Hoax dan Penangkalannya

Oleh: Diah Citra Pravitasari*

Diah Citra Pravitasari. Foto: Mahrun Babambojo (Facebook)

Saat ini makin marak penyebaran berita palsu atau yang disebut Hoax. Penyebaran ini tentu tidak hanya dirasakan oleh Bangsa Indonesia, namun hampir rata di seluruh belahan dunia. Hal ini disebabkan perluasan media elektronik yang sudah bisa diakses, hanya dalam genggaman tangan dengan bermodal internet. Dan patut diakui bahwa keberadaan internet telah menciptakan dunia baru yang bernama cyberspace yaitu sebuah dunia komunikasi berbasis komputer yang menawarkan realitas berbentuk virtual (yang tidak langsung dan tidak nyata). Maksudnya adalah walaupun dilakukan secara tidak langsung atau tidak nyata, namun dalam prakteknya terkadang kita seolah-olah merasa ada di tempat tersebut, misalnya bertransaksi, berdiskusi, dan banyak lagi yang lainnya.

Adanya penyebaran berita bohong (hoax) tentunya bukanlah hal baru dan jangan dianggap enteng, karena dapat menimbulkan perang atau kehancuran. Banyak catatan-catatan sejarah dari berbagai negara yang bisa dijadikan sebagai rujukan atau referensi untuk melihat bahaya laten yang ditimbulkan oleh pemberitaan bohong yang bersifat provokatif. Misalnya pada tahun 1889 terjadi penyebaran berita bohong oleh Wililam Hearts, seorang pengusaha koran asal Amerika yang memberitakan tentang warga Spanyol yang menelanjangi perempuan AS. Berita itu memicu perang antar kedua negara tersebut. Tahun 1964 Vietnam Utara dituduh menembak USS Maddox yang terjadi pada tahun 1955. Tahun 2003 Amerika menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal. Namun pada akhirnya tuduhan tersebut tidak terbukti dan Irak sudah hancur diinvasi.

Selain itu, perkembangan internet yang semakin hari semakin meningkat, baik teknologi dan penggunaannya, tentu membawa dampak yang positif dan negatif. Dampak positifnya seperti dapat melakukan transaksi perbankan kapan atau dimana saja, membuat mudah melakukan pembelian atau penjualan tanpa mengenal tempat, mencari referensi atau informasi pengetahuan melalui perpustakaan elektronik (e-library) dan sebagainya. Sedangkan untuk dampak negatifnya adalah membuat kejahatan yang semula konvensional seperti pengancaman, penipuan, pencurian dan sebagainya kini dapat dilakukan secara online dengan resiko tertangkap yang sangat kecil oleh individu ataupun kelompok dengan akibat kerugian yang sangat besar baik untuk masyarakat maupun negara disamping menimbulkan kejahatan-kejahatan baru.

Oleh karena itu, kegunaan media sosial sebagai alat komunikasi, sumber informasi, peluang bisnis, dan jaringan komunitas harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab penggunaan media sebagai informasi elektronik merupakan satu atau sekumpulan data yang tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, foto, email, telegram atau sejenisnya, termasuk huruf, angka, tanda, kode akses, simbol, perforasi yang telah diolah dan memiliki arti yang dapat dilahirkan oleh orang-orang yang mampu memahaminya. Sehingga dalam hal ini, peran serta masyarakat dan pemuda khususnya dalam menyikapi berita bohong sangat penting agar fungsi penggunaan internet melalui media sosial sesuai dengan etika, budaya, dan norma yang berlaku atau tepat guna dalam menciptakan karya baru yang berpotensi memberikan manfaat dan nilai tambah baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimanakah Dengan Kita?

Barangkali memang benar, satu-satunya pelajaran yang diambil dari sejarah adalah bahwa orang tidak pernah belajar dari sejarah. Melalui laporan mingguan terkait hoax dari subdit tentang pengendalian konten internet produksi 10 Januari 2019, tercatat sangat banyak persoalan yang sengaja dibuat agar memicu kegaduhan dikalangan masyarakat, mulai dari 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos di tanjung Priok, rekaman suara adanya potensi gempa 8 SR di Krakatau, ustad Arifin Ilham meninggal dunia, dan banyak lagi yang lainnya.

Menurut Silverman (2015), hoax merupakan informasi yang sesungguhnya tidak benar, tapi dibuat seolah-olah benar adanya. Sedangkan Werme (2016) mengatakan, hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Pengertian-pengertian tersebut sejalan dengan ciri-cirinya yaitu: Pesan sepihak, hanya membela atau menyerang saja; sering mencatut nama-nama tokoh yang seakan berasal dari tokoh tersebut; memanfaatkan fanatisme dengan nilai-nilai ideologi atau agama untuk meyakini; judul atau tampilan provokatif; judul dengan isi atau link yang dibuka tidak cocok, minta di share atau diviralkan.

Peristiwa penyebaran berita hoax yang sedang marak terjadi di Indonesia menyebabkan keresahan di masyarakat. Maka untuk menangkis itu semua dibutuhkan hal ini dapat disikapi oleh para pengguna media sosial agar menjadi netter yang cerdas dan lebih selektif serta berhati-hati akan segala berita atau pun informasi yang tersebar. Diharapkan pula untuk tidak langsung percaya dari berita atau informasi yang diterima. Cari tahu dari mana sumber berita tersebut dan menggali informasi lebih jauh dari berita atau informasi yang didapat. Jangan mudah terprovokasi dengan menyebarluaskan kembali berita atau informasi yang belum jelas benar atau tidaknya.

Jadilah pengguna media sosial serta masyarakat yang cerdas. Pemerintah diharapkan lebih cepat lagi merespon hoax yang beredar dimasyarakat sehingga dapat meminimalisasi kegaduhan atau keresahan yang terjadi dimasyrakat dan Pemerintah harus lebih giat lagi mensosialisasikan UU ITE agar masyarakat lebih paham lagi cara menggunakan media sosial dan internet dengan cerdas dan bijaksana dan kiraya media sosail dan internet digunakan untuk kebaikan hidup dan membaikkan kehidupan.

*Penulis Ketua Karang Taruna Kota Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *