Jurnalis Bima Jelajah Air Terjun Agal Sumbawa yang Eksotis

Kota Bima, Kahaba.- Air Terjun Agal yang berlokasi di Desa Marente, Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa, NTB memang beberapa tahun terakhir cukup dikenal para pecinta traveling. Ditemukan sekitar tahun 2014 lalu, air terjun bersusun tiga itu pun sering diburu karena eksotis dan keindahan alamnya yang masih sangat terjaga.

Travelling Skuad Mbojo berpose di depan Air Terjun Agal. Foto: Eric

Bagi para pecinta air terjun, Agal memang sudah tersohor. Di media sosial, jika mencari tidak sulit melihat lalu lalang foto Air Terjun Agal dengan segala keindahannya. Keberadaan Agal memang menjadi magnet tersendiri untuk ditaklukan.

Berikut Catatan Wartawan Kahaba.Net Faharudin Bin Kalman selama perjalanan jelajah Air Terjun Agal.

Merasa harus didatangi, belasan Jurnalis di Bima yang tergabung dalam Travelling Skuad Mbojo pun menyusun jadwal dan waktu yang tepat. Pun karena lokasinya yang masih berada di Pulau Sumbawa, maka tidak berpikir panjang 13 orang para kuli tinta sepakat untuk  menemui serpihan surga tersebut. Ditetapkanlah 3 hari 2 malam waktu agar bisa segera berjumpa dengan Agal.

Kamis malam, dengan bekal yang cukup, 3 mobil bergegas ke Kabupaten Sumbawa. Jelang dini hari, tiba di daerah tersebut dan melepas lelah perjalanan darat di Gudang Bulog Divre Sumbawa. Pulihkan sedikit tenaga untuk segera menempuh perjalanan menyusuri tiap jalan setapak gunung menuju air terjun.

Sekitar pukul 10.00 Wita, Jumat (17/7) para Jurnalis diantar seorang wartawan senior Sumbawa untuk memasuki wilayah Desa Marente. Lebih awal juga mendatangi kantor desa setempat dan melaporkan rencana jelajah. Juga berkoordinasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Marente, untuk bisa diantar menuju lokasi keindahan tersembunyi tersebut.

Rombongan para jurnalis saat istirahat di Pos 1 Air Terjun Agal. Foto: Bin

Pukul 13.00 Wita rombongan berangkat bersama dengan 2 orang anggota Pokdarwis setempat masing-masing Erwin dan Deki. Memulai dengan menyeberang sungai besar lalu kemudian mendaki, menapaki jalan setapak.

Erwin dan Deki pun memahami kemampuan para Jurnalis yang tidak banyak memiliki pengalaman mendaki. Membawa lewati jalur – jalur yang tidak begitu terjal. Karena melihat para wajah sudah diselimuti lelah dan pucat, kemudian sepakat untuk istirahat sejenak. Pos 1 sebentar lagi terlihat, tinggal beberapa kilometer lagi.

Beruntung rasa letih sepanjang jalan menuju Pos 1 dapat diobati dengan tingkah lucu rombongan. Selalu saja ada guyonan dan cek-cok yang harus disambut dengan tawa terbahak – bahak. Perjalanan semakin asik saja, capek mendaki dan tertawa pun menyatu.

Jurnalis saat berjalan menuju Air Terjun Agal. Foto: Bin

Sekitar 10 menit lepas lelah di Pos 1, perjalanan dilanjutkan. Jalur pun semakin menantang. Menapaki bebatuan gunung di antara pohon yang masih asri dan belum dijamah oknum nakal yang suka merusak kehidupan. Erwin dan Deki juga terlihat sangat sabar menuntun para Jurnalis melewati semak belukar. Sesekali melempar senyum dan tetap memberi semangat.

Jarak tempuh dari Pos 1 dan Pos 2 hanya sekitar 3 kilometer. Jalurnya pun tentu tidak begitu seterjal sebelumnya. Tapi pada beberapa bagian, tetap ada tanjakan yang harus dilalui dengan sangat hati – hati. Bahkan Pokdarwis memberi sebutan ada tanjakan penasaran dan terakhir bernama tanjakan putus asa. Para Jurnalis pun bisa melaluinya dengan baik.

Tulisan Pos 2 yang ditempel di pohon ukuran sedang pun terlihat dari kejauhan. Erwin yang berjalan di depan dan Deki di bagian belakang memberhentikan perjalanan. Meminta untuk istirahat sejenak dan meneguk beberapa botol air yang tersisa.

Wajah – wajah para pewarta pun sudah terlihat berbeda. Menurunkan beban bawaan di pundak dan berbaring. Beberapa di antaranya ada yang sudah pucat pasi dengan keringat sekujur tubuh. Ada juga yang memilih untuk telanjang dada, untuk meresapi sepoi angin sentuh raga yang sudah sangat letih.

Erwin pun mengakui, jika perjalanan kali ini merupakan yang berkesan baginya. Karena bisa menjumpai para Jurnalis yang kocak, membuatnya tidak pernah menahan tawa oleh ucapan dan guyonan sepanjang jalan hingga Pos 2.

Perjalanan sudah hampir 2 jam. Karena banyak yang pemula, jarak tempuh mungkin tidak selama itu. Tapi karena wajah – wajah baru, istirahat yang lebih sering menjadi solusi agar bisa tetap selamat hingga Air Terjun Agal.

Pos terakhir pun mesti dituntaskan, agar Agal bisa segera ditemui. Raga yang sudah semakin berat diangkat harus tetap mengikuti jalur terakhir. Pelan – pelan, tapi pasti. Sepanjang jalur, kesejukan aroma pegunungan, suara kicau burung juga sudah semakin terdengar. Mungkin pertanda jika tujuan akhir sudah semakin dekat. Puluhan menit kemudian, suara gemericik air tembus telinga. Ada wajah – wajah bahagia terpancar dari para rombongan.

Beberapa saat kemudian, teriakan para Jurnalis pecah, mendengar air jatuh menghantam bebatuan berbagai ukuran di bawahnya. Baru mendengar, sudah begitu girang dan bahagia. Padahal belum melihat karena masih ada beberapa langkah lagi yang harus dituntaskan.

Sekitar 2 setengah jam jelajah menemui Air Terjun Agal berhasil dilakukan. Sudah tak ada lagi kata yang bisa diucapkan untuk mengungkapkan perjumpaan dengan serpihan ciptaan Tuhan tersebut. Air terjun tiga susun itu memang mempesona. Bersih, jernih, sejuk mengaliri bebatuan di bawahnya.

Para Jurnalis saat menikmati sejuknya Air Terjun Agal. Foto: Bin

“Subhanallah, nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan,” ucap Agus, Pimpinan Media Metromini Bima.

“Amazing, Amazing, Tuhan,” ucap Eric wartawan Kahaba.net, setengah berteriak.

Sore hari di Air Terjun Agal, beragam aktivitas dilakukan. Semua tugas telah dibagi. Ada yang menyiapkan menu makan karena perut sudah tidak lagi mau berkompromi. Sebagiannya lagi membangun 3 tenda yang sudah disiapkan. Perkakas dapur ditata untuk bisa difungsikan. Hidangan pembuka racikan Aris Effendi, Chef andalan dari Travelling Skuad Mbojo pun menggoyang lidah. Setelah itu, seruput kopi di tengah hutan pun mengantar senja yang beranjak pergi.

Malam sunyi diisi dengan berdiskusi banyak hal, terutama tentang alam. Api unggun temani waktu yang sangat dingin. Erwin dan Deki pun mengungkapkan pengalaman pertama mereka tidur di Air Terjun Agal. Sebab, selama ini keduanya hanya mengantar tamu dari Turis Mancanegara, kemudian Turis Domestik dan para kru TV Nasional hanya sehari. Pergi pagi, pulang sore hari, tidak ada yang bangun kemah dan bermalam.

“Iya pengalaman pertama kami juga bisa bermalam di Air Terjun Agal,” ungkap Deki, lalu Erwin mengangguk.

Subuh hari menggigil mengusik lelap. Sebagian tubuh merapikan letak selimut agar tetap menutup kepala hingga kaki. Beberapa orang juga terbangun untuk menunaikan kewajiban Sholat. Memanjat doa agar perjalanan yang sudah selamat tiba pada tujuan, juga diberi kesalamatan dan kemudahan bisa segera tiba di rumah.

Travelling Skuad Mbojo saat berpose di depan Air Terjun Agal. Foto: Eric

Suara gemericik air menjadi intrumen alam yang begitu alami, merasuk hingga palung terdalam. Waktu terang disambut dengan suasana berbeda, di antara pohon besar dan bebatuan yang mengalir di bawahnya air yang sangat jernih. Kicau burung dan ayam hutan saling bersahutan, antar sambut pagi yang begitu sejuk.

Hidangan penutup lalu disiapkan, usai dilahap habis bergegas mandi di air terjun tingkat kedua. Dingin yang begitu menusuk raga. Hantaman air di tubuh serasa memulihkan kondisi lelah disepanjang jalan. Setengah jam bercengkrama dengan Agal, lalu secara bergantian memotret momen indah tepat di depat air terjun. Berbagai gaya berusaha ditunjukan, memberi makna jika belasan Jurnalis tidak sedikit pun menyesali bisa jelajah Air Terjun Agal yang sangat eksotis.

Sekitar pukul 10.18 Wita, Sabtu (18/7) rombongan menuju jalan pulang. Bawaan pulang pun sudah tidak seberat seperti saat berangkat. Jalur sama yang ditempuh juga tidak begitu membuat letih, karena sudah tidak banyak tanjakan. Perlahan – lahan turun menapaki jalan pulang, di antara sisa semangat dan tawa canda yang tidak pernah berhenti.

6 jam jalan pulang kembali ke Bima, untuk bertemu kembali dengan orang-orang tercinta dan bercerita tentang keindahan alam yang sangat luar biasa.

Bagian perjalanan pulang setelah menikmati Air Terjun Agal. Foto: Deno

Satu hal yang tergambar saat 3 hari 2 malam jelajah air terjun tersebut, kebersamaan dan kekompakan. Urusan masing – masing dikesampingkan, berganti dengan urusan yang harus dirasakan dan diselesaikan secara bersama-sama. Mungkin ini yang disebut persaudaraan yang sesungguhnya.

Terimakasih Air Terjun Agal, kami merasakan banyak hal dari perjalanan ini. Kami melukis kembali serpihan surga ini dengan tulisan, agar bisa dikabarkan kepada dunia, bahwa dirimu yang terselubung di tengah hutan begitu mempesona*

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *