Branding Ketokohan dan Menolak Menghina Petani

Oleh: Delian Lubis

Delian Lubis

Pamor, kharisma, ketokohan, heroisme Bung Karno tidak tenggelam hanya karena pernah menyebut “Islam Sontoloyo”, tidak terpuruk hanya karena pikirannya tidak sejalan dengan ide Kyai H. Agus Salim tentang Tuhan, tidak sirna hanya karena seorang pendeta berkata “kau anak bandel”. Istilah Soekarno yang dianggap menyimpang, kontroversial, justeru menjadi titik star kebangkitan Soekarno menemukan Ketuhanan yang lapang yang sejiwa dengan suasana kebathinannya, yang selaras dengan pergolakan pemikirannya. Soekarno tetap menjadi legenda zaman dengan spirit marhaenismenya yang kosa kata itu ia populerkan setelah berdialog dengan petani lusuh di Jawa Barat.

Legenda Soekarno adalah sebuah semangat, cita-cita, perjuangan, yang menginspirasi kebangkitan perlawanan diberbagai belahan dunia. Jokowi tidak mati kartu politiknya hanya karena menyebut “politisi sontoloyo”, genderowo, dalam situasi proses politik Pilpres betapun ia dibuly habis-habisan oleh penantangnya. Jokowi tidaklah sehebat bung Karno menangkis perlawanan. Jokowi menetralisir upaya menjatuhkan kewibawaannya dengan menunjukan kerja dan karya-karya pembangunan.

Segala hituk pikuk jagat poliitik tanah air yang demikian tajam pembelahannya dalam proses politik itu, ujungnya cair dalam kesatuan emosi dan semangat yang sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, serta ikut andil dalam perdamaian dunia. Penyatuan dinamika politik yang terbelah demikian tajam dan massif dilintasi melalui rute komunikasi ploretarian dgn cara tukar percakapan Jokowi dan Prabowo di sebuah kendaraan umum MRT Jakarta. Bersambut gayuh demgan hidangan nasi goreng ala Megawati Soekarno Putri.

Bila Prabowo sebuah branding ketegasan dan Jokowi sebuah branding representasi kerakyatan yang sederhana dalam hikmat kebijaksanaan maka setajam apapun perbedaan mereka bisa jinak karena satu kesadaran bahwa rumah mereka satu yakni Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Pemimpin besar selalu berada pada dua sisi yakni kontroversi dan jenaka. Konversi karena idenya konsisten dan jenaka karena jiwanya mengakar dengan penderitaan.

Pada sisi yang lain, SBY bangkit mengalahkan Mega hanya karena ucapan pendek Almarhum TK “SBY disebut seperti anak kecil”. Mesin politik demikian cepat bekerja memproduksi isu dengan membangun branding SBY terdzolimi. Ahok juga jatuh hanya karena ucapan pendek yang diproduksi dengan branding Ahok menghina ummat Islam.

Kala ucapan IDP terhadap rakyatnya “Aina nuntu pakaro”  dibranding sebagai ucapan yang menghina rakyat, kira-kira pembelaan apa yang pantas yang dilakukan IDP untuk menjernihkan keadaan? IDP garis tangannya harus jatuh karena skenario kejatuhannya telah IDP konfirmasi dengan terang lewat kata-katanya. Bila kata adalah peluru maka IDP menembak dirinya dengan kata-katanya. Membranding IDP sebagai “ramah” terbantahkan oleh ucapannya sendiri saat berada di tengah rakyat Desa Timu Kecamatan Bolo kemarin. IDP kehilangan branding yang artinya juga kehilangan harapan atas mimpinya berkuasa lagi.

*Aktivis Pro Demokrasi Bima

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *