatian Pemerintah

Kota Bima, Kahaba.- Pemerintah luput melihat kondisi Iin Arisandi. Dari sekian tahun menetap di RT 04 RW 02 Kelurahan Dara Kota Bima, wanita yang hidup di rumah lapuk nyaris roboh itu tak pernah tersentuh perhatian.

Iin dan kedua anaknya di rumah yang sudah reot dan nyaris roboh. Foto: Bin

Saat media ini berkesempatan melihat kondisi rumah semi permanen di kaki gunung Dana Traha Kelurahan Dara, Jumat siang (1/5), Iin sedang mengurus 2 jagoannya, buah hati dengan Jamaluddin.

Iin terlihat begitu menikmati pekerjaan dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, merangkap tulang punggung keluarga. Sebab, suaminya sudah setahun lebih tidak pulang karena urusan dengan pihak yang berwajib.

Kendati demikian, terpancar rasa syukurnya karena masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk merawat buah hatinya. Jabir 8 tahun, anak pertama yang lumpuh dan harus terus berada di kursi roda. Serta Abit yang baru beranjak 3 tahun.

“Maaf berantakan,” ucap Iin dengan melempar senyum dan mempersilahkan media ini untuk duduk di lantai tanah.

Rumah yang ditempati perempuan asli Kabupaten Dompu itu hanya ada satu kamar tidur. Di bagian belakang ada satu ruangan yang dimanfaatkan sebagai dapur. Dinding dalam dan depan sudah penuh dengan coretan.

Pada bagian atap, sudah banyak yang rapuh dan nyaris roboh. Jika hujan datang, tentu bocor dan menganggu keadaan Iin dan 2 anaknya yang sedang beritrahat dan tertidur lelap.

Iin bercerita, dirinya menikah dengan Jamaluddin warga asli Kelurahan Dara. Kemudian menetap di kelurahan tersebut hingga kedua anaknya lahir.

“Saya sehari – hari hanya sebagai buruh cuci, kadang sehari ada juga tidak ada. Selain itu, juga dipanggil untuk membantu meringankan pekerjaan dapur orang lain,” ungkapnya.

Sejak suaminya berurusan dengan pihak yang berwajib, Iin mengaku semakin kesulitan menjalani hidup. Ia pun kerja serabutan, yang penting bisa dapat makan dan menafkahi kedua anak – anaknya.

Soal bantuan pemerintah, Iin mengungkapkan tidak pernah dapat. Seperti PKH, Bedah Rumah dan sejumlah bantuan lain.

“Saya juga tidak tahu,” ucapnya dengan senyum.

Namun beberapa hari kemarin diakuinya, ia dimintai Kartu Keluarga oleh perwakilan pemerintah untuk mendapatkan BLT.

“Sudah saya kumpulkan, tinggal tunggu katanya,” terang Iin.

Wanita berusia 30 tahun ini nampak malu – malu menyampaikan keinginannya. Namun dengan terpaksa, ia mengungkapkan bahwa kadang muncul rasa iri ketika melihat orang lain dapat bantuan dan rumahnya dibedah. Sementara dia, hanya bisa diam dan melihat tanpa kuasa.

“Saya juga mau, apalagi di tengah hidup yang semakin sulit ini. Kalau bisa, rumah saya ini diperbaiki atau dapat program bedah rumah,” inginnya.

Iin hanya berusaha menyampaikan keinginan. Dengan harapan, apa yang diucapkan tersebut bisa didengar oleh pemerintah dan rumahnya yang nyaris roboh bisa dibedah.

Kehidupan wanita 2 anak ini pun menjadi potret kepiluan di tengah daerah yang saat ini terserang pandemi. Hidup yang susah pun semakin susah untuk dihadapi kenyataannya.

Semoga saja, yang dirasakan dan diinginkan Iin bisa menembus ruang – ruang pemangku kebijakan. Setidaknya, Iin bisa lebih nyenyak beristirahat dengan damai bersama 2 buah hatinya, tanpa kekhawatiran atap dan dinding yang akan roboh.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *