oleh

Strategi Menekan Laju Eksponensial Kasus Covid-19

-Opini-30 kali dibaca

Oleh: dr. Arif Budiman*

dr. Arif Budiman

Outbreak kasus Covid-19 yang disebabkan oleh virus Corona SARS-CoV2 harus menjadi perhatian serius bagi para praktisi kesehatan. Oleh karenanya pencegahan  dan control terhadap penyakit tersebut dibutuhkan pengetahuan yang baik dan partisipasi dari publik, sehingga dampak dari penyakit tersebut dapat diminimalisir dan epidemik dari penyakit dapat terkontrol dengan baik.

Sebaran kasus Covid-19 terus meningkat sebagian besar Negara didunia mengalami dampak pandemic Covid-19 termasuk di Indonesia. Sampai per tanggal 25 Maret 2020 jumlah kasus terkonfirmasi di Indonesia 790 kasus dengan kasus yang mengalami kesembuhan 31 kasus dan meninggal 58 kasus. Data ini mencerminkan Indonesia termasuk Negara yang  terkena dampak serius dari pandemic Covid-19. Hampir seluruh daerah di Indonesia mulai menemukan kasus konfirmasi positif Covid-19 termasuk di propinsi Nusa Tenggara barat dengan jumlah kasus pertanggal 25 Maret 2019 dipastikan 2 kasus positif. Dengan demikian kasus ini sudah mulai memasuki rel Grafik eksponensialnya. Menyimak hal tersebut menjadi penting bagi kita untuk terus meningkatkan intervensi sehingga penambahan kasus dapat ditekan seoptimal mungkin.

Predileksi Covid-19 yang terus bertambah jika tidak dilakukan intervensi akan mengakibatkan penambahan kasus secara eksponensial berjalan secara alamia yang dapat memberikan kerugian yang besar bagi kita, baik kerugian secara ekonomi maupun jumlah korban yang meninggal akan meningkat secara tajam seperti yang terjadi di Italia. Kerugian lain yang bisa ditimbulkan yaitu kemampun Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) tidak mampu menampung jumlah kasus Covid-19 tersebut. Secara alamia wabah penyakit menular biasanya setelah mencapai puncak eksponensialnya akan berangsur-angsur turun dikarenakan sudah muncul kekebalan kelompok ditengah masyarakat (herd Immunity). Kekebalan kelompok muncul akibat setiap individu dalam kelompok tersebut mendapat vaksinasi alamiah dari individu yang terjangkit Covid-19 sehingga akan muncul orang sebagai carrier-carrier baru dalam penyebaran penyakit. Carrier merupakan sesorang yang membawa virus didalam badannya namun kondisi fisiknya tetap sehat tetapi tetap memiliki potensi menularkan kepada orang lain. Pada kasus penyakit Covid-19 Carrier sealnjutnya akan mampu menjadi orang sehat kembali atau virus didalam tubuhnya sudah dihancurkan oleh antibody yang ada dibadannya. Namun periode sampai Carrier tadi sampai sehat kembali menjadi periode yang mampu menularkan virus ke badan orang lain di sekelilingnya teruta kelompok rentan seperti lansia, orang dengan penyakit kronis atau orang dengan penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun. Oleh karenanya Carrier diibaratkan seperti buah simalakama karena satu sisi menyebabkan banyak orang akan kebal terhadap penyakit  akibat sudah tervaksinasi alamiah dan menyebabkan dampak kematian yang banyak jika menularkan kepada orang-orang dengan kelompok rentan tersebut.

Dengan demikian opsi membiarkan penyakit berjalan secara alamiah akan meningkatkan kasus secara cepat dan tidak terkendali dan selain itu korban yang meninggal akan bertambah secara signifikan. Oleh sebab itu opsi ini harus dihindari bersama karena jika dijalankan, maka pemerintah berarti telah melakukan genosida terhadap rakyatnya sendiri.  Jelaslah sekarang opsi yang harus kita tempuh bersama yaitu menekan peningkatan laju eksponensial kasus Covid-19 dengan memutus rantai penularan dengan menutup semua peluang gerak rantai penularan virus.

Langkah-langkah strategik yang harus kita lakukan bersama dan dipatuhi antara lain sebagai berikut :

Jika kita bisa menerapkan semua langkah strategic diatas secara bersamaan, maka kita akan mampu menekan laju eksponensial dengan cepat sehingga tidak akan terjadi over capacity Fasyankes yang ada dan para ahli epidemiologi dan tenaga kesehatan akan bekerja secara optimal untuk berperang terhadap kasus Covid-19 ini dengan tindakan yang tepat. Namun sangat disayangkan ke-empat langkah pencegahan tersebut tidak dijalankan secara paripurna, namun hanya dilakukan secara parsial yang mengakibatkan efektifitas pencegahan tidak berjalan dengan implikasi maksimal. Logika yang semestinya dijalankan seharusnya bagi daerah-daerah yang belum terpapar kasus covid-19 seharusnya yang terbaik adalah Lockdown terlebih dahulu agar sumber penularan dari luar wilayah tidak masuk ke wilayah tersebut tidak dilakukan malah yang banyak dipilih adalah langkah social distancing yang didahulukan walaupun dalam pelaksananya susah diterapkan karena membutuhkan kesadaran dari setiap elemen masyarakat untuk mentaatinya.

Rasa-rasanya agak susah dibayangkan jika kita menerapkan strategi karantina dan isolasi, Germas, dan social distancing jika sumber penularan dari luar wilayah tetap meneror daerah tersebut dan akhirnya lama-kelamaan wilayah tersebut akan terpapar oleh kasus Covid-19 konfirmasi positif. Ironi memang jika pemerintah menggembar-gemborkan Germas dan Sosialdistancing karena bila kita cermati masyarakat kita belum bisa menjalankannya dengan disiplin dan penuh kesadaran. Merubah prilaku adalah sesuatu yang sangat susah dilakukan secara cepat karena mesyarakat harus benar dipahamkan