Anwar Usman, SMAN 1 Woha, Milenial Sadar Hukum dan Melek Politik

Oleh: Mawardin*

Ketua MK Anwar Usman menyampaikan motivasi dan kisha inspiratitf di SMAN 1 Woha. Foto: Bin

Suatu kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SMA Negeri 1 Woha – Bima (NTB). Sekolah yang terletak di Jl. Raya Tente-Bima itu didatangi seorang tokoh nasional untuk membagi rahasia sukses. Hal ini penting untuk memperluas daya imajinasi siswa-siswi agar berani berpikir besar, melompat dari sekadar biasa menjadi luar biasa.

Syahdan, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman menghadiri acara ‘Sosialisasi, Motivasi dan Inspirasi’ di SMA N 1 Woha (22 Agustus 2019). Tema bertajuk “Remaja Milenial Sadar Hukum, Tangguh, Bermoral dan Berprestasi” pada acara itu sangat relevan di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

Kalau digarisbawahi ke dalam beberapa kata kunci, ada beberapa poin yang disampaikan oleh Ketua MK kelahiran Sila–Bima, 31 Desember 1956 itu (diolah dari berbagai sumber, diskusi informal dengan narasumber, termasuk situs www.mkri.id), yakni generasi milenial, hoax, narkoba, sadar hukum dan melek politik, serta menuntut ilmu.

Pertama, jumlah generasi milenial yang begitu besar di Indonesia, maka roda organisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh generasi sebelumnya, atau yang saat ini tengah menjabat, akan mengalihkan tongkat estafetnya kepada generasi milenial. Proses regenerasi diperlukan untuk menyiapkan remaja milenial yang berprestasi, agar kelak siap dan mampu meneruskan roda kepemimpinan negeri ini.

Kedua, kondisi saat ini yang marak dengan hoax (bohong/palsu) akan merusak generasi milenial yang seharusnya mendapat suplai informasi yang tepat dan akurat. Karena itu, akurasi dan validitas informasi harus dipastikan kebenarannya melalui cross-check kepada sumber utamanya.

Dampak negatif hoax, “beberapa bulan kemarin, saat penyelesaian sengketa pemilu, saya heran, saya dihujat dimana-mana, termasuk di daerah sendiri, tapi berkat masukan dari anak muda Bima yang berlian Hazairin, yang terus memotivasi saya, berujar untuk tidak memikirkan semua hujatan”, ungkap Anwar Usman. Hazairin yang dimaksud adalah penyidik di Badan Narkotika Nasional (BNN) yang juga alumni SMA N 1 Woha.

Ketiga, generasi milenial sangat rentan dengan penyalahgunaan narkoba. Lagi-lagi generasi milenial harus kembali ke ajaran agama sebagai sumber etika dan moral. Di sekolah, kelompok diskusi ilmiah dan remaja mushola, termasuk organisasi ekstra sekolah seperti PII, IPM, IPNU dapat menjadi wahana beraktualisasi secara intelektual, spiritual dan sosial.

Keempat, sadar hukum dan melek politik. Menurut saya, kesadaran hukum dan melek politik (literasi politik) di tingkat pelajar itu dapat disemai dari optimalisasi peran Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Dari OSIS, kita dilatih untuk merancang aturan yang disepakati bersama, mengembangkan jiwa kepemimpinan, kecapakan berkomunikasi dan berdemokrasi.

Ketika saya menjadi ketua OSIS SMA N 1 Woha 2005, suksesi kepemimpinan selayaknya pemilu. Komunikasi kampanye politik dilakukan oleh para calon ketua OSIS di semua ruang kelas, disertai pidato politik dan sosialisasi lewat poster. Para pemilih kemudian mencontreng sang kandidat di kertas suara. Kawan saya, Arifuddin Hamid (Ketua OSIS SMA N 1 Kota Bima yang satu generasi dengan saya) adalah saksi jejak juang cum aktor, betapa kami ingin menjadikan OSIS sebagai tangki pemikir yang bercorak pergerakan, kombinasi antara intelektualisme dan aktivisme.

Kelima, generasi milenial diharapkan agar tetap tekun dalam belajar, menggali berlian di dalam diri masing-masing, menyerapion positif di lingkungan sekitar dan meningkatkan prestasi demi masa depan yang cemerlang. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi dapat dimanfaatkan untuk mengakses ilmu pengetahuan, sehingga bisa melahirkan karya yang monumental.

