Bima di Tanah Rantau: Spirit, Falsafah dan Manifestasinya

Oleh: Mawardin*

Mawardin. Foto: Ist

Mengacu pada kosmologi nusantara, jika Gunung Rinjani itu icon kosmos bagi masyarakat Sasak di Pulau Lombok, maka bagi masyarakat Pulau Sumbawa, icon kosmosnya adalah Gunung Tambora yang kesohor dengan ledakannya yang dahsyat, 5 April 1815 silam. Dalam gambaran penyair WB Yeats – seperti ditulis oleh Yudi Latif (Kompas.com – 14/04/2015) – pada tahun-tahun setelah 1815, masyarakat manusia “diubah, diubah sama sekali”; diubah dengan cara-cara yang radikal, dari keadaan mereka pra-erupsi Tambora.

Pasca-erupsi Tambora, memang separuh dari semesta Tambora luluh lantak, tapi lambat laun spiritnya kembali menyala, melahirkan manusia baru, reborn. Jiwa petarung dan gelora ‘anak-anak Tambora’ pun menggelegar, lalu bergelayut dalam tradisi intelektual, menafsir ayat-ayat Tuhan, mengkristalkan keringat hingga berkelana di tanah rantau.

Pada tanggal 4 Agustus 2019 lalu, sebuah acara digelar oleh Yayasan Rimpu Bima-Dompu di kantor Walikota Jakarta Timur untuk merekatkan hubungan kekerabatan di tanah rantau bertajuk Halal Bi Halal. Rimpu adalah cara berbusana Dou Mbojo – untuk menyebut masyarakat Bima dan Dompu – dengan menggunakan sarung khas lokal.

Orang Bima-Dompu memang sebuah entitas kultur serumpun yang suka merantau. Sekalipun tergolong etnis kecil dari NTB, tapi eksistensi mereka tercatat dalam sejarah pergulatan nusantara.

Jumlah penduduk Bima-Dompu memang tidaklah sebanyak Jawa, Sunda, Minang, Batak, Bugis-Makassar, Madura, dll, tapi orang Bima-Dompu mampu mewarnai pentas nasional bahkan mendunia. Sebut saja Syaikh Abdul Gani al-Bimawi, Mochtar Zakaria, Harun Al-Rasyid, Feisal Tamin, Burhanuddin, Burhan Magenda, Afan Gaffar, Abdul Gani Abdullah, Syamsuddin Haris, Marwan Saridjo, Hamdan Zoelva, Anwar Usman, dsb.

Syahdan, di tengah keriuhan malam jelang perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-74 di Jakarta, saya berjumpa dengan pengurus BMMB (Badan Musyawarah Masyarakat Bima). Seorang sesepuh BMMB bercerita, tersebutlah beberapa nama Dou Mbojo yang cukup berjasa dalam mengibarkan bendera kejayaan etnik Bima khususnya, yang menduduki jabatan strategis di Pemprov DKI Jakarta. Sebagai catatan, BMMB adalah suatu organisasi paguyuban etnik dari NTB yang tertua dan eksis di tanah rantau, didirikan pada tanggal 14 Mei 1972 oleh sejumlah tokoh Jakarta asal Bima yang menonjol kala itu.

Ibarat komputer, Bima memang dianggap sebagai hardware dari Bumi Gora. Di tengah pusaran politik ibukota negara pernah muncul frasa “Babi kuning”, merujuk pada tiga etnik “Batak-Bima-Kuningan”. Suatu masa, mereka menguasai palagan politik dan birokrasi pemerintahan di Jakarta.

Istilah “babi kuning” lama menjadi sekadar bisik-bisik di kalangan aparatur Pemprov DKI Jakarta dahulu, kata Agus Hermawan (Kompas, 3 Maret 2019). Pertanyaannya, apakah generasi muda Bima di ‘Batavia’ ini akan tetap eksis di masa depan? Inilah PR besar bagi BMMB untuk menjawab pertanyaan itu, agar menghimpun potensi SDM di tanah rantau dalam konteks gegap-gempita era revolusi industri 4.0 dan semarak milenial.

Poinnya adalah mengumpulkan lidi-lidi ‘mbojo’ potensial yang bercerai-berai itu, lalu diikat sebagai sebuah kekuatan. Sumberdaya yang berserak itu perlu dibungkus. Ini bukan sekadar nostalgia romantik. Akan tetapi, halaman belakang masa lalu itu sebagai jejak historis untuk kita berkaca, selanjutnya berpacu meraih kemajuan di halaman depan rumah kita bersama: Indonesia. Tentu saja bersinergi dengan semua komponen bangsa.

Setangkai mawar kehebatan wajah Bima yang mewangi itu adalah cerminan dari kecakapan beradaptasi. Suatu saat, saya akan tuliskan profil mereka secara lengkap sebagai sumber mata air inspirasi bagi generasi jaman now. Jejak cemerlang itu adalah manifestasi dari pengamalan falsafah hidup yang inheren dalam budaya adi-luhung mbojo. Mutiara kearifan lokal itu bisa menjadi bekal bagi diaspora Bima. Setidak-tidaknya, ada lima falsafah hidup yang mantul pada Dou Mbojo bertinta emas itu, antara lain:

1. Maja Labo Dahu

Falsafah ini adalah pilar utama bagi Dou Mbojo yang merantau sebagai jalan pedang. Harga diri tentu dijunjung tinggi. Para penempuh jalan pedang mesti membatinkan ikrar untuk ditunaikan hingga tuntas. Tidak boleh ada kamus mundur. Perantau mbojo sepantasnya menginternalisasikan budaya malu (maja) ke dalam jiwa-raganya. Saat yang sama membatinkan rasa takut (dahu) yang berakar dari tradisi Islam untuk menghindari pantangan-pantangan yang kontraproduktif (tiwara onena). Kini, “Maja Labo Dahu” dijadikan moto Kabupaten/Kota Bima.

2. Kalembo Ade, Kapoda Ade

“Kalembo Ade” adalah teks yang hidup untuk mengungkap suasana yang beragam dengan kebermaknaan yang kontekstual: terima kasih, sabar, penghormatan, penghargaan dan bahasa cinta. Pantang mundur sebelum menjadi penakluk. Karena itu, tekad yang membaja mengisyaratkan agar tidak layu sebelum berkembang. Tiada henti menyalakan harapan dengan kerja keras dan keteguhan hati (kapoda ade), guna melapangkan jalan meraih bintang.

3. Karawipu ra Turu Kai, Aina Turu Karawi

Perantau Mbojo sebisa mungkin menggambarkan sketsa negeri yang dituju, apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya sesuai petunjuk secara profesional, penuh dedikasi dan integritas (karawipu ra turu kai). Falsafah ini mengajarkan kepada perantau agar bersenyawa dengan bumi rantauan yang akan dipijak. Perantau Bima nan hakiki, tentu tidak boleh asal-asalan berkelana (turu karawi).

4. Nggahi Rawi Pahu, Aina Nggahi Wari Pahu

Dalam bergelut di tanah rantau, diaspora mbojo tidak boleh sekadar mengumbar kata-kata, tapi harus dibuktikan (kapahu). Kalau sudah berkata, harus berbuat dan ada hasilnya (nggahi rawi pahu). Bukan sebaliknya, kata tidak sesuai bukti (nggahi wari pahu). Falsafah ini meneguhkan Dou Mbojo agar senantiasa membuktikan kata yang terucap dan menepati janji. Kini, “Nggahi Rawi Pahu” dijadikan moto Kabupaten Dompu.

5. Kasama Weki, Mori Sama

Falsafah ini sejatinya menebalkan sebuah titah agar perantau Bima tidak sombong dan individualistik, tapi harus mempertebal rasa kebersamaan (kasama weki). Perantau Bima diharapkan mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, mengedepankan etos toleran terhadap kemajemukan sosio-kultur, membaur menjadi bagian dari masyarakat setempat (mori sama). Falsafah mbojo ini tercermin dalam khazanah filsafat tua (fitua): ibuku bumi, bapakku langit (Inaku Dana, Amaku Langi). Hal itu paralel dengan falsafah Melayu: dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Benar juga, saat menerima audiensi Yayasan Rimpu, Zulkieflimansyah berkata “Anak Bima dan Dompu di Jakarta banyak yang sukses, suruh pulang mereka untuk membangun daerahnya…..”, ujar Gubernur NTB itu.

Uniknya, gen unggul mbojo itu awalnya diproses lewat pembibitan di Dana Mbojo. Bibit-bibit itu ditanam, namun justru bertumbuh mekar di negeri nun jauh. Hakikatnya, falsafah-falsafah di atas adalah transformasi dari nilai-nilai religius yang membentuk mentalitas transendental orang Bima hingga melukis kanvas peradaban tanah rantau. Saripati dari semua itu adalah cinta ilmu pengetahuan, membumikan akhlak universal, menjadi gula dan garam bagi sesama.

Mengakhiri tulisan ini, mari kita rayakan satu falsafah “ndadi pu dou rangga, kone na ncora rengge” (jadilah kesatria sejati, meski menabrak bebatuan cadas). Merdeka!

*Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS; Pengamat Politik

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *