oleh

Sarjan, Mudik Jalan Kaki Jakarta-Bima (2), Hampir Dipatok Ular Cobra di Pantura

Sarjan menghabiskan dua kali makan sahur masih di wilayah Jakarta. Dia tidak sempat mencatat diari perjalanannya ke dalam buku notes kecil, kecuali hanya mengabdikan beberapa momen perjalanannya dengan kamera gawai. (Baca. Sarjan, Mudik Jalan Kaki Jakarta-Bima (1), Lolos Tes Awal Dua Preman)

Sarjan, Mudik Jalan Kaki Jakarta-Bima (2), Hampir Dipatok Ular Cobra Di Pantura - Kabar Harian Bima
Sarjan (kiri) dengsn h sofwan saat bertemu di unram mataram, rabu kemarin. Foto: ist

Sehabis Lebak Bulus dia menaklukkan jarak pendek 7,67 km ke Pasar Minggu. Dari Pasar Minggu dia ke Kalimalang, yang jauhnya 8.8 km menyusuri jalan inspeksi Kalimalang. Dia kemudian ‘menembak’ Bekasi, lokasi yang jaraknya 6,2 km, Sebagian pakaian yang dia bawa karena dianggap memberatkan terpaksa diberikan sebagian kepada pemulung di Bekasi.



Meninggalkan Bekasi dia menuju Tambun, 11 km jauhnya, terus ke  Cikarang dengan tambahan jarak 18,9 km. Setelah Cikarang dia ke Karawang menapaki jaraknya 39,2 km, Sarjan sudah tidak  hafal lagi nama-nama daerah yang dilaluinya secara terperinci. Yang pasti setelah Karawang kakinya mengarah ke Subang, sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan (ibu kota) Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.

Ketika memasuki Kabupaten Subang Jawa Barat, Sarjan bertemu dengan dua warga Jawa Barat yang juga sedang mudik berjalan kaki. Namun mereka merupakan warga di daerah itu. Jadilah Sarjan berjalan sendiri menyusuri Pantura di bagian Subang. Berjalan tanpa bekal lampu senter sama sekali. Tetapi dia mengakui cahaya masih terang hingga menjelang tiba saatnya dia harus mengakhiri perjalanannya pada pukul 22.00 WIB setiap hari.

Di Pantura inilah dia hampir celaka. Saat menyusuri jalan, tiba-tiba ada seekor ular Cobra. Hampir saja dia dipatok. Untung matanya masih awas di antara keremangan malam dan mendengar desis binatang melata itu.

Untuk menginap, jika masih di wilayah kota, Sarjan memilih tempat tidur yang dirasa cukup aman melepaskan lelah. Pada saat menginap darurat seperti ini, dia menikmati  makan sahurnya dengan  roti atau biskuit.

Saat kemalaman di jalur Pantura dia biasa bermalam di saung dan pondok kecil yang banyak berdiri di tepi jalan raya yang tidak jauh dari  sawah penduduk. Ya, sejenis gubuk kecil cukup baginya membaringkan badan menunggu pagi. Sebab sehari dia sudah mematok hanya boleh berjalan selama 16 jam saja karena pada pukul 22.00 WIB dia harus istirahat memulihkan stamina. Pagi hari pukul 05.00-06.00, dia sudah mulai berjalan lagi.

Pada tiga hari pertama perjalanan kakinya bengkak karena mengenakan sepatu. Pinggir-pinggir kakinya lecet. Tidak ada pilihan lain. Dia beralih menggunakan alas kaki sandal.  Dia juga menyaksikan di sepanjang jalan di Subang berjejer tempat karaoke di gubuk-gubuk yang di belakangnya tampak areal persawahan,

Sarjan menghabiskan waktu 2 hari “menaklukkan” jarak di Kabupaten Subang ini. Kabupaten ini cukup luas dengan 30 kecamatan pendukungnya. Dia sempat menikmati nebeng di atas mobil tronton saat melintas jalan raya utama kota ketika hari sudah sore. Anak-anak bermain bola di malam hari ketika dia kembali berjalan kaki lagi di kota ini sempat dia abadikan melalui video.

Dari Subang dia bergerak ke selatan melintasi Sumedang, menempuh jarak 56 km dan sempat memotret kantor bupatinya. Sasaran berikutnya, Kota Bandung. Jarak Kota Sumedang dengan Kota Bandung 46,7 km. Dia mengatakan, kota ini baru bisa dijangkaunya setelah menghabiskan waktu perjalanan antara 5-6 hari sejak dari Jakarta. .

“Saya sudah tidak ingat lagi, tapi diperkirakan antara 5-6 hari,” katanya.

Dari Bandung dia menyusur ke timur, Jawa (Tengah dan Timur). Di salah satu kota antara dua provinsi ini, Sarjan menemukan lembaran uang Rp 2.000. Mungkin dari sisa uang parkir yang tercecer. Dia  beberapa kali menemukan recehan lembaran uang kertas tersebut. Dia hitung jumlahnya sampai Rp 20 ribu. Uang itulah yang dia pakai naik angkot antarkecmatan jika kakinya sangat kecapean melangkah.

Dia berjalan melintasi Brebes yang terkenal dengan bawangnya, menempuh jarak 161,64 km. Dari Brebes dia ke Bumiayu yang jaraknya 51,5 km. Dari Bumiayu  dia tiba di Yogyakarta berjarak 209,5 km  setelah menghabiskan waktu sekitar 3 hari setelah meninggalkan Bandung. Saat di Yogyakarta, dia sempat kehabisan duit di kantong. Tidak ada pilihan lain, ATM pun disambangi.

Menurut Sarjan, selama dalam perjalanannya dia tidak pernah diperiksa. Mungkin juga petugas Gabungan Gugus Tugas Covid-19 hanya memfokuskan diri memeriksa kendaraan mobil saja, orang yang sedang mudik berjalan kaki tidak menarik perhatian mereka. Bukan hanya tidak pernah diperiksa, melainkan juga dia tidak pernah melihat pos ‘check point’’ seperti yang banyak disiarkan di layar kaca. Boleh jadi pos-pos itu berada di pintu masuk-keluar jalan tol. Sementara Sarjan merambah jalan arteri (non-tol).

“Mungkin juga pemeriksaannya dilakukan pada saat sepi, saat saya tidak melintas,” imbuh Sarjan.

Dari Yogyakarta dia bergerak menuju Sragen yang jaraknya  101,6 km. Di sepanjang jalan yang dilalui, dia menyaksikan sejumlah truk raksasa sedang istirahat. Di sebelah kirinya tampak sawah sejauh mata memandang dengan tanaman padi menghijau.  Dalam perjalanan menuju  Ngawi yang jaraknya 64,4 km lewat Jl. Ngrambe Gendingan, pada.malam hari dia melintas di tengah hutan daerah Ngawi yang diabadikannya melalui video. Jarak Ngawi-Madiun 41 km. Dia sempat mengabadikan kampus Pondok Pesantren Modern Putri Gontor di Ngawi yang terletak di sebelah kanan arah jalannya.

Dia sempat mampir mencuci kakinya di salah satu air sungai yang bening seperti terlihat pada fotonya. Tetapi tidak dijelaskan di daerah mana. Di Madiun ada papan bicara yang menunjuk ke arah mana Sarjan akan melangkah. Di situ tertera, Mojokerto 105 km, Surabaya 140 km, Pasuruan 190 km, dan Probololinggo 210 km. Dia memilih ke Surabaya.

Dari Madiun ke Jombang sejauh 102,7 km. Lalu dari Jombang ke Surabaya menempuh jarak 81 km. Sarjan mengambil jalan selatan dari Surabaya menuju Jember yang terbilang jauh, 203, 9 km. Dari Jember dia lurus ke timur menuju Banyuwangi, menapaki jarak 103,1 km.

Menjelang tiba di Kota Banyuwangi pada malam hari, di jalan di daerah pegunungan di perkampungan ada pemeriksaan yang ketat, tetapi dia lolos karena sebaga pejalan kaki.

Dia sudah tidak ingat lagi di kota-kota mana saja bermalam dan makan sahur. Namun yang pasti, dia menginap di kota ujung timur Pulau Jawa ini dan makan sahur. Keesokan harinya, pukul 10.00 WIB dia baru menyeberang dengan fery di Ketapang Banyuwangi untuk sampai di Gilimanuk, Bali  (Bersambung).

*Penulis M Dahlan Abubakar -Wartawan Senior, Akademisi, Penulis Buku, Putra Bima dan Tinggal di Makassar


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Terbaru