Ketua MK Anwar Usman bersama Wakil Bupati Bima saat hadir di SMAN 1 Woha. Foto: Ist

Bersama SMA lainnya di Bima, eksistensi alumni SMA N 1 Woha telah memainkan peran dalam pembangunan daerah maupun nasional. Sepengetahuan saya, bukan hanya pelajar dari Kecamatan Woha yang berdatangan menempa diri di SMA N 1 Woha, tapi juga dari Kecamatan Belo, Palibelo, Monta, Parado, termasuk Langgudu, dll. Dalam konsep geopolitik-kultural Bima, wilayah itu disebut sebagai “Kae”. Sejarah perjuangan di semesta Kae menjadi energi tersendiri.

Peristiwa Tente 1945 adalah masa di mana tentara Jepang dilucuti senjatanya oleh laskar Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang berbasis di Tente. Kisah heroik ini tercatat dalam buku “Rangkaian Melati Kehidupan HM. Thayib Abdullah” tulisan Muhammad Zulkarnain (1997, Penerbit Lewa Mori). Pada masa pendudukan Jepang, menurut Alan Malingi (budayawan Bima), di Kecamatan Palibelo (lokasi bandara Sultan Muhammad Salahuddin), sebuah pantai indah di ujung selatan teluk Bima itu disebut dengan “Lewa Mori”, karena di pantai itulah rakyat Bima berjuang antara hidup dan mati. Era perjuangan melawan Belanda, berkobar Perang Ngali (Belo). Salah satu buku yang membahas Perang Ngali (1908) berjudul “Perang Ngali sebuah Perang Sabil” tulisan Marwan Saridjo (2012, Penerbit Yayasan Ngali Aksara dan Al Manar Press). Serpihan kearifan Kecamatan Monta, Parado, Langgudu tergambar dalam buku biografi “KH. Muhammad Hasan” tulisan M. Dahlan Abubakar (2012, penerbit Identitas Unhas).

Di semua wilayah yang ada di Bima, tentu punya ciri khas masing-masing. Mulai dari Kecamatan Tambora, Sanggar, Donggo, Soromandi, Bolo, Madapangga (Dou ta Ipa). Begitu juga dengan Kecamatan Sape, Lambu, Wera, Ambalawi, Wawo, Lambitu (Dou ta Ese). Termasuk Kota Bima. Seiring perkembangan zaman, api sejarah Kae (Dou ta Dei) itu tidak sepenuhnya disadari oleh generasi zaman now. Mulai 2012, Kecamatan Woha sebagai ibukota Kabupaten Bima, yang semula aman, terganggu akibat tawuran antar desa.Sempat mereda beberapa tahun.

Namun Bima kembali membara, sekitar 2016 di Kecamatan Woha khususnya, ditambah konflik di wilayah Bima lainnya. Barulah pada akhir Desember 2017, resolusi konflik permanen dan prasasti perdamaian di antara kelompok benar-benar dirajut. Musim kelabu yang tidak seberapa itu, diterangi kembali oleh Agus Putra Pratama Yudha yang terpilih sebagai penarik Bendera Merah Putih dalam Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Istana Negara, 2017. Agus tercatat sebagai siswa SMA N 1 Woha yang mewakili Provinsi NTB.

Tentu saja banyak sekali prestasi yang diukir oleh SMA 1 Woha, baik olimpiade sains, debat bahasa Inggris, karya tulis ilmiah, cerdas cermat, sastra, olahraga, seni-budaya dll. Bahkan SMAN 1 Woha ditetapkan sebagai salah satu sekolah rujukan di Kabupaten Bima oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Sementara di Kota Bima, yang menjadi role model adalah SMA N 1 Kota Bima.

Sepotong jejak prestasi itu bukan berarti mengerek kedua sekolah itu seolah tanpa kekurangan. Bahkan masing kurang. Malah sekolah-sekolah lain di Kabupaten/Kota Bima ikut menorehkan prestasi yang hebat juga. Dan saya banyak belajar dari semuan kelebihan dan kekurangan itu.

Dengan demikian, semua institusi pendidikan menengah di Bima mesti berkolaborasi untuk memajukan daerah. Hakikatnya semua sekolah adalah favorit, tergantung sejauhmana kita bisa membuktikan capaian. SMA N 1 Woha yang terletak di Ibukota Kabupaten Bima, sungguh besar tanggungjawabnya untuk mewarnai wajah remaja milenial Bima dengan keunggulan prestasi dan keanggunan moral.

Dari Anwar Usman, kita bisa belajar bahwa kesungguhan belajar, merantau, kerja keras, tangguh, kesederhanaan, kerendahan hati, berjiwa besar, menjaga akhlak, yang dibingkai dengan niat untuk beribadah, adalah rahasia sukses menjadi salah seorang tokoh nasional asal Bima yang berpengaruh di negeri ini.

*Alumnus IlmuHubunganInternasional FISIP UNHAS; Pengamat Politik

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *