oleh

Petani dan Penguatan Nilai-Nilai Tradisional

-Opini-12 kali dibaca

Oleh: Didid Haryadi, M.A*

Didid Haryadi

Teknologi informasi (TI) bergerak sangat cepat dan memberikan dampak yang signifikan terhadap dimensi-dimensi kehidupan sosial. Internet, media sosial, dan inovasi yang beririsan secara langsung dengan penerapan TI tentunya telah memberikan kemudahan bagi para user (pengguna)—dalam hal ini adalah manusia.

Namun demikian, kehadiran produk TI yang masif, tidak selamanya berimpikasi positif bagi manusia. Terdapat sisi-sisi humanisme yang perlahan terkikis dan mungkin pada akhirnya hanya akan menjadi temuan saja.

Salah satu idiom yang seringkali saya lontarkan kepada mahasiswa; pada awalnya kemunculan teknologi seperti telepon genggam, media sosial, internet bertujuan untuk mendekatkan sesuatu yang jauh. Tentu saja, fakta ini seringkali kita temukan pada era sekarang saat hampir semua hal bisa diakses dengan mudah dan menyebar dengan sangat cepat.

Namun demikian, teknologi juga mampu menjauhkan yang dekat. Perhatikan fakta berikut; bahwa pada setiap momen nongkrong, tak jarang beberapa orang yang terlibat di dalamnya seolah sibuk dengan gawai miliknya masing-masing. Ada yang membawa telepon seluler, laptop, ataupun tablet—semuanya terhubung dengan koneksi internet. Tak pelak, komunikasi yang pada awalnya dapat dilaksankan secara konvensional berubah menjadi interaksi di dalam dunia maya.

Bahkan, internet mampu meciptakan individu sangat pasif dan tak bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya.

Kelahiran Industri

Salah satu faktor yang memengaruhi kelahiran era teknologi adalah ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada tahun 1765. Periode ini sekaligus menandai dimulainya revolusi industri di tanah Eropa (khususnya di wilayah Inggris) yang secara langsung mengubah aspek kehidupan sosial. Segala sesuatu perlahan bertransformasi secara mekanik, yang awalnya hanya mengandalkan metode-metode konvensional.

Kereta api, kapal laut, pesawat, mesin-mesin pabrik, mulai mengadopsi hasil ciptaan tuan James Watt tersebut. Dampaknya, tentu saja terjadinya pengikisan terhadap paradigma kerja yang pada mulanya hanya mengandalkan kekuatan manusia beralih kepada penerapan oleh mesin-mesin. Selain itu, pola interaksi sosial pun secara perlahan berubah dan berjarak oleh teknologi. Terciptanya struktur kerja yang lebih terpola dengan orientasi kepada kuantitas produksi. Dan jangan lupa, nilai-nilai solidaritas pun terkikis yang awalnya sangat solid dan bersifat mekanik berubah menjadi organik (longgar).

Tahapan perkembangan teknologi informasi pun bergerak pad era 4.0 seperti yang kita rasakan hari ini. Namun demikian, adakah yang pernah bertanya, kapan era industri sebelumnya terjadi? Berikut ini adalah periode yang penting dan harus kita mengerti.

Pertama, industri 1.0 terjadi sekitar tahun 1784, pasca diciptakannya mesin uap. Kedua, era industri 2.0 dimulai pada tahun 1870 yang ditandai dengan penggunaan mesin produksi massal bertenaga listrik. Sementara itu era industri 3.0 mengambil momennya pada tahun 1969, dengan penerapan teknologi informasi dan mesin otomatisasi. Keempat, era industri 4.0 yang ditandai dengan penerapan mesin yang terintegrasi dengan jaringan internet dan dimulai pada tahun 2011 hingga hari ini.

Mengapa Mesin Tanam tak diminati?

Masyarakat selalu memiliki karakteristik dalam melihat perkembangan zaman. Nilai-nilai budaya yang telah tertanam dalam ritus kehidupan sosial merupakan fakta sosial yang menjadi pedoman sikap dan pola pikir setiap individu.

Teknologi dengan perangkat kecanggihannya tidak selalu menjadi primadona dan dapat diterima oleh masyarakat. Sebab, ada jarak yang diciptakan ketika sebuah inovasi ditawarkan dalam kehidupan sosial. Sementara itu, unsur-unsur kebudayaan yang telah dirawat berdasarkan kebutuhan anggota masyarakat akan selalu menjadi acuan dalam mengambil keputusan.

Berita ihwal mesin tanam padi yang tak diminati oleh petani di Kota Bima merupakan realitas yang menjelaskan bahwa penerapan teknologi terhalang oleh kesiapan individu atau yang biasa dikenal sebagai user. Dalam persepktif sosiologi, situasi tersebut dikenal sebagai cultural lag; ketika inovasi sebuah teknologi yang hadir di tengah kehidupan sosial berlangsung terlalu cepat serta berbanding terbalik dengan kesiapan para individu untuk menerimanya.

Simak pernyataan Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan Kota Bima, Darwis, “…Tapi para petani merasa terlalu repot saat digunakan di lahan persawahan”.

Meskipun telah berupaya memberikan pelatihan, respon petani tetap lebih menyukai sistem pertanian yang konvensional.

Oleh karena itu, sosialisasi yang intensif yang dibarengi dengan pelatihan yang berkelanjutan barangkali menjadi salah satu solusi yang dapat dilaksanakan pada masa yang akan datang. Fasilitas mesin tanam padi tentu saja akan memberikan kemudahan dalam proses bercocok tanam dan mempercepat waktu pengerjaan.

Meskipun demikian, pemerintah juga perlu meninjau kesiapan dan memerhatikan nilai-nilai lokal yang masih diterapkan dalam satu wilayah. Selama metode konvensional masih mampu memproduksi hasil yang maksimal dan mampu memenuhi kebutuhan produksi, distribusi, dan konsumsi, maka kita pun layak mengapresiasinya.

*Dosen Sosiologi di Universitas Nasional, Jakarta

Komentar

Kabar Terbaru