Dikes Nilai Pernyataan Nakes Positif Covid-19 Subyektif

Kota Bima, Kahaba.- Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Bima melalui Kabid P2PL Syarifuddin menyampaikan klarifikasi terkait keluhan Nakes positif Covid-19 yang diisolasi mandiri di Puskesmas (PKM) Paruga. (Baca. Begini Cerita Nakes Positif Covid-19 yang tidak Dapat Pelayanan dari Tim Gugus Tugas)

Kabid P2PL Dinas Kesehatan Kota Bima Syarifuddin. Foto: Bin

Menurut Syarifuddin, keluhan tenaga kesahatan yang mengatakan tidak adanya pelayanan kesehatan yang maksimal selama diisolasi itu subyektif. Sebab, berdasarkan jadwan yang ditentukan, tetap diberikan pelayanan. (Baca. Tidak Dirawat Dengan Baik, Pasien Covid-19 Ribut di PKM Paruga)

“Nakes yang menyampaikan itu subyektif, pelayanan tetap diberikan,” tegasnya, Senin (3/8).

Syarifuddin mengungkapkan, dokter dan perawat sudah di SK kan dan ditempatkan di PKM Paruga. Namun ia sama sekali tidak tahu jika dokter jaga tidak ada seperti yang disampaikan nakes dimaksud. (Baca. Transmisi Lokal, Hari Ini Pasien Covid-19 di Kota Bima Bertambah 25 Orang)

Tapi jika dilihat dari dokumen foto yang ada, semuanya sudah dilakukan. Dokter dan perawat yang ditempatkan termasuk distribusi makanan semuanya sudah dilakukan.

Ia menambahkan, saat ini kesiapsiagaan menghadapi pandemi covid-19 adalah pada tenaga kesehatan. Dengan adanya protap baru dalam penanganan pasien covid-19 yakni mereka yang merupakan bagian dari Orang Tanpa Gejala (OTG), setelah isolasi 10 hari dan tidak muncul gejala maka bisa dilakukan isolasi mandiri. (Baca. Beredar Isu Tak Sedap dari Pasien Positif Covid-19 di PKM Paruga)

Disinggung bagaimana dengan virus yang ada dalam tubuh para OTG? Ia menjawab, selama masa krisis 7 hari perkembangan virus akan dipantau secara ketat, kemudian dilakukan isolasi. Apabila dalam 10 hari tetap tidak ada gejala, maka pasien tersebut telah melalui masa krisis dan virus mati. (Baca. Gejolak di PKM Paruga, Azhari: Penanganan Hasil Reaktif dan Positif Covid-19 itu Berbeda)

“Kami anggap Nakes itu paling tahu protokoler covid-19, untuk itu cukup dengan isolasi mandiri dilakukan setelah pemantauan selama masa krisis 10 hari pertama isolasi terpadu, ” tegasnya.

Syarifuddin menambahkan, penanganan pasien Covid-19 ditentukan berdasarkan tingkat gejala yang dimiliki pasien. Ada yang ringan, sedang dan berat. Tempat isolasi pun berbeda, berdasarkan tingkat gejala yang terlihat pada pasien. (Baca. Ungkapan Hati Nakes, Wajah Buruk Penanganan Covid-19 di Kota Bima)

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *