Minimalisasi Seksualitas Remaja

Oleh: Muslim, M. Psi*

Dosen Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima Muslim. Foto: Ist

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial.

Masa remaja adalah masa eksplorasi dan eksperimen seksual, masa fantasi dan realitas seksual, dan masa mengintegrasikan seksualitas kedalam identitas seseorang. Remaja memiliki rasa ingin tahu dan seksualitas yang hampir tidak dapat dipuaskan. Informasi mengenai seksualitas sangat mudah dijangkau oleh remaja. Mereka mempelajari seks dari televisi, video, majalah, lirik lagu, serta situs web (Epstein & Ward, 2008).

Lebih lanjut lagi, penelitian terbaru terhadap remaja perempuan selama 3 tahun mengungkapkan kaitan antara menonton tayangan seks di televisi dan resiko kehamilan yang lebih tinggi (Chandra, dkk 2008). Selain melakukan hubungan seks di masa awal remaja, faktor-faktor resiko lainnya untuk masalah seksual pada remaja meliputi faktor kontekstual seperti, status pengasuhan orangtua, dan sosialisasi tentang informasi bahaya seksual pranikah.

Berbagai fakta yang terjadi saat ini, tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dalam seks bebas, salah satunya kasus video porno yang diperagakan oleh beberapa anak yang merupakan pelajar disalah satu SMA yang ada di Bima. Prilaku seks bebas yang dilakukan oleh beberapa siswa ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak antara lain: Pertama Orang tua, orangtua harus menjadi guru dan model bagi anak mereka. Sebagai seorang guru orangtua harus memberikan pendidikan seksual sejak dini dengan menjelaskan perbedaan jenis kelamin serta batasan aurat bagi laki-laki dan perempuan, selanjutnya orangtua harus menjadi model atau contoh yang baik bagi anak dengan menampilkan prilaku dan dan akhlak yang baik karena setiap tingkahlaku dan perkataan yang diucapkan oleh orangtua adalah cerminan bagi anak.

Kedua peran pemerintah melalui dinas kesehatan, dengan menigkatnya prilaku seksual pranikah pemerintah harus merespon cepat sebagai upaya pencegahan dengan melakukan sosialisasi disetiap sekolah, seminar ditiap kelurahan/desa tentang bahaya melakukan seksual pranikah oleh anak remaja.

Uapaya meminimalisir kasus seksual pranikah remaja adalah langkah yang harus dilakukan dengan cara; Pertama menjalin hubungan akrab antara orang tua dan anak, salah satu faktor penting yang sering dilupakan untuk mengurangi resiko seks bebas adalah dengan cara menjaga hubungan baik orangtua dan anak. Berdasarkan penelitian, anak yang kurang diperhatikan dan memiliki hubungan yang renggang dengan orangtuanya cenderung terjerumus ke prilaku seks bebas. Begitu juga anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Jika hubungan orangtua anak terjaga dengan baik, akan lebih mudah bagi orangtua untuk memantau dan mencegah sang anak terjerumus dalam pergaulan negatif.

Kedua memberikan informasi pendidikan seks yang benar. Pendidikan seks adalah langkah yang tidak boleh dilupakan dan merupakan salah satu cara mencegah seks bebas paling penting. Ada banyak kasus dimana pergaulan bebas terjadi karena rendahnya pengetahuan anak terhadap resiko seks bebas seperti kehamilan dan penyakit menular. Oleh karena itu penting untuk memberikan pendidikan seks sejak dini dengan menjelaskan perbeaan jenis kelamin serta batasan aurat laki-laki dan perempuan.

Ketiga memantau pergaulan anak. Pergaulan sangat berperan dalam mencegah seks bebas. Perhatikan dengan siapa anak bergaul, perhatikan sikap teman-temannya dan seberapa besar sikapnya berubah setelah bergaul dengan teman mereka. Jika sudah mulai nampak perilaku negatif mulai muncul pada anak jangan ragu untuk langsung untuk menasehatinya.

Keempat perlu dikembangkan model pembinaan remaja yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi. Perlu adanya wadah untuk menampung permasalahn reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan. Informasi yang terarah, baik secara formal dan informal yang meliputi pendidikan seks, penyakit menular seks dan kegiatan lain juga dapat membantu menekan angka kejadian perilaku seks bebas di kalangan remaja.

Kelima perlu adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadapa prilaku seks bebas. Dengan memberikan hukuman yang sesuai bagi pelaku seks bebas, diharapkan ada efek jera dan mereka tidak akan mengulangi perbuatan itu.

Keenam mendekatkan diri kepada Tuhan ketika penjelasan secara rasional dirasa kurang efektif untuk menjauhkan diri dari seks bebas, dengan memberikan pemahaman dari sudut pandang agama.

*Dosen Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *