Transportasi Berkelanjutan, Masyarakat Aman, Pemerintah Riang

*Faqih Ashri, ST*

Faqih Ashri. Foto: Ist

“Jika Anda ingin membuat mimpi anda menjadi kenyataan, hal pertama yang harus anda lakukan adalah bangun” – J.M. Power

Membentuk suasana kota yang nyaman dapat diwujudkan dengan sentuhan terhadap berbagai komponen, salah satunya sektor transportasi. Transportasi, yang menurut Morlok (1981), adalah kegiatan memindahkan atau mengangkut sesuatu dari suatu tempat ketempat lainnya, kini harus semakin menjadi perhatian. Isu-isu pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang semakin mengemuka di era modernisasi saat ini secara langsung menurunkan amanat yang sama bagi transportasi yang berkelanjutan. OECD (1996) merangkum bahwa inti dari transportasi berkelanjutan adalah sistem yang mendukung keberlanjutan (sustainability) dari ketiga aspek; lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Keberlanjutan dalam aspek lingkungan ditandai dengan adanya sistem transportasi yang mampu meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan, membatasi emisi buang, dan memininalkan penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Keberlanjutan dalam aspek ekonomi berkaitan dengan keterjangkauan masyarakat terhadap transportasi, ke-efisienan dan ketersediaan moda transportasi bagi masyarakat. Keberlanjutan dalam aspek sosial lebih ditekankan pada prinsip keamanan dan perwujudan komunitas yang sehat dan layak huni.

Pada umumnya, permasalahan yang hampir terjadi di setiap kota adalah perkembangan jumlah penduduk yang selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, namun tidak diikuti dengan pertambahan luas jalan yang dilintasi kendaraan-kendaraan itu. Akibat paling fatal dari kenyataan tersebut berupa peningkatan jumlah kecelakaan dan koban jiwa, peningkatan jumlah polusi udara yang membawa berbagai penyakit saluran pernapasan, dan berbagai konflik sosial lainnya. Kondisi tersebut bisa saja diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat tentang peraturan berkendara, serta lemahnya dasar-dasar peraturan yang menaunginya. Pengendalian terhadap kondisi transportasi mesti menjadi salah satu perhatian utama bagi setiap stakeholder dalam sebuah kota, demi terciptanya arus sirkulasi perkotaan yang menyenangkan.

Sekilas Transportasi Kota Bima

Kota Bima baru saja berusia 17 tahun sejak dinyatakan berdiri secara resmi tahun 2002. Sejak awal berdiri hingga sampai saat ini Kota Bima telah mengalami berbagai perkembangan di sektor transportasi. Dahulu, jumlah kendaraan belum seramai sekarang. Kendaraan tradisional ramah lingkungan seperti benhur (sejenis delman dan dokar), becak dan gerobak dorong masih meramaikan suasana awal perkembangan kota. Angkutan umum masih mengandalkan angkot sebagai “kendaraan mewah” bagi warga kota kala itu. Perkembangan kota selanjutnya membuat para pemilik kendaraan tradisional seperti Benhur, Becak, dan Gerobak mulai terpinggirkan oleh keberadaan Angkot dan juga Ojek Motor.

Kepemilikan kendaraan pribadi pun semakin meningkat seiring tingkat penghasilan masyarakat yang bertambah, sehingga mempengaruhi daya beli serta kebijakan “harga miring” dari berbagai perusahaan kendaraan bermotor. Jumlah total penduduk di Kota Bima yang pada tahun 2018 telah mencapai 166.407 jiwa merupakan sebuah tantangan berat jika melihat luas total kota 222,2 kilometer persegi dan jumlah kendaraan bermotor sudah menyentuh angka 51.269 unit. Sedangkan jumlah panjang jalan yaitu di angka 258,11 kilometer (Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Bima, 2017). Realitanya, dengan total luas wilayah seperti itu Kota Bima masih aman jika pembangunan sudah merata di setiap kecamatannya.

Namun karena pembangunan masih terpusat pada beberapa kecamatan di inti kota saja, sehingga sangat berpengaruh pada pergerakan kendaraan bermotor yang sampak semakin padat. Pemerintah Kota Bima telah melakukan berbagai terobosan dalam merekayasa transportasi kota. Beberapa di antaranya adalah dengan memperlebar ruas-ruas jalan utama, menempatkan rambu-rambu serta traffic light di berbagai titik rawan, menata jalan secara estetika dengan menambahkan taman di sempadannya, merubah secara dramatis lalu lintas dua jalur menjadi satu jalur, dan menertibkan pemisahan jalur kendaraan berat (di pinggir kota) dengan kendaraan umum serta kendaraan pribadi (di tengah kota). Upaya yang patut diapresiasi, walaupun kita harus lebih menitikberatkan pada penerapan transportasi berkelanjutan untuk mengikuti amanat sustainable development di era modern.

