oleh

Adik Korban Jadi Saksi Kunci, Ungkap Cerita Pemerkosaan dan Pembunuhan Putri

-Kabar Bima-15 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Kasus Pembunuhan Katrina Salina (10) alias Putri, bocah kelas 3 SD yang diduga diperkosa dan dibunuh oleh PA (37), tetangganya sendiri terus di proses Unit PPA Sat Reskrim Polres Bima Kota. (Baca. Bocah di Tanjung Ditemukan Tewas Gantung Diri)

Kapolres saat konferensi pers kasus pembunuhan Putri. Foto: Deno

Untuk mengungkapkan kasus pembunuhan sadis itu, adik kandung korban dijadikan saksi kunci. Pasalnya, bocah tersebut melihat semua kejadian naas yang menghilangkan nyawa Putri. (Baca. Ada Tanda Kekerasan Pada Bocah Gantung Diri, Ini Keterangan Polisi)

Kapolres Bima Kota AKBP Haryo Tejo Wicaksono menyampaikan, awalnya Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Bima bersama ahli spikologis mendatangi dan mendekati adik kandung korban yang ada saat kejadian. Hasilnya, bocah tersebut mulai bercerita tentang peristiwa dimaksud. (Baca. Ada Kejanggalan Sebab Kematian Putri, Polisi Amankan Tetangga Korban)

“Dari keterangan adik korban, dia sedang tidur bersama korban di atas kasur dan terbangun karena mendengar suara yang menggangu tidurnya. Saat bangun, dia melihat kakaknya sedang diperkosa oleh PA,” ungkapnya, Jumat (29/5). (Baca. Terkuak Kematian Bocah di Tanjung, Hasil Visum Putri Diperkosa Sebelum Digantung)

Kemudian sambungnya, setelah diperkosa, tersangka mengambil bantal dan menyekap korban hingga meninggal. Selain itu, bocah tersebut pun melihat proses kakaknya digantung oleh tersangka.

“Karena takut, adiknya menangis setelah tersangka meninggalkan kamar kost,” terangnya.

Kata Kapolres, hingga kini tersangka masih belum mengakui perbuatannya. Namun keterangan para saksi serta pemeriksaan barang bukti, bahwa pelaku pembunuhan tersebut menduga kuat bahwa PA sebagai pelakunya.

Kini, tersangka disangkakan dengan Pasal 81 ayat (5) atau 81 ayat (1) jo pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan PERPU Nomor I tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi UU jo pasal 80 ayat (3) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman pidana mati, seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun.

“Untuk barang bukti yang diamankan sekarang dari kasus tersebut adalah tali untuk menggantung korban, kasur, bantal dan pakaian korban,” ujarnya.

*Kahaba-05

Komentar

Kabar Terbaru