oleh

Pengangguran Intelektual Bima Terjebak Mindset Menjadi PNS

-Opini-10 kali dibaca

Oleh: Abdul mufakhir, S.Psi, M.Ak*

Abdul Mufakhir. Foto: Ist

Siang itu jalanan terlihat seperti mengalir efek dari fatamorgana panasnya aspal di Bima, tidak menyurutkan semangat Syamsudin sesorang lulusan sarjana yang kini menjadi tukang ojek di kampungnya di Talabiu. Keinginanan yang besar kembali ke kampung halaman membangun daerahnya tidak disertai dengan peluang kerja yang memadai, akhirnya menjadi tukang ojek adalah pilihan terakhir untuk bisa bertahan hidup. Demikian pula halnya Sarmin sarjana pendidikan yang kini bekerja sukarela menjadi pengajar pada salah satu sekolah dasar di kampungnya, pada musim-musim tanam jagung seperti sekarang, dia bekerja sebagai petani ladang menggarap lahan musiman di lereng kaki Gunung Tambora Desa Kore Kecamatan Sanggar, demi menafkahi 2 anaknya yang masih balita. Meskipun mereka merupakan lulusan sarjana pada universitas terkemuka di Jawa, namun nasib tidak membawa ke pekerjaan yang selevel dengan kesarjanaannya. Potret kehidupan Sarmin dan Syamsudin merupakan anomaly kecil lulusan sarjana di Bima, nasib yang sama juga dialami lulusan sarjana lainnya yang harus mengalami nasib kurang beruntung, karena tidak mendapat pekerjaan memadai di kampungnya.

Banyaknya lulusan sarjana tidak sepadan dengan penyerapan lahan kerja di Kabupaten Bima, sehingga untuk bertahan hidup hanya bisa ‘memeras alam’ untuk bisa menyambung asap dapur rumahnya. Geografi alam Bima yang dipenuhi dengan gundukan gunung yang menjulang tinggi, dimana 60 persen merupakan pegunungan, terlihat seperti hamparan tanah yang eksotis. Bima merupakan salah satu kabupaten yang ada di ujung timur wilayah Nusa Tenggara Barat, dengan luas wilayah 4.389,40 Hektar dengan 18 kecamatan dan 191 desa.

Hamparan tanah luas tersebut di tahun 2019 tercatat dihuni oleh penduduk 488.577 jiwa (Hasil Proyeksi BPS akan diperbaharui dalam sensus penduduk tahun 2020), dimana mata pencaharian utama masyarakat Bima adalah pertanian. Meski dengan keterbatasan penghasilan dari pertanian, namun tidak menyurutkan semangat generasi Bima untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Masyarakat Bima yang sangat menjujunjung tinggi arti sebuah pendidikan, sehinga tidak heran banyak masyarakat Bima di usia sekolah merantau untuk mengeyam pendidikan tinggi diberbagai perguruan tinggi yang tersebardi berbagai daerah di Indonesia. Konsentrasi sekolah masyarakat Bima untuk mengenyam pendidikan di luar daerah dominan di wilayah Makassar, Mataram, Jogja dan Malang. Sehingga pengaruh budaya tersebut sangat terasa ketika mereka balik dan beraktifitas kembali di tengah masyarakat Bima. Para perantau tersebut tidak hanya pulang dengan gelar namun membawa budaya tempat mereka merantau. Di sampang itu, tenaga kerja yang merantau ke berbagai daerah misal bekerja seperti di Jakarta, Kalimantan dan Malaysia juga memberi warna pada budaya dan cara pandang masyarakat Bima.

Berdasarkan survei Angkatan Kerja Nasioanal (Sukernas) bulan Agustus pengangguran terbuka di Kabupaten Bima tahun 2018 tercatat 4,9 persen (Statistik Ketenagakerjaan Kabupaten Bima, 2018). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah rasio jumlah penganggur terbuka terhadap jumlah angkatan kerja. Banyaknya kaum penganggur intlektual yang mencari kerja tidak sebanding dengan lahan kerja yang berada di Bima. Hal tersebut menyebabkan melimpahnya pengangguran terbuka di Kabupaten Bima dan Kota Bima. Terkonsentrasinya lulusan dari jurusan dari latar ilmu, bidang pendidikan, bidang sosial dan kesehatan (D3 kebidanan, perawat) menyebabkan menumpuk lulusan tersebut pada instansi pendidikan sekolah dan puskesmas, meskipun berstatus sebagai sukarela maupun honorer. Tidak heran apabila dibuka lowongan CPNS seperti saat ini, pendidikan dan kesehatan menjadi penyumbang terbanyak pendaftar lowongan CPNS. Tercatat pada tahun 2018 ada 9.543 peserta CPNS, sementara tahun 2019 meningkat menjadi 10.255 pendaftar CPNS yang mengadu nasib dalam memperebutkan kursi menjadi PNS di Kabupaten Bima (bkd.Bimakab.go.id).

Iklim usaha yang tidak kondusif akibat pemberitaan media yang memberikan image negatif bagi daerah Bima, membawa dampak kurangnya investor dalam melirik Bima sebagai tempat usaha. Tercatat di Dinas Perindustrian dan Perdagangan perusahaan yang di Bima terdapat 5.157 industri, namun 4.041 di antaranya merupakan industri non formal seperti rumah makan, industri pembuatan

bakso, penjaga toko dan lain-lain. Jumlah pekerja di sektor informal ini menyerap 79,73 persen tenaga kerja, tentu ini tidak memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi kabupaten Bima, karena sektor ini memberikan sumbangsih penghasilan yang kecil atau dengan kata lain rata-rata di bawah upah minimum Kabupaten (UMK).

Lahan kerja yang sepadan dengan kualifikasi sarjana tidak sebanding dengan angka kerja dari lulusan perguruan tinggi di Bima, baik tingkat diploma maupun sarjana mencapai 29.277 orang. Sementara total angkatan kerja tahun 2018 secara keseluruhan sudah mencapai 329.079 orang (Statistik Ketenagakerjaan Kabupaten Bima, 2018). Persoalan ini menjadi pelik, manakala mental berpikir masyarakat Bima yang mengharapkan pekerjaan pada dunia formal seperti PNS, tentara, polisi atau pegawai BUMN. Mental berpikir tersebut didukung oleh iklim dunia pendidikan dan pola pikir masyarakat yang sangat mengharapkan anak-anaknya menjadi pegawai negeri atau polisi maupun tentara.

Banyak diantara pendatang membuka usaha kecil-kecilan berkembang pesat di Bima. Sementara itu masyarakat Bima minat menjadi wirausaha sangat rendah. Padahal untuk kemajukan suatu daerah maka perlu 2 persen dari jumlah penduduknya tersebut menjadi wirausaha. Perlu sebuah pendidikan menyeluruh untuk merubah mental berpikir tersebut, karena mental ini sudah kuat terhadap anak-anak muda Bima. Jangan sampai setiap jengkal tanah di Bima dijual hanya untuk menyekolahkan anak-anaknya, namun pada akhirnya menjadi pengangguran berinteklektual tanpa penghasilan tetap. Pemerintah Bima harus hadir di tengah masyarakat dalam mencerahkan pola pikir tersebut, dengan memberikan pendidikan wirausaha sedini mungkin baik melalui pendidikan formal maupun non formal serta dengan memberikan kemudahan mendapatkan modal usaha.

Potensi-potensi hasil alam Bima seperti bawang merah, garam, jagung, rumput laut, cumi, madu dan berbagai jenis komoditi lainnya harus bisa dioptimalkan untuk bisa mensejahterahkan masyarakatnya. Agar hasil alam tersebut dapat optimal, maka konteks bisnis berkelanjutan dari rantai produksi, distribusi, komersialisasi dan pasar harus bisa dibaca sebagai peluang bisnis. Sehingga hasil bumi, tidak hanya menghasilkan produk mentah yang dijual keluar daerah dengan harga murah namun bagaimana hasil alam tersebut menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang lebih bernilai jual tinggi. Disinilah pola pikir wirausaha tersebut harus dibangun, sehingga pada akhirnya Sarmin dan Syamsudin serta sarjana muda lainnya tidak hanya menunggu pembukaan lowongan menjadi CPNS yang jarang dibuka, namun perubahan pola pikir tersebut akan mendorong munculnya usaha-usaha kreatif yang akan membuat sarjana-sarjana muda menjadi wirausaha-wirausaha baru yang akan menciptakan peluang kerja bagi generasi Bima sekarang dan yang akan datang.

*Pemerhati Sosial di Bima

Komentar

Kabar Terbaru