FPRB Sosialisasi Pengolahan Air Hujan untuk Mitigasi Bencana di SMPIT Insan Kamil

Kabar Kota Bima120 Dilihat

Kota Bima, Kahaba.- Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Mbojo Matenggo Kota Bima menggelar sosialisasi pengelolaan dan pemanfaatan air hujan untuk mitigasi bencana di SMPIT Insan Kamil, Sabtu (17/9).

FPRB Sosialisasi Pengolahan Air Hujan untuk Mitigasi Bencana di SMPIT Insan Kamil - Kabar Harian Bima
Sosialisasi pengolahan air hujan untuk mitigasi bencana yang digelar FPRB Mbojo Matenggo Kota Bima di SMPIT Insan Kamil. Foto: Bin

Kepala SMPIT Insan Kamil Yusiran saat sambutan mengatakan, ini menjadi kehormatan untuk sekolahnya karena menjadi pilihan FPRB untuk digelarnya kegiatan dimaksud.



“Ini menjadi bentuk perhatian yang luar biasa, semoga kita bisa terus bersinergi dengan baik,” harapnya.

Diakui Yusiran, kondisi air di sekolahnya memang perlu penanganan khusus. Dan kehadiran forum ini tentu saja akan menambah pengetahuan baru untuk pemanfaatan air hujan, agar bisa digunakan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Semoga ilmunya dari forum ini dapat kami maksimalkan,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Harian FPRB Mbojo Matenggo Kota Bima Anwar Arman saat sambutan menjelaskan, forum ini terbentuk sejak tahun 2015 lalu dan sekarang masih aktif melaksanakan program sosialisasi dan penanganan mitigasi bencana.

Baca:   3 Hari Gotong-Royong, Ini Rekomendasi FPRB Mbojo Matenggo untuk Gubernur dan Walikota

“Alhamdulillah FPRB intens melaksanakan sosialisasi dan SMPIT Insan Kamil menjadi salah satu lembaga pendidikan yang dipilih,” ujarnya.

Menurut Anwar Arman, saat ini Kota Bima krisis air bersih. Jika musim kemarau tiba, tidak sedikit wilayah di Kota Bima yang kekurangan air. Artinya, kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak, agar Rahmat Allah SWT yang menurunkan hujan bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Jadi air itu tidak hanya di bawah tanah, tapi air hujan juga bisa diolah untuk dimanfaatkan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan diminum,” terangnya.

Untuk itu, ia berharap dari sosialisasi ini, jajaran guru dan siswa SMPIT Insan Kamil bisa menyimak dengan baik seluruh rangkaian sosialisasi agar bisa bermanfaat dan diimplementasikan untuk pemanfaatan air hujan dalam kehidupan.

Pemateri sosialisasi Imawan Muslimin dalam pemaparannya menjelaskan, sejauh ini hujan masih dianggap sebagai bencana. Karena setiap hujan turun, yang dipikirkan adalah banjir datang. Padahal Allah SWT menurunkan hujan sebagai rahmat dan keberkahan.

Baca:   Digelar Rakor Sinergi Perhutanan Sosial dalam Mitigasi Bencana di Kabupaten Bima dan Kota Bima

“Kebutuhan air bersih seiring waktu terus meningkat, di sisi lain ketersediaan air berkurang,” ungkapnya.

Kata Imawan, Kota Bima menjadi salah satu daerah terpanah di Indonesia, kekeringan air bersih terus bertambah dibeberapa wilayah. Maka jika hujan tidak dimanfaatkan dengan baik, sumber air untuk kebutuhan hidup pasti akan habis.

Sementara selama ini sambungnya, persepsi umum mengatakan, air hujan itu kotor dan tidak layak digunakan, bahkan untuk mencuci pakaian sekalipun, tidak layak. Padahal air hujan itu bisa dimanfaatkan dipakai untuk menyuburkan tumbuhan dan minuman.

“Nah melalui sosialisasi ini, kami ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya air hujan itu jika diolah layak diminum dan dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Imawan juga menuturkan, pengelolaan air bersih merupakan bentuk nyata mitigasi bencana. Air hujan bisa dielektrolisasi dan dimanfaatkan menjadi air bersih dan air minum yang berkualitas, dengan PH atau derajat keasaman sebesar 9 plus.

Baca:   Eksen FPRB Mbojo Matenggo, Gotong-Royong di 41 Kelurahan

Selama ini, dirinya melihat kondisi Kota Bima ketika hujan akan terjadi banjir, kemudian jika kemarau selalu kekurangan air. Sementara di sisi lain, 90 persen lebih warga Kota Bima menggantungkan kebutuhan air dari sumur bor.

Mengenai cara kerjanya, Imawan membeberkan, air hujan yang turun ditampung menggunakan tandon. Baru kemudian dielektrolisasi menggunakan aliran listrik untuk memisahkan ion, dan menghasilkan air yang punya PH tinggi dan PH rendah.

“Peralatannya tidak menghabiskan banyak biaya, sekitar Rp 10 juta untuk paket lengkap. Seperti tandon, pipa, talang, dudukan tandon, box, titanium dan adaptor,” sebutnya.

Imawan menambahkan, air hujan yang dielektrolisasi tersebut juga punya banyak khasiat dan mengobati sejumlah penyakit. Sebab air hujan tidak memiliki bakteri.

*Kahaba-01

FPRB Sosialisasi Pengolahan Air Hujan untuk Mitigasi Bencana di SMPIT Insan Kamil - Kabar Harian Bima
Ketua Harian FPRB Mbojo Matenggo Kota Bima Anwar Arman saat menyampaikan sambutan. Foto: Bin

Komentar