Rumah Tangga di Ujung Tanduk, Cermin Gagal Kerusakan Generasi

Oleh: Khairunnisa’ S.Pd*

Ilustrasi

Keluarga bahagia adalah impian semua orang, darinya lahir generasi yang ditempa kepribadian. Namun disisi lain biduk rumah tangga bahagia dihempas dengan berbagai persoalan yang datang dari berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Dari faktor internal datang dari diri keluarga seperti diri suami, istri dan anak. Dari faktor eksternal datang dari liberalisasi sistem sekuler yang menjadikan lingkungan yang tidak kondusif untuk keluarga, arus negatif penggunaan media sosial ditambah fenomena munculnya pihak ketiga dalam rumah tangga. Pelakor (perebut laki orang) dan pebinor (perebut bini orang) menjadi fenomena sosial yang merusak keutuhan rumah tangga dan berimplikasi pada rusaknya kepribadian anak. Tidak sedikit anak yang terlantar dan hilang kepribadian karena kondisi keluarga broken home.

Kondisi ini menjadi dilematis tatkala keluarga tidak dibentengi dengan ketakwaan individu dari masing-masing keluarga apalagi fenomena perceraian yang makin meningkat setiap tahunnya. Ini justru jadi pemantik bagi keluarga untuk terus mengevaluasi segala kekurangan dan kelalaian dalam menahkodai rumah tangga. Di Bima pada tahun 2018 jumlah duda dan janda tembus angka 1.341 yang sudah disidangkan dan sudah dikeluarkan akta cerai. Panitera Muda HukumPengadilan Agama Negeri Bima Arifudin Yanto mengungkap jumlah pengajuan perkara yang masuk sebanyak 2.185 perkara. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2017 yang angkanya 1.031 yang resmi dikeluarkan akta cerai, baik cerai talak maupun akibat cerai gugat (kahaba.net)

Ketiadaan benteng takwa menjadikan suami atau istri melakukan hal yang dilarang oleh agama, termasuk melakukan hubungan gelap dengan wanita atau laki-laki lain. Memang tidak bisa dipungkiri pengaruh media sosial memberikan sumbangsih negatif terhadap rumah tangga. Selain tidak ada kesadaran penggunaan media sosial, seringnya disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak perlu. Tempat tinggal yang jauh dengan suami atau istrikarena ditugasi ditempat yang berbeda menjadi salah satu memicu perselingkuhan apalagi ditinggalkan selama bertahun-tahun.

Bahkan banyak pernikahan yang diawali tanpa kesiapan dan bekal yang cukup terkait konsep pernikahan dan rumah tangga. Fenomena nikah muda tanpa edukasi danpersiapan yang cukup adalah problem serius yang harus diperhatikan. Nikah muda dan cerai muda menjadi gaya hidup yang sudah biasa disemua kalangan bukan hanya pada kalangan artis. Tak ayal saat badai menghadang, pasangan tak mampu mempertahankan rumahtangga dan berujung pada saling menyalahkan antara dua pihak.

Terkadang orangtua menyetir rumah tangga anak, sebab sedari awal orangtua belum mampu memberikan edukasi yang optimal sejak sebelum menikah. Jadilah pasangan suami istri (pasutri) tak memiliki kemandirian dalam membina dan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Lingkungan kerja yang tidak kondusif untuk laki-laki dan perempuan menjadi pemicu interaksi yang proaktif. Interaksi-interaksi yang sering inilah menjadi benih munculnya cinta lokasi (cinlok) antara dua insan yang mungkin sudah sama-sama berumah tangga. Sehingga interaksi ini memang harus dibatasi padahal-hal yang sifatnya hubugan kerja dan lain-lain seperti muamalah, jual beli, kesehatan, ibadah haji, pengajaran (murid dengan guru) bukan hubungan selain dari itu. Pun di dalam lingkungan umum perempuan haruslah menutup aurat mereka secara sempurna selain karena ketaatannya pada agama juga bentuk penjagaan dirinya dari pandangan laki-laki asing (ajnabi). Penampilan yang tidak berlebihan dan tutur kata yang tidak dibuat-buat (mendayu-dayu) yang dapat mengundang syahwat laki-laki adalah sebagai bentuk penjagaan kehormatan perempuan. Kondisi ekonomi juga tidak luput dari perhatian semua pihak. Karena ini menjadi salah satu factor penyumbang perceraian. Komunikasi yang baik dan intens antara suami istri yang menyebabkan adanya ketidakpekaan terhadap persoalan diantara keduanya, dan lain-lain.

Ancaman global hari ini sangat mudah menggoyahkan keutuhan rumah tangga jika tidak disadari dan menyiapkan visi pernikahan sedini mungkin. Liberalisasi semua sektor kehidupan mewarnai pola kehidupan masyarakat termasuk unit terkecil keluarga, sehingga keluarga dibangun dalam keadaan yang rapuh dan gampang runtuh hanya dengan hempasan angin. Belum lagi ancaman sekulerisme yang menjadikan pasutri hanya menyatu dalam sebuah pernikahan tanpa pondasi agama yang kuat sebagai bekal membangun rumah tangga sakinah dan melahirkan generasi Rabbani. Sehingga menikah hanya sekedar melepaskan status lajang dan perawan bukan untuk ibadah.

Allah SWT berfirman :

“dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah dia menciptakan untuk mu isteri—isteri dari jenis mu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir“ ( QS Ar-Rum : 21)

*Pemerhati Perempuan dan Generasi

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *