oleh

Sasentra Artfest UMMAT Road to Tanah Mbojo

Kota Bima, Kahaba.- Teater Sasentra Muhammadiyah Mataram menggelar Road to Tanah Mbojo dalam rangka pentas tunggal Teater Sasentra Artfest. Dalam Pentas Keliling Sasentra Artfest, ada 3 karya yang ditampilkan oleh Theater Sasentra yaitu, musikalisasi puisi yang berjudul Indonesia Kembali, Tarian dengan judul Batinku dan pementasan drama atau teater dengan lakon “Lombok Randu”. Ketiga karya tersebut merupakan karya murni dari anggota Teater Sasentra.

Sasentra Artfest UMMAT Road to Tanah Mbojo
Foto bersama anggota Sasentra Artfest UMMAT usai pementasan di STKIP Bima. Foto: Ist

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula STKIP Bima hari Senin malam (23/8) tersebut disambut gembira oleh civitas kampus setempat dan penonton yang hadir. Panitia kegiatan juga selama kegiatan menerapkan Prokes Covid-19, di antaranya menyediakan tempat cuci tangan, masker, Hand Sanitizer, alat pengukur suhu tubuh.

Ketua STKIP Bima Nasution saat sambutan mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang luar biasa untuk terpilihnya STKIP Bima sebagai tempat pelaksanaan pementasan tersebut.

Dirinya berharap, semoga kerjasama ini tidak hanya sebatas pementasan seni, tapi lebih dari itu seperti penelitian bersama, KKN bersama serta pertukaran mahasiswa.
Karena kebetulan juga rektor umat Muhammadiyah Mataram merupakan senior dari pasca sarjana di UNJ.

“Semoga kehadiran Sasentra di Bima bisa menjadi nutrisi bagi sanggar seni di Bima, terutama di STKIP Bima,” harapnya.

Nasution juga meminta juga anak – anak GONG 96 STKIP Bima yang bergelut dalam dunia seni dan pementasan, agar segera mengggelar kunjungan balik di Universitas Muhammadiyah Mataram.

Sasentra Artfest UMMAT Road to Tanah Mbojo
Pementasan Sasentra Artfest UMMAT di STKIP Bima. Foto: Ist

Ketua Umum Sasentra Muhammadiyah Mataram Agung Muslim menjelaskan, kegiatan Road to Tanah Mbojo ini merupakan kegiatan tahunan dengan target mengelilingi Provinsi NTB. Sebelumnya, pementasan dilaksanakan di Lombok dan di pilih tempatnya Kota Mataram.

“Selanjutnya di pulau Sumbawa dipilih di Kota Bima dengan bekerjasama dengan GONG 96 STKIP Bima,” katanya.

Agung mengaku, pementasan dengan lakon Lombok Randu menggambar sebuah cerita kekelaman Sasak yang didominasi kekuasan, penghianatan dan perjuangan.

Lombok adalah simbol perjuangan masyarakat Sasak yang diombang-ambing feodalisme, otoritarianisme, hegemoni, pragmatisme kekuasaan Bali dan Belanda saling berebut senjata menjajah tanah dan mental orang Sasak, tidak ada seorangpun yang mampu melawan. Karakter orang Sasak disematkan terjajah, tertinggal dan terbelakang.

“Dan lahirlah Guru Dane yang diharapkan mampu melawan legitimasi kekuasaan Belanda, Bali dan ketertinggalan peradaban, namun akhirnya tumbang dengan erotisme selangkangan dan penghianatan,” jelasnya.

Agung menambahkan, dari pementasan ini dirinya berharap silahturahmi tetap berjalan dengan baik. Kegiatan – kegiatan seni seperti ini bisa terus berjalan sebagai ruang ekspresi mahasiswa.

*Kahaba-01

Komentar

Kabar Terbaru