Teriaklah, Jangan Menjadi Syaitan Bisu

Oleh: Muammar Iksan*

Muammar Iksan

Setidaknya sudah 14 negara yang mengecam aksi pembunuhan massal dan berbagai perlakuan keji lainnya yang dilakukan oleh China, negara komunis yang semenjak dahulu membenci Islam. Bahkan bangsa ini punya sejarah yang amat buruk tentang para komunis-komunis pembantai itu. Negara China menganggap bahwa Islam adalah suatu penyakit mental, benalu, pengganggu, kriminal yang selayaknya harus diberantas dan dihilangkan ditanah mereka.

Aksi kebiadaban ini direspon langsung oleh belasan duta besar negara-negara dunia non muslim, bahkan mereka mengancam untuk  memberi  sanksi  ketika pemerintah China tidak menghentikan pelanggaran yang dilakukannya. Bagaimana tidak, tragedi ini sudah berlangsung lama. Jutaan Muslim Uighur ditahan, mereka mendapat penyiksaan keji di camp-camp yang katanya tempat re-edukasi.

Faktanya, mereka dibunuh, diancam, didera dan disiksa kemudian dipaksa meninggalkan agama mereka. Semua hal yang berbau Islam seperti Al Quran, buku-buku Islam, masjid-masjid di hancurkan. Korbannya pun bukan hanya laki-laki dewasa, tetapi ratusan ribu anak-anak ditahan dan dihilangkan identitas agama islamnya, perempuan-perempuannyapun dihina dan dilecehkan. Mereka tidak berdaya di bawah ancaman dan tekanan pemerintah biadab komunis. Pemberian nama Islam saja dilarang apalagi melakukan Ibadah. Terkutuk. Ini sudah menjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia paling besar didunia.

Entah kemana orang-orang, organisasi-organisasi, yang suka berteriak lantang membela Hak Asasi Manusia, juga lembaga-lembaga dunia yang mengusung perdamaian itu. Kalau non muslim yang dilanggar hak-haknya, mereka paling garang dan paling depan unjuk gigi, berkoar-koar merasa paling manusiawi. Giliran jutaan Muslim yang menjadi korban, seperti kebrutalan negara Israel yang membantai Muslim Palestina, kekejian umat Budha dinegara Myanmar kepada Muslim Rohingya,  penderitaan yang diterima oleh Muslim Kashmir dan Bengal dari kebiadaban umat Hindu India, dan banyak lagi yang lainnya, tidak satupun dari mereka yang berani angkat suara. Katanya membela Hak Asasi Manusia, katanya penjaga perdamaian. Hak siapa yang mereka bela? Perdamaian apa yang mereka jaga? Jangan-jangan mereka hanya mencari makan dengan menggunakan kemanusiaan, mengurus kasus-kasus sesuai kepentingan mereka.

Yang paling aneh dari itu semua adalah tidak adanya tindakan nyata dari negara-negara mayoritas muslim untuk membela saudara-saudaranya yang tengah menderita lahir batin di balik batas teritorial negara mereka. Bukankah Umat Islam itu bagaikan satu tubuh? Apabila satu bagian saja dicubit maka yang merasakan sakit adalah tubuh seluruhnya. Sungguh amat disayangkan kondisi muslimin hari ini, terlebih lagi yang terjadi pada  bangsa Indonesia (Dengan Penduduk Muslim Terbanyak Di Dunia), pemerintah menyatakan bahwa yang terjadi pada Muslim Uighur di provinsi Xinjiang, China adalah urusan dalam negeri Republik Rakyat China.

Tidak habis dipikir, ataukah mungkin pemerintah mau menunggu semua muslim Uighur habis di bantai dan dianiaya oleh Komunis Ateis China? Gara-gara Nasionalisme kah ini? Sehingga kita terlalu cinta dengan negeri sendiri, cinta tanah air sendiri, tidak mau perduli dengan tragedi kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang terjadi diluar batas negara ini, sekalipun korbannya adalah saudara sendiri, saudara seiman dan seakidah, saudara atas nama kemanusiaan.

Atau kah karena terlalu banyak hutangnya pada si negeri ateis, kemudian bangsa ini tidak berani berkutik mengangkat wajahnya di hadapan para pembantai dan penjahat kemanusiaan itu. Sungguh amat lemah, Negeri yang katanya simbol persatuan Umat Muslim dari timur tidak bisa berbuat apa-apa ketika saudaranya disakiti, dianiaya dan dibunuhi. Bahkan memberi pernyataan sikap dan kecaman pun tidak berani, pengecut.

Tidak perlu menjadi Muslim, cukup anda menjadi Manusia untuk membela Muslim Uighur di Cina. Mereka butuh doa-doa kita, mereka butuh bantuan dan uluran tangan saudara-saudaranya sesama Muslim, mereka butuh manusia-manusia yang masih ada hati didadanya untuk berlepas diri dari cengkraman rezim anti islam, pemerintah China komunis atheis biadab.

Bangkitlah wahai Umat Islam, sejarah telah merekam jejakmu 14 abad yang lalu, dengan persatuan engkau mampu menguasai 2/3 wilayah dunia ini dibawah naungan kalimat tauhid. Kirim pejuang-pejuang Allah untuk menuntut hak-hak saudaramu yang telah direnggut dari mereka, sampaikan dengan lantang dihadapan para penguasa bahwa persoalan Muslim Uighur adalah urusan Umat Muslim sedunia dan juga masalah kemanusiaan.

Jangan engkau diam bagai setan bisu melihat kedzaliman merajalela terjadi atas saudara-saudaramu. Hancurkan hawa nafsu kepentingan rezim, dobrak pembatas dan penghalang pertolongan itu, Karena kita telah diikat oleh kalimat suci ketauhidan, ikatan persaudaraan oleh sebab Iman mengakar dalam hati kita. Ia menembus waktu dari zaman ke zaman, melampaui garis-garis batas wilayah negara bangsa, tak terbendung luapan gelombang rasa sakit dan kemarahan ini ketika dihadapkan pada kenyataaan memilukan dan ketidakberdayaan kita. Ini bukanlah tentang didalam negara mana kamu tinggal lagi, tetapi tentang dipihak mana kamu berjuang. Maka sungguh hanya kebangkitan umat Islam lah yang mampu menjadi sebuah solusi konkrit atas semua persoalan kehidupan.

Allaaahu Akbar…!!

#UmatIslamBersatu

*Alumni Universitas Muslim Indonesia Makassar

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *