oleh

Mendikbud: 2 Januari KBM Aktif, Pelajar Kota Bima Boleh Sekolah Tanpa Seragam

-Nasional-35 Dilihat

Kota Bima, Kahaba.- Saat meninjau infrastruktur pendidikan di Kota Bima yang diterjang banjir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Muhajir Effendy menyampaikan beberapa hal.

Mendikbud: 2 Januari KBM Aktif, Pelajar Kota Bima Boleh Sekolah Tanpa Seragam - Kabar Harian Bima
Mendikbud saat meninjau infrastruktur pendidikan usai banjir di Kota Bima. Foto: Hum

Antara lain pada tanggal 2 Januari 2017 sekolah-sekolah harus sudah memulai program kegiatan belajar mengajar (KBM). Kemudian kegiatan pembersihan sekolah-sekolah harus cepat diselesaikan.



“Tanggal 2 Januari siswa harus mulai belajar. Bagi para siswa yang belum memiliki seragam sekolah, bisa sekolah menggunakan pakaian seadanya atau tanpa seragam,” ujarnya melalui siaran pers yang disampaikan Plt. Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Bima, Syahrial Nuryadin.

Baca:   Partai Demokrat NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kota Bima

Mendikbud juga meminta agar para orangtua tetap menjaga dan mengawasi kesehatan anak-anaknya agar tidak terpapar penyebaran penyakit pasca banjir. Penanganan kerusakan sarana dan prasarana pendidikan di Kota Bima akibat banjir bandang juga akan dibantu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada Kamis pagi (29/12), Mendikbud didampingi Walikota Bima M. Qurais H. Abidin juga mengunjungi SMPN 1 Kota Bima dan menyerahkan bantuan berupa seragam sekolah bagi siswa terdampak banjir.

Baca:   PSMTI Salurkan Bantuan Korban Banjir di Woha

“Bantuan diterima secara simbolis oleh Walikota untuk diserahkan kepada para pelajar,” katanya.

*Kahaba-01/Hum


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

  1. Bagaimana mau sekolah, sekolah nya saja masih tergenang dan sampah menggunung, pemerintah hanya peduli membersihkan sekolah yang ada di jalan utama kota, sedangkan sekolah yang terkena banjir lebih parah dan akses masuknya lewat jalan kecil tidak tersentuh sama sekali, ingin mengandalkan guru dan warga sekitar tetapi kebanyakan mereka pun ikut tertimpa bencana