oleh

Awalnya Dicibir, Sahbudin Kini Sukses Bikin Destinasi Wisata Buah Naga

-Kabar Bima-4.262 kali dibaca

Kabupaten Bima, Kahaba.- Sahbudin, warga Desa Bre Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima kini membuktikan kehebatannya menanam Buah Naga di lahan miliknya seluas 2 hektar. Sehari, pria berusia 46 itu bisa meraup omzet jutaan rupiah.

Sahbudin menunjukkan buah naga di kebunnya. Foto: Bin

Saat disambangi pekerja media di kebun Buah Naga miliknya di RT 06 RW 02 Desa Bre, Bos Naga – begitu sapaan akrabnya – menyambutnya dengan senyum dan keramahan. Kemudian para kuli tunti diajak keliling untuk melihat Buah Naga dan Jeruk yang ditanamnya mulai awal tahun 2017 lalu.

Ia bercerita, dirinya mulai menanam Buah Naga dan Jeruk pada bulan April tahun 2017. Kendati posisinya saat itu masih di Bali, beberapa temannya datang ke Bima dan mulai bekerja menanam di kebun miliknya seluas 2 hektar.

“Saya mulai berpikir untuk menanam Buah Naga pas di Bali. Waktu itu saya lihat ada teman yang tanam Buah Naga di belakang rumah. Kemudian saya sampaikan ada lahan di Bima seluar 2 hektar,” katanya.

Tidak menunggu lama, ia bersama temannya kemudian turun survei di lahannya seluas 2 hektar tersebut. Hasilnya, lahan tersebut sangat tepat untuk ditanam Buah Naga dan Jeruk.

Melihat potensi tersebut, temannya di Bali bernama Yakub, dibantu 2 orang temannya lalu membeli bibit Buah Naga dan Jeruk di Banyuwangi, kemudian ditanam di lahan tersebut.

“Ada 6 jenis bibit yang di bawa, Buah Naga, Jeruk Madu, Jambu Kristal, Jambu Air Madu, Durian dan Rambutan. Tapi yang tumbuh dengan baik, Buah Naga, Jeruk, Jambur Air Madu dan Jambu Kristal. Rambutan dan Durian tidak tahan panas,” ungkapnya.

Diakui Bos Naga, setelah ditanam hampir setengah bulan. Panen awal hanya 25 buah, namun saat panen kedua satu kuintal atau 100 kilo. Tahun berikutnya, panen sebanyak 2 kuintal.

“Pada tahun kedua tanam itu bisa sampai 10 kali panen. Bisa dapat 2 kuintal hingga puncaknya 1 ton,” terangnya.

Pria yang merantau di Bali selama 20 tahun itu mengaku, awalnya modal usaha tersebut sebanyak Rp 300 juta. Hingga berjalan sampai sekarang, usahanya tersebut sudah bisa mengembalikan modal awal.

“Alhamdulillah modal sudah kembali,” katanya.

Untuk kebutuhan pasar sambung Bos Naga, warga datang membeli. Harga awalnya sebesar Rp 20 ribu sekilo. Paling banyak dijual dengan harga Rp 25 ribu sekilo. Tapi jika sudah saat puncak panen, dijual dengan harga 3 kilo Rp 50 ribu. Warga juga datang untuk menghabiskan waktu pagi dan sore untuk duduk santai di kebun dan makan Buah Naga.

“Penjualan juga pernah sampai ke Sumba dan Bajo, dikirim atas permintaan warga di sana,” ujarnya.

Usaha yang awalnya coba-coba dan spekulasi itu tentu tidak berjalan mulus. Bos Naga mengungkapkan dirinya pernah dicibir. Karena usaha itu tidak akan berjalan mulus. Dibilang hanya menghabiskan uang dan waktu.

Namun dirinya tidak ingin mendengar ocehan warga lainnya. Berkat keyakinan dan keuletan, Bos Naga pun bisa sukses hingga pada tahun ketiga menanam buah yang berasal dari Mexico tersebut.

“Karena saya yakin bisa. Apalagi melihat tayangan televisi bahwa di Kupang Buah Naga tumbuh baik di lereng gunung, masa di lahan kebun saya tidak bisa. Sekarang, saya diakui hebat,” ucapnya disertai senyum.

Bos Naga juga menjelaskan, budidaya Buah Naga ini hanya butuh cukup air, maka akan tumbuh dengan baik. Sewaktu mulai menanam, ia pun membuat bor air untuk mengaliri Buah Naga dan Jeruk. Kendati lama kelamaan debit air semakin kurang, namun Buah Naga tetap bisa bertahan dan tumbuh dengan baik.

“Tapi jeruk berdampak pertumbuhan karena kekurangan air,” tuturnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini pohon Buah Naga yang ditanam sebanyak 700 lebih. Satu pohon buah yang dihasilkan sebanyak 15 biji. Sejauh ini pun belum ada Buah Naga yang gagal panen.

Budidaya Buah Naga dan Jeruk ini merupakan yang pertama di Bima. Bos Naga pun nampak telaten mengurusnya dengan baik. Bahkan untuk membantu pertumbuhan dan pembuahan Buah Naga, dirinya memasang lampu agar kebutuhan sinar tetap tercukupi.

“Selain butuh sinar matahari, Buah Naga juga butuh sinar lampu. Makanya kita pasang lampu jika pada malam hari,” pungkasnya.

Kini, kebun milik Bos Naga berubah menjadi agrobisnis dan destinasi wisata buah yang baru di Kabupaten Bima. Sebab, hampir setiap hari tetap saja ada kunjungan warga dari berbagai desa. Yang paling jauh warga di Kecamatan Sape, Wera bahkan Tambora.

“Kalau perhatian pemerintah sejauh ini belum ada. Tapi tidak apa-apa, tanpa pemerintah pun budidaya ini berjalan dengan baik,” tambahnya.

*Kahaba-01

 

Komentar

Kabar Terbaru