Gurita Narkoba Membahayakan Generasi

Oleh: Rahmania, S.Psi

Ilustrasi

Peredaran dan penggunaan narkoba kian hari kian meresahkan. Penggunanya pun semakin bervariasi. Mulai dari Ibu Rumah tangga, remaja usia produktif hingga anak-anak. Tidak  sedikit mereka yang bekerja pada bidang pemerintahan seperti legislatif, bahkan tidak menutup kemungkinan beberapa oknum dari pihak kepolisian menjadi pengguna dan menjadi agen narkoba. Sungguh pekerjaan yang berat bagi semua pihak, sebab gurita narkoba kiat melilit semua kalangan dan jumlah semakin bertambah.

Upaya memberantasnya narkoba seperti tak ada pengaruh sama sekali terhadap semua kalangan. Berbagai upaya telah di lakukan. Seperti recovery mental bagi pecandu, edukasi-edukasi di sekolah-sekolah, kampus- kampus, lembaga, bahkan di tengah-tengah masyarakat. Namun tidak bisa memutus mata rantai pengguna narkoba. Baik di tingkat lokal hingga nasional.

Bagaimana Narkoba di Bima?

Di daerah Bima sendiri penggunaan narkoba kian hari kian meresahkan. Korbannya para remaja usia sekolah hingga ibu-ibu. Terakhir disinyalir 27 persen dari pengguna narkoba adalah mereka usia sekolah. Sungguh kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah melakukan penyuluhan bahaya narkotika bagi para remaja usia sekolah. Dengan tujuan agar remaja bisa mengetahui dampak dari penggunaan narkoba. Sehingga harapannya mampu menurunkaan angka pemakai narkoba pada remaja usia pelajar.

Namun pertanyaannnya adalah, apakah dengan upaya penyuluhan tersebut menurunkan angka penggunaan narkoba pada remaja usia sekolah? Barangkali ada, tapi tidak signifikan. Sebab terjadinya penyalahgunaan pada usia remaja terjadi karena beberapa faktor. Ada yang menggunakan dan mengedarkan barang tersebut dengan alasan memenuhi kebutuhan ekonomi. Sebab himpitan ekonomi memaksa mereka terjerat pada barang haram ini, apalagi dengan keuntungan yang cukup menggiurkan.

Di kalangan remaja, penyebabnya karena pelarian masalah seperti stress, kondisi keluarga yang tidak stabil, putus asa terhadap masalah yang mereka alami. Atau awalnya hanya mencoba agar diterima oleh lingkungan tempat bermain (eksistensi). Bisa juga digunakan karena dapat meningkatkan stamina seperti yang dilakukan oleh para artis-artis ternama baik di dunia maupun di Indonesia.

Dan yang paling penting adalah lemahnya aqidah yang dimiliki oleh masyarakat, sehingga memberi dampak buruk pada kehidupan ummat. Ummat tidak lagi merasa bahwa hidupnya di bawah pengawasan Allah SWT, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Kemudian pengasuhan keluarga yang nihil menanamkan nilai dan norma-norma agama pada anak.

Keluarga adalah unit terkecil yang memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter dan konsep diri pada anak. Sehingga didapati anak memiliki cacat kepribadian dan identitas diri. Semisal anak kurang mendapatkan rasa dihargai, kurang mendapatkan kepedulian, kehangatan dari orangtua sehingga mereka berusaha mencari dan mendapatkannya dari lingkungan mereka.

Buruknya komunikasi, dan kontrol orangtua terhadap mereka yang lemah. Dalam hal ini Orangtua pun wajib memilih lingkungan bergaul yang baik untuk anak-anak. Walau orangtua tidak ikut aktif dalam lingkungan tersebut namun orangtua wajib memberikan pandangan seperti apa kriteria lingkungan yang baik untuk bergaul. Karena bagaimanapun orangtua memiliki peran yang sangat besar dalam kesuksesan kehidupan anak. Baik buruknya tergantung pada didikan orangtua.

Seperti dalam Hadist Rosulullah SAW, “Didiklah anakmu dengan 3 perkara yaitu mencintai nabi kaalian (Muhammad), mencintai Ahlul baitnya, dan membaca al-Qur’an.”

Sebab anak terlahir fitrah, orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Kemudian faktor lain maraknya kasus narkoba, disebabkan oleh kondisi masyarakat yang permissif. Kehidupan masyarakat dengan siatem kapitalisme mengkondisikan masyarakat untuk hidup permisif dan individualistis. Masyarakat cenderung cuek dengan segala yang terjadi dalam lingkungan nya. Apa yang menimpa oranglain selama tidak menimpa dirinya bukanlah menjadi bagian dari masalah hidupnya. Sementara Islam mengajarkan bahwa muslim seperti satu tubuh. Apabila satu bagian tubuh merasa kesakitan maka bagian yang lainpun ikut merasakan.

Ini menunjukan bahwa Islam mengajarkan ummatnya peduli antara satu dengan yang lainnya. Namun kondisi maayarakat sekarang sangatlah jauh dari ajaran Islam tersebut. Masyarakat telah membentuk kehidupan individualis di antara mereka. Yang berdampak pada buruknya tatanan kehidupan sosial.

Kemudian abainya negara dalam penanganan kasus narkoba. Terlihat pada lemahnya hukum yang ada di negeri ini. Mereka yang tertangkap menggunakan narkoba tidak dianggap sebagai kasus kriminal, melainkan hanya sebagai korban seperti orang sakit. Negara hanya memberi penanganan untuk melakukan rehabilitasi pada mereka. Sehingga perlakuan ini menyebabkan tidak ada efek jera pada pemakai narkoba tersebut.

Pemberantasan narkoba akan bisa dilakukan ketika semua pihak bergerak aktif. Tidak hanya sebatas slogan pemberantasan. Mulai dari ranah individu, keluarga, masyarakat dan negara. Semua akan terwujud ketika pilar itu tegak di atas sistem yang memberikan efek jera dan memutus mata rantai narkoba di tengah-tengah masyarakat.

*Co Komunitas Ibu Hebat Bima – NTB

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *