Reses di Kelurahan Jatibaru Timur Berakhir Gaduh

Kota Bima, Kahaba.- Jaring aspirasi pada kegiatan reses Anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota, Selasa (8/9) di So Oi Dadi Kelurahan Jatibaru Timur berakhir gaduh.

Suasana reses di Kelurahan Jatibaru Timur. Foto: Bin

Kegaduhan bermula saat masyarakat berebutan menyampaikan usul saran. Karena sebagian lainnya tidak merasa puas dengan tidak diakomodir untuk bicara, kegaduhan pun tak bisa dihindari. Beberapa diantaranya kemudian membanting kursi dan dilerai oleh sejumlah tokoh masyarakat yang hadir.

Agenda reses tersebut awalnya berlangsung aman dan terkendali, kendati saat sesi pertama penyampaian aspirasi masyarakat acapkali menyorot kinerja para wakil rakyat. Terutama sejumlah aspirasi pada reses sebelumnya yang tidak diakomodir pada tahun ini.

Seperti yang disampaikan Arif, ia menagih aspirasi reses tahun sebelumnya, karena hingga saat ini belum terealisasi.

“Kita minta aspal di RT 21, juga pembuatan Dam dan itu kebutuhan sangat urgen, apalagi saat ini warga sedang melakukan budidaya ikan lele. Tapi tidak ada yang terealisasi,” sorot Arif.

Ia sangat berharap kepada dewan agar bisa memprioritaskan untuk Kelurahan Jatibaru Timur. Karena selama ini, hasil reses lebih banyak masuk ke Jatibaru Barat. Karena Pokir dewan lebih banyak di Kelurahan Jatibaru Barat.

Warga lain, Sakera juga menanyakan kapan Hutan Kemasyarakatan (HKM) di kelurahan tersebut dilirik oleh pemerintah. Karena selama ini, tidak pernah disentuh oleh pemerintah.

“Kita juga meminta agar setiap bantuan untuk wilayah HKM dikoordinasikan dulu kepada pemegang izin, jangan diserahkan langsung begitu saja,” sentilnya.

Sementara itu, Lurah Jatibaru Timur Abdul Karim Salasa menginginkan agar kehadiran dewan ini juga bisa memperhatikan kondisi kelurahannya. Kenapa reses sengaja dihelat di lokasi itu, karena sebelumnya pimpinan dewan berkesempatan hadir di lokasi ini dan melihat secara langsung apa yang bisa dibangun di So Oi Dadi.

“Makanya kita minta dewan untuk melaksanakan reses di lokasi ini,” katanya.

Untuk itu, ia menginginkan agar dewan memperjuangkan Cekdam untuk menahan banjir. Kemudian akses jalan dan listrik.

Bahtiar, Ketua RT 17 juga mengkritik reses yang dilaksanakan para wakil rakyat tersebut. Sebab, sudah 3 kali dirinya menghadiri kegiatan dimaksud, tapi satupun aspirasinya tidak ada hasil.

“Reses ini buang buang anggaran saja. Kegiatan ini layarnya saja yang besar, gambarnya kecil,” kritiknya.

Menjawab aspirasi tersebut, anggota DPRD Kota Bima Syamsuddin mengutarakan, terkait usul saran dari masyarakat juga perlu dilihat pada intervensi APBD. Untuk tahun-tahun pertama, pihaknya belum bisa berbuat banyak, apalagi pada tahun ini diterpa soal Corona.

“Tapi Insya Allah Allah aspirasi selama ini akan menjadi atensi kami pada anggaran berikutnya,” tutur duta PAN itu.

Menurut dia, semua aspirasi tentu tidak bisa dipenuhi, karena keterbatasan anggaran. Apalagi saat reses begini, terdapat 41 kelurahan yang menyampaikan usul saran yang nyaris sama. Tapi sesungguhnya, dewan tetap akan upayakan.

“Jadi semua butuh proses dan proses inilah yang membutuhkan kesabaran,” terangnya.

Wakil rakyat yang lain Sukri Dahlan menambahkan, usul saran dan kritik dari warga ini tetap akan diterima dengan baik. Pihaknya juga akan memperjuangkan dengan maksimal.

“Soal Dam, ini kebutuhan yang menjadi skala prioritas, akan kami upayakan dan perjuangkan khusus,” tambahnya.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *