Hilirisasi Produk Bawang Merah Sebagai Resolusi Konflik Desa Ngali-Renda

Oleh: Muhammad Dzulfikar

Di tinjau dari perspektif geopol atau geografi politik tentang keberadaan Indonesia, mengindikasikan posisi Indonesia yang berada tepat dibawah garis khatulistiwa atau garis equator menempatkan Indonesia dalam wilayah tropis, hal ini memberikan konsekuensi mutlak, yaitu keberadaan negara yang hanya merasakan dua jenis musim : kemarau dan penghujan.

Muhammad Dzulfikar

Muhammad Dzulfikar

Sebagai akibat dari garis equator itu, maka potensialitas akan keberagaman vegetasi atau tanaman-tanaman menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Dalam wacana yang sering di dengungkan bahkan telah di kultuskan oleh penerus-penerus bangsa (baik siswa maupun mahasiswa) sekarang yaitu Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya.

Tetapi, ada satu hal yang menjadi kendala Bangsa sekarang dalam upaya mengekplorasi dan mengeksploitasi, yaitu tidak adanya akselerasi dari sumber daya manusia. Padahal persaingan antar Bangsa-Bangsa sekarang yaitu persaingan yang bersifat substansial, yaitu persaingan SDM nya masing-masing. Persaingan ini memberikan kontribusi besar bagi setiap bangsa dalam prospek kemajuannya.

Bima adalah salah satu daerah yang berada dibawah payung NKRI. Daerah secara adiminstratif adalah manifestasi dari berbagai sub-sub sistem yang membentuk sistem besar atau daerah tertentu. Khusus daerah Bima atau sistem sosial Bima, ada dua sub-sistem yang akan menjadi bahan analisis di tulisan ini, yaitu desa Ngali dan Renda.

Desa ini memiliki potensi agriculture yang sangat memadai, karena produk pertaniannya (bawang merah) diasumsikan memiliki kualitas terbaik. Terbukti bawang merah asli Bima telah menjadi idaman bagi masyarakat Indonesia.

Hal ini berdasarkan pernyataan Sugit, kualitas bawang merah asal Kabupaten Bima mendapat respon positif dan sangat diminati di pasaran Jakarta. Para pembeli bawang di Jakarta lebih memilih bawang merah asal Bima, lantaran memiliki kualitas terbaik, bahkan diatas kualitas bawang produksi petani di Brebes. “Bawang merah asal Bima cukup diminati, karena rasa dan baunya yang enak,” kata Kadivre Bulog NTB, Sugit Tedjo Mulyono di Mataram, Minggu (5/7/2015).

Daerah Bima secara sosiologis memiliki sistem sosial yang dinamika kehidupan masyarakatnya cukup rumit. (secara konseptual manifestasi dari manusia atau masyarakat dalam suatu wadah yang melakukan interaksi dan komunikasi itulah yang di sebut dengan sistem sosial)

Setiap sistem sosial memiliki potensi atau benih-benih konflik. Secara defenitif, konflik merupakan pertentangan antar dua kelompok, baik pertentangan sosial, ekonomi, budaya, politik dan agama atau keyakinan, serta ideologi. Sistem sosial Bima kekinian telah menjadi magnet bagi para pemburu berita di awal abad 21 sekarang.

Hal ini dikarenakan, Bima mengalami dinamika konflik yang cukup dinamis atau terjadi dis-integrasi antara sub-sub sistem. Padahal dalam paradigma fakta sosial, khususnya teori struktural-fungsional dari talcott-parson menjelaskan “bahwa sistem sosial memiliki kecenderungan untuk terjadi equilibrium atau keseimbangan”. Tetapi gagasan tersebut tidak relevan untuk menjelaskan fenomena sosial di Bima yang sering terjadi konflik, khususnya antara desa ngali dan renda.

Dalam perspektif psikologi sosial, konflik dalam suatu sistem sosial terjadi, karena diyakini secara psikis, bahwa manusia pada umumnya mencoba melakukan atau berbuat sesuatu, ketika diperhadapkan dengan kondisi waktu yang kosong atau luang (mencoba mengisi waktu kosong dengan melakukan sesuatu).

Jadi, untuk menjelaskan masyarakat Ngali dan Renda yang sering terjadi konflik atau pertentangan, maka penulis meyakini lebih relevan menggunakan perspektif psiklogi sosial ini untuk memahami dinamika konflik dalam sistem sosial masyarakat Bima.

Kenapa perspektif tersebut diyakini penulis relevan? karena, berdasarkan analisa metodologi empiris-positivistik dari penulis, masyarakat Ngali-Renda konflik, dikarenakan adanya situasi dimana masyarakat mengalami kekosongan kegiatan akan ruang dan waktu dalam rentan waktu tertentu, dan masyarakat pun mengisi waktu tersebut hanya untuk konflik.

Situasi tersebut hadir, ketika situasi pasca panen bawang-merah, masyarakat antar dua desa tersebut melakukan konsensus untuk mengadakan perang. Perang akan berakhir untuk sementara waktu, dikarenakan waktu untuk memulai kembali prosesi menanam bawang telah tiba.

Situasi ini dalam sejarah peradaban Bima telah menjadikan sesuatu yang menjadi kebiasaan masyarakat ke-dua desa tersebut, dan telah menjadi budaya yang siafatnya mengakar dalam kehidupan masyarakat pasca panen bawang merah. Perspektif sosiologi, budaya tersebut telah menjadi gaph sosial atau batasan sosial dalam sebuah sistem sosial.

Jadi, budaya ini dalam kerangka normatif dianggap sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai nilai yang melekat pada falsafah negara Indonesia, yaitu Pancasila. Budaya ini harus di dekontruksi agar pola prilaku atau budaya masyarakat Ngali-Renda yang tidak sehat dapat diatasi. Peranan dalam upaya memperbaiki kondisi harus dilakukan oleh berbagai elemen, yaitu aktor, instansi negara (Pemda Bima), mahasiswa, dan LSM, sehingga bisa terjadi transformasi budaya yang di cita-citakan oleh negara. Budaya yang awalnya perang atau konflik mampu ber-transformasi menjadi budaya yang memiliki etos kerja tinggi, inovatif, dan kreatif.

Ketika masyarakat memiliki budaya yang etos kerjanya tinggi, kreatif, dan inovatif maka tugas Pemda Bima selanjutnya harus mampu menfasilitasi dan mengarahkan masyarakat Ngali-Renda untuk mengubah dari komoditi bawang merah mentah menjadi komoditi bawang merah jadi atau hilirisasi.

Hilirisasi bawang merah yang dimaksud penulis adalah melakukan penggorengan bawang merah sehingga menjadi bawang goreng yang siap dikemas dalam plastik ukuran tertentu. Produk jadi tersebut bisa dipasarkan diberbagai daerah di Indonesia lewat bantuan pemda Bima.

Penulis yakin masyarakat Ngali-Renda ketika hal di atas bisa direalisakan sekarang, maka nilai yang bersifat materil, berupa PAD Pemda Bima, dan ekonomi masyarakat akan meningkat, sedangkan nilai yang bersifat non-materil berupa terintegrasinya masyarakat antar kedua desa tersebut bisa dicapai atau terjadinya keseimbangan sistem sosial, karena waktu yang luang tadi yang awalnya di isi dengan konflik, sekarang diisi dengan kreatifitas masyarakat dalam pengolahan bawang goreng. Konsep hilirisasi bawang merah ternyata bisa sebagai resolusi konflik masyarakat Ngali-Renda !!!

Haruskah ada perubahan ???

*Penulis juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Indonesia

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *