oleh

Santabe ta, Mari Lestarikan Bahasa Bima

-Opini-64 kali dibaca

Oleh: Didid Haryadi, M.A.*

Didid Haryadi

Bima, daerah di ujung Timur provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memiliki lanskap historis yang menarik dan kerap menjadi perhatian peneliti baik nasional maupun internasional. Pengalaman pribadi saya, pada tahun 2011 sampai 2013, saya berkesempatan menjadi asisten peneliti seorang mahasiswa doktoral dari Australian National University (ANU) yang mengambil topik tentang ‘Being Moslem in Bima’. Selama rentang waktu penelitian di lapangan, saya menemukan banyak sekali hal-hal menarik ihwal kekayaan sosiologis yang ada di ‘dana Mbojo’.

Salah satu ingatan yang hingga kini masih melekat tentang penelitian tersebut, saya sangat senang berjumpa dengan banyak narasumber yang hampir 95% bertutur dalam bahasa Bima. Selain itu, saya juga mendapatkan hadiah dari peneliti yang dibimbing oleh Prof. Kathryn Robinson tersebut sebuah buku, kamus bahasa Bima-Indonesia-Inggris. Sayangnya, buku tersebut telah lenyap pasca banjir bandang yang menerjang Bima pada medio 2016 silam.

Dalam perspektif kebudayaan, bahasa adalah unsur yang membentuk identitas sekaligus menjadi komponen penting budaya itu sendiri. Sepekan ini, sebuah pemberitaan yang menarik perhatian saya temui ketika membaca berita di media ini yang berjudul, ‘Promosi Budaya, Nama Jalan di Kota Bima Mulai Pakai Aksara Bima’.
Tentu saja, ini adalah kabar baik bagi kita semua dou Mbojo! Bahwa bahasa Bima mendapatkan atensi khusus dari pemerintah untuk dilestarikan melalui penggunaan nama-nama papan jalan yang ada di Kota Bima.

Tujuan utama program ini adalah upaya melestarikan bahasa daerah yang telah melekat dalam ritus kehidupan sosial dou Mbojo. Seringkas yang saya pahami, bahasa Bima masih sangat kental dan melekat dalam identitas, sikap, dan interaksi sosial sehari-hari. Jika Anda pergi ke pasar tradisional, supermarket, ataupun sekedar melepas penat di tempat nongkrong anak-anak muda, maka Anda akan sangat mudah menjumpai orang-orang yang masih berkomunikasi dalam bahasa Bima. Sama juga halnya ketika kita berinteraksi di lingkungan keluarga dan bermasyarakat; kegiatan mbolo kampo ataupun hajatan tradisional lainnya.

Bahkan, pada era kiwari yang telah terintegrasi di dalam media sosial, grup-grup Whats App (mahasiswa, paguyuban, profesi, alumni, keluarga dou Mbojo) seringkali menggunakan bahasa Bima dalam percakapannya. Dan ini adalah hal yang menggembirakan.

Saat ini ada sekitar 700 bahasa daerah yang masih eksis di Indonesia. Salah satunya adalah bahasa Bima. Upaya pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan dengan cara membiasakan penggunaannya baik dalam bentuk tradisi tulisan maupun lisan yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan, hari ini dan pada masa yang akan datang.

Dalam era kemajuan teknologi internet seperti sekarang, kita harus mampu melakukan upaya-upaya inovatif lain misalnya dengan mengintegrasikan bahasa Bima ke dalam kurikulum sekolah. Rentang waktu 1995-1999 saya sempat merasakan belajar bahasa daerah, khususnya pengenalan dan literasi Aksara Bima/Mbojo. Upaya lainnya adalah dengan membuat aplikasi khusus dalam gawai ataupun keyboard komputer (seperti yang pernah saya saksikan dalam integrasi aksara Jawa di dalamnya).

Upaya mengaplikasikan tersebut dapat juga dikenalkan melalui mengaktifkan kembali aksara Bima kepada para siswa dan masyarakat Bima.

Logat, Dialek

Suku Bima atau dou Mbojo merupakan satu dari tiga suku yang ada di NTB. Sebagai suku bangsa yang memiliki kebudayaan yang lahir dari tradisi-tradisi lokal, dou Mbojo memiliki kekhasan terutama dalam penuturan dan berkomunikasi dengan bahasa daerah.

Fredirk Bath, menyatakan bahwa ada tiga karakteristik utama dalam memahami suatu suku bangsa (ethnic group). Pertama, terdapatnya kesamaan bahasa atau paling tidak logat atau dialek. Kedua, terdapatnya kesamaan tata cara, adat-istiadat, sikap, dan ukuran-ukuran yang diperoleh secara turun-temurun. Ketiga, kesamaan atau kesatuan wilayah yang ditempati atau paling tidak mereka merasa mempunyai wilayah asal yang sama.

Sementara itu, George F. Kneller di dalam karyanya yang berjudul Introduction to the Philosophy of Education” (New York: John Wiley, 1964), menjelaskan bahwa bahasa setidaknya mengkomunikasikan tiga hal, yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap. Lebih lanjut, Ia menyatakan bahwa bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif.

Fungsi simbolik bahasa menonjol dalam ritus komunikasi ilmiah. Sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi eslektik. Secara umum, komunikasi dengan menggunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan emotif.

Dou Mbojo, rasanya patut berbahagai bahwa upaya kecil melestarikan bahas Bima kini perlahan mulai terlihat. Hal ini harus terus menjadi perhatian bersama agar keberlanjutannya tetap terjaga dan bukan menjadi program yang temporer semata. Kolektivitas, soliditas, dan solidaritas adalah manifestasi dari kesadaran mengenalkan budaya lintas generasi.

Semoga bahasa Bima tak lekang oleh waktu dan terus menjadi bagian dalam peradaban bahasa daerah di Indonesia.
Santabe ta, mai ta nuntu Mbojo!

*Putera Asal Bima, Dosen Sosiologi di Universitas Nasional Jakarta

Komentar

Kabar Terbaru