oleh

Psikotes Tidak Perlu Belajar Extra

-Opini-33 kali dibaca

Oleh: Abdul Mufakhir, S.Psi, M.Ak*

Abdul Mufakhir. Foto: Ist

Kata tes berasal dari bahasa latin Testum, yaitu alat untuk mengukur tanah. Dalam bahasa Prancis kuno kata tes berarti ukuran yang dipergunakan untuk membedakan emas dan perak dari logam-logam lain. Lama-kelamaan arti test menjadi lebih umum. Di dalam lapangan psikologi kata test mula-mula digunakan oleh J.M. Cattel pada tahun 1890. Dan sejak itu makin populer sebagai nama metoda psikologi yang dipergunakan untuk menentukan (mengukur) aspek-aspek tertentu daripada kepribadian.

Perkembangan tes psikologi bila ditelusuri sudah ada sejak jaman sebelum masehi dimana tes psikologi berskala besar pertama kali digunakan oleh kekaisaran Cina. Gunanya tidak lain untuk menilai setiap kandidat berdasarkan kemampuan mereka dalam topik-topik seperti hukum perdata dan kebijakan fiskal. Fungsi tes sendiri dilakukan agar bisa mengukur perbedaan anatara individu atas berbagai reaksi satu sama lain yang berbeda. Tes psikologi dirancang untuk mengukur konstruksi yang tidak teramati, yang dikenal juga dengan sebutan variabel laten. Kemudian psikotes berkembang masuk ketiap wilayah pekerjaan dalam merekrut pegawai sipil maupun militer, termasuk dalam perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Tes psikologi atau lebih dikenal dengan istilah psikotes secara umum kita dapat mengklasifikasi dalam 2 wilayah test yakni kognitif (tes intelegensi, tes bakat, tes pretasi) dan tes non kognitif (tes keperibadian, tes minat, tes nilai).

Tes psikologi pada dasarnya harus bebas budaya, setiap orang baik orang pedalaman yang tanpa mengeyam pendidikan maupun orang yang tinggal dikota yang telah mengenyam pendidikan ketika dihadapakan pada tes yang sama harusnya bisa mengerjakannya misalnya dalam tes grafis (menggambar orang). Karena interpretasi tes bukan hasilnya tapi proses atau cara membuatnya. Sama halnya ketika waktu kecil apabila hasil skor tes intelegensinya 120, maka ketika dewasa tidak akan berubah hasilnya lebih kurang skoringnya akan tetap sama.

Alat tes psikologi banyak ragamnya dan ribuan banyaknya tergatung aspek keperibadian dan pemilihan penggunaan alat tes psikologi sangat dipengaruhi segmen umur yang ingin dites. Ketika berhadapan dengan psikotes banyak peserta yang khawatir karena belum belajar dan menjadi momok yang menakutkan bagi pelamar tes CPNS, karena merasa tes ini sulit, padahal sebenarnya tes psikologi itu sangat mudah hanya perlu konsentrasi dan kesiapan mental untuk mengerjakannya, selebihnya tergantung pada tingkat intelegensi nya.

Mengerjakan tes psikologi bukan seperti memecahkan soal matematika yang harus detail menggunakan rumus sampai mendapatkan hasilnya. Pemahaman terhadp konsep matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan rumus dasar seperti luas kubus, balok dan lain-lain seharisnya sudah dipahami sejak bangku SMA. Banyak diantara peserta tes harus kehabisan waktu karena harus menghitung sampai mendapat hasilnya, padahal hal ini keliru, karena tes psikologi itu lebih pada kecepatan berpikir/ logikanya. Sehingga meskipun beberpa kali mengikuti apabila memang kemampuan intelegensi dibawah rata-rata, maka kemungkinana lulus tes hanya 30% saja. Tidak heran bila seorang anak memiliki intelegensi tinggi hanya belajar seadanya, namun sekali tes dapat lulus, tentu nya tidak lepas dari kemampuan intelegensinya.

Tes intelgensi memliki Range masing-masing dalam skoring, misalnya 140 jenius, 110-120 cerdas dan dibawah 80 kategori idiot/bodoh. Dalam tes intelegensi The Weshsler Adult Intellegence Scale-Revised (WAIS-R) umumnya bentuk soal tes nya ada beberapa macam kategori seperti Information (informasi), Comprehention (pemahaman), Arithmatic (Hitungan), Similarities (Kesamaan), Vocabulary (kosa kata), Digit Span (Rentang Angka), Picture Compleion (kelengkapan gambar), Picture Arrangement (susunan Gambar), Block Design (Rancangan Balok), Object Assembly (Perakitan objek), Digit Symbol (simbol angka). Bentuk tes tersebut dalam beberapa alat tes termasuk tes perekrtutan CPNS kurang lebih sama bentuk tesnya.

Demikian pula halnya dengan tes keperibadian seperti tes Sack sentences Completion Test (SSCT). Umumnya aspek keperibadian yang ingin diungkap adalah Hubungan dengan Keluarga (sikap terhadap ibu, sikap terhadap ayah, sikap terhadap hubungan keluarga), Kehidupan seksual (Sikap terhadap wanita, Sikap terhadap kehidupan seksual) Hubungan antar Pribadi ( Sikap terhadap teman dan kenalan Sikap terhadap pimpinan, Sikap terhadap bawahan, Sikap terhadap teman sekerja) dan konsep diri (Bentuk-bentuk ketakutan, Perasaan bersalah, Sikap terhadap kemampuan diri, Sikap terhadap masa lalu, Sikap terhadap masa depan, dan Cita-citanya). Tes tersebut tentunya mirip dengan aspek yang diuangkap juga dalam tes –tes keperibadin lain seperti dalam tes CPNS. Pada dasarnya waktu pengerjaan tes kepribadian itu tidak terbatas, namun dalam kondisi tertentu secara umum dibatasi agar penyelesainnya serempak. Selain itu tes keperibadian itu tidak ada benar dan salah karena ingin mengukap kepribadian apa adanya. Ciri lain tes keperibadian setiap soal harus di isi karena setiap soal akan diskoring berdasarkan aspek yang diungkap. Sehingga tidak ada alasannya para peserta tes takut untul mengisi tes keperibadian.

Bila dalam konteks tes CPNS ini seharusnya peserta harus lebih berkonsentrasi dalam tes wawasan kebangsaan (TWK), karena tes tersebut perlu belajar ekstra untuk memahami dan menghafalnya. Sementara tes intelegensi dan tes kepribadian yang diperlukan adalah konsentrasi dan kesiapan mental untuk bisa mengoptimalkan potensi diri yang ada. Banyak peserta yang gagal dalam tes hanya karena rasa takut belum mantap dalam belajar dan grogi ketika berhadapan dalam mengerjakan tes.

Penggunaan skoring secara cepat dengan model tes CAT (computer assisted test) ini dapat mengurangi potensi terjadi kecurangan dan bahkan hamper tidak mungkin untuk ‘bermain’ curang karena di awasi dan melibatkan berbagai kementrian/institusi pemerintah dalam membuat soal, pendistribusian serta pengawasan jalannya tes. Sehingga mau tidak mau segala potensi untuk bisa lulus tes CPNS seharusnya bisa dioptimalkan dari dalam diri peserta sendiri bukan bantuan orang lain apalagi menggunakan sogokan. Masyarakat terutama orang tua peserta tes di kabupaten/Kota Bima harus dapat tercerdarkan untuk tidak lagi menggunakan upaya-upaya suap demi meluluskan putra-putrinya sehingga mendudukung upaya pemerintah untuk bisa menjadi model birokrasi yang semakin mendekati tata pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good governance ). Karena cara-cara seperti itu sudah tidak jaman lagi sekarang mengingat birokrasi jaman mellineal dengan kemajuan tekhnolgi CAT saat ini sulit bermain curang, maka akan sia-sia saja bila para orang tua berusaha menyogok oknum-oknum pejabat yang bermain te’e katotu dalam mencari peserta yang bisa di manfaatkan mendapatkan keuntungan.

*Pemerhati Sosial Bima

Komentar

Kabar Terbaru