Keberlanjutan Lingkungan

Keberlanjutan lingkungan sangat penting untuk diutamakan, sebab tidak hanya menyangkut kualitas hidup generasi yang ada saat ini, namun terlebih untuk memastikan genarasi kita yang akan datang tidak mendapat kondisi yang jauh lebih buruk dari apa yang dirasakan generasi sekarang. Pengembangan sektor transportasi tidak hanya fokus pada pemenuhan rasio jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan yang ada, tetapi bagaimana kerusakan lingkungan akibat jumlah yang membludak tersebut bisa diminimalisasi.

Solusi yang dapat ditawarkan antara lain mendukung penuh produksi kendaraan bermotor yang ramah lingkungan (motor dan mobil listrik). Prototype untuk kendaraan ramah lingkungan berbahan bakar listrik ini pernah dipamerkan oleh PT PLN Bima di stand-nya di Pasar Amahami. Solusi lain adalah penempatan tumbuhan rindang hijau sepanjang jalur kendaraan (contoh depan Kantor Pos Tolomundu, dan beberapa titik di Jalan Gajah Mada).

Sejak beberapa tahun terakhir saya lebih sering melihat pepohonan teduh di pinggir jalan ditebangi dari pada ditanami. Padahal untuk menumbuhkannya butuh waktu berpuluh tahun. Dan tentu keberadaan tumbuhan-tumbuhan rindang itu sangat menentukan kenyamanan dalam berkendara di negeri tiga belas matahari seperti Kota Bima. Selanjutnya, solusi lain juga bisa berupa pelarangan kendaraan penyebab polusi suara, serta mem-bumi-kan kebiasaan berjalan kaki dan bersepeda.

Keberlanjutan Ekonomi

Faktor ekonomi juga tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi sebuah kebijakan di bidang transportasi kota. Aspek paling penting yang perlu diprioritaskan dalam faktor ekonomi adalah efisiensi. Tingkat penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi setidaknya disebabkan karena kesadaran kita yang masih rendah tentang efisiensi. Misalnya, dalam sebuah keluarga memiliki anggota sebanyak 5 orang. Idealnya satu mobil sedan sudah bisa menampung semua anggota keluarganya. Tapi karena didorong oleh sikap konsumtif, dan didukung oleh kemudahan dalam membeli kendaraan, dan tidak adanya peraturan yang membatasi kepemilikan kendaraan bermotor, akhirnya keluarga tersebut memiliki 4 mobil mewah.

Solusi bagi realita tersebut bisa dalam bentuk perombakan total kesadaran masyarakat tentang efisiensi berkendara, kemudian diikuti dengan penyediaan moda transportasi umum yang nyaman dan murah. Peraturan daerah tentang pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi perlu menjadi pertimbangan juga, sebab kebijakan tanpa aturan ketat yang mengikat pun akan jatuh sia-sia.

Betapa indahnya, jika setiap pagi ada bus mewah dengan supir professional yang menjemput anak-anak sekolah, sehingga tidak ada satu pun anak sekolah yang menggunakan kendaraan pribadi. Begitu juga dengan para ASN atau pun pekerja BUMN, setiap hari diantar jemput oleh bus mewah yang operasionalnya sudah ditanggung oleh pemerintah. Sementara untuk masyarakat umum tersedia selalu angkutan umum yang telah direvitalisasi, supir dan kernet bekerja dengan sistem gaji oleh pemerintah, sehingga tidak perlu ugal-ugalan dalam mencari penumpang, tidak ngetem terlalu lama di satu titik. Setiap kecamatan memiliki terminal angkutan kota yang bersih dan terawat.

Keberlanjutan Sosial

Faktor sosial lebih menekankan tentang keamanan dalam berkendara serta keterwujudan budaya berkendara yang membentuk komunitas sehat. Keamanan tentu saja berkaitan dengan tingkat kecelakaan dan kriminalitas di jalan raya. Berdasarkan data Kepolisian Resor Kota Bima Tahun 2017, selama setahun angka kecelakaan di jalan bisa mencapai 77 kasus. Kesadaran akan keselamatan berkendara menjadi poin penting agar kejadian yang sama tidak terus berulang. Kepatuhan untuk mentaati peraturan tanpa harus dilihat oleh petugas, kebesaran hati untuk tidak ugal-ugalan, dan saling menghargai sesama pengendara; menjadi syarat-syarat keberlanjutan komunitas keberlanjutan sosial di jalan. Jika sudah muncul kesadaran bersama dalam diri masing-masing, maka komunitas sehat seperti bersepeda bareng, berjalan kaki bersama, akan bermunculan dengan tanpa dihimbau.

Sebuah kota yang pengelolaan transportasinya berorientasi pada keberlanjutan dan didukung oleh peraturan daerahyang kuat akan menjelma menjadi kota nyaman untuk dihuni oleh masyarakatnya. Pada akhirnya, jika keberlajutan dari tiga pilar diatas bisa diwujudkan dengan baik di Kota Bima, maka masyarakat bisa merasa aman di jalan, pemerintah pun riang karena apa yang dilakukan membawa perubahan.

*Penulis Alumni Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya Malang

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *