Kerusakan Hutan di Dompu Makin Kritis, Pemda Diduga Tutup Mata

Kabupaten Dompu, Kahaba.- Seiring program jagung di Bumi Nggahi Rawi Pahu, aksi pengerusakan hutan massif dilakukan. Hal itu dikeluhkan oleh seorang tokoh perempuan asal Desa Saneo, Kecamatan Woja Kabupaten Dompu, Marlia.

Kondisi hutan di Dompu. Foto: Ady

“Kerusakan hutan terjadi di mana-mana. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya penggundulan hutan,” sorotnya, kemarin.

Ia menyebutkan kerusakan hutan tidak hanya terjadi di wilayah Saneo tempat ia tinggal. Tetapi juga di seluruh wilayah di Kabupaten Dompu.

“Coba kita tengok bagaimana masifnya kerusakan hutan di Taropo, di Kecamatan Pekat atau di Hu’u sungguh memprihatinkan,” keluhnya.

Kata dia, fungsi hutan juga secara otomatis hilang berbarengan dengan maraknya aksi penggundulan hutan. Sumber mata air semakin menipis, akibat pepohonan yang sudah amblas di sekitar kantong-kantong mata air.

Demikian pula tanaman produktif yang selama ini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat untuk diambil buahnya, hanya tinggal kenangan saja. Semua hanya tinggal cerita kepada anak cucu.

“Dulu kami di Saneo sebelum ada program jagung, biasa mengambil buah kemiri di hutan. Sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah ditebang semuanya untuk menanam jagung,” ujarnya.

Demikian pula madu hutan menjadi mata pencaharian bagi warga desa Saneo kala itu. Sekarang tidak bisa lagi diambil karena pepohonan besar sudah habis.

Karena itu, ia berharap pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil sikap tegas untuk mencegah terjadinya aksi pengerusakan hutan yang lebih meluas lagi. Apalagi sesaat lagi akan memasuki musim hujan, bila tak ada ketegasan pemerintah dan aparat penegak hukum, maka aksi pengerusakan kawasan hutan semakin melebar.

Selain merusak hutan, Marlia melihat program jagung juga semakin menambah hutang petani. Berkat program jagung banyak, pihak investor maupun perbankan yang menawarkan modal usaha pertanian dalam bentuk pinjaman. Namun faktanya tidak sedikit yang tidak mampu melunasinya.

“Banyak yang tidak mampu membayar, akhirnya hutang semakin bertambah. Apalagi yang pinjam pada rentenir bunganya berlipat ganda,” pungkasnya sembari berharap pemerintah mengevaluasi program jagung di Kabupaten Dompu.

Pembukaan lahan baru penanaman jagung, berdampak penggundulan hutan dan kerusakan ekosistem hutan. Pemandangan ini hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Dompu. Foto: Ady

Sementara itu, Ketua LSM Gerilya Dompu Farid Fadlin mengungkapkan, akibat hancurnya sejumlah kawasan hutan yang menjadi hulu sungai Rababalaju, maka sudah dipastikan sejumlah wilayah akan berdampak banjir bandang. Seperti Lingkungan Pelita, RSUD Kelurahan Bada. Lingkungan Magenda, Soriwono Kelurahan Potu. Kelurahan Karijawa, Kelurahan Simpasai, Kandai dan Desa Wawonduru.

”Jadi warga Dompu harus bersiap-siap menjelang musim hujan datang. Pastinya, banjir bandang telah mengintai dengan rusaknya sejumlah kawasan hutan yang menjadi penyangga selama ini,” bebernya.

Tengok saja disekitar Sori Kuta Desa Manggenae Kecamatan Dompu hingga keperbatasan Bima dan Dompu. Hutan lebat yang menjadi kebanggaan warga Dompu hancur dibabat. Tidak ada upaya pihak pemerintah dan masyarakat untuk menghentikan aksi oknum masyarakat yang membabat habis-habisan kawasan hutan tersebut.

Kata dia, pemandangan yang bisa disaksikan dijalan lintas Bima-Dompu kiri-kanan jalan habis dibabat. Kayu-kayu yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun lalu dibabat dan dibakar habis. Bahkan terlihat, telah dibuatkan jalan khusus yang melingkari penunungan yang masuk dalam kawasan hutan tersebut.

”Negara seolah tak peduli lagi, padahal kejadianya di depan mata. Ironisnya lagi, pemerintah membalut aksi pengerusakan hutan dengan menjalin kemitraan dengan masyarakat tertentu,” ungkapnya.

Pantauan media ini, diwilayah Dompu hampir semua kawasan hutan telah gundul. Sebut saja, seperti di Kawasan hutan Teka Ndahu Kecamatan Hu’u yang di dalamnya terdapat Pos KPH habis dibabat dan dibakar oleh oknum masyarakat. Padahal kawasan hutan disini merupakan ikon pariwisata dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.

Padahal, kawasan hutan ini dulunya menjadi lokasi rehat para touris mancanegara yang melancong ke Lakey Hu’u tak tersisa lagi. Pemandangan yang bisa disaksikan hanyalah hutan yang botak dan sisa-sisa pembakaran.

Begitu juga kawasan hutan di jalur jalan nasional mulai dari perbatasan Bima-Dompu di bagian timur hingga perbatasan Dompu-Sumbawa di bagian baratnya. Semua meranggas akibat dibabat dan dibakar.

Apakah peran aparat yang berwenang yang digaji negara untuk menjaga hutan dinegeri ini. Sepertinya belum ada upaya yang kongkrit untuk mencegah aksi perladangan liar. Karena diyakini mereka mengetahui dan melihat langsung perladangan liar ini dan tak ada upaya untuk menghentikannya.

*Kahaba-09

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *