Pekerjaan Revitalisasi Drainase di Madawau Diduga Abaikan Kualitas

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pekerjaan revitalisasi drainase di Desa Madawau Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima diduga mengabaikan kualitas. Pasalnya, pemasangan drainase tersebut dibatasi penggunaan semen, sehingga mengakibatkan kualitas pekerjaan tidak bagus.

Pekerjaan Revitalisasi Drainase di Desa Madawau. Foto: Yadien

Warga Madawau Halik mengatakan, pihaknya menduga pelaksana tidak mengutamakan mutu, tapi mencari keuntungan sesaat untuk memperkaya diri. Terbukti, bahan material seperti pasir dan batu tidak sesuai ketentuan. Karena yang digunakan yakni pasir lumpur dan batu gunung.

“Mestinya pasir itu harus mempunyai biji dan batu harus diambil di sungai, bukan di gunung,” ungkapnya, Senin (12/10).

Pada prinsipnya kata dia, revitalitasi drainase bertujuan untuk memperlancar arus air, agar tidak terjadi genangan di sekitar aspal atau jalan raya. Namun dilihat dari realita di lapangan, justeru kegiatan tersebut akan mengakibatkan genangan air, karena drainase lebih tinggi daripada jalan raya.

Ia mengungkapkan, setelah dicek, lantai drainase kurang dari 10 cm, padahal seharusnya ketebalan 20 cm. Sedangkan bahan material yang digunakan mestinya batu khusus dengan radial 20 cm.

“Untuk lantai mereka pasang ukuran batu kerikil, padahal harus dipasang batu ukuran radial 20 cm,” terang Halik.

Parahnya lagi, pada kegiatan tersebut tidak diketahui sumber anggaran, siapa pelaksana, volume pekerjaan dan lainnya. Hal itu karena tidak dipasang papan informasi, padahal setiap kegiatan harus ada papan informasi agar publik mengetahui asal usul pekerjaan.

“Kita menilai kegiatan tersebut amburadul, karena alurnya tidak diketahui,” tudingnya.

Dia berharap kepada pengawas atau penyidik agar turun ke lapangan untuk mengecek secara langsung kondisi kegiatan tersebut.

“Penggalian fondasi tidak sesuai mutu pekerjaan, terjadi penyempitan bahu jalan, kemudian lantai sangat tipis dan lain sebagainya. Pokoknya kegiatan dikerjakan asal – asalan karena selama dipantau tidak ada pengawas yang turun di lapangan,” bebernya.

Halik menambahkan, beberapa waktu lalu pihaknya sempat bertanya penyuplai material, siapa pelaksana kegiatan. Saat itu dijawab, kegiatan revitalitasi drainase dikerjakan langsung oleh Dinas PUPR Provinsi NTB.

“Jika pihak pelaksana apatis untuk memperbaiki pekerjaan. Maka jangan heran warga akan berontak dan akan bongkar drainase itu,” ancamnya.

Sementara itu, tukang yang mengerjakan kegiatan itu Darmon mengeluh lantaran gajinya belum diberikan. Padahal pekerjaan sudah lebih 100 meter.

“Gaji baru dikasih Rp 1 juta, jika dikalkulasi dengan total pekerjaan, mestinya yang diterima sekitar Rp 5 juta,” ucapnya.

Saat ini, mereka butuh uang untuk keperluan rumah tangga. Untuk itu, dia harap agar gaji secepatnya diberikan.

*Kahaba-10

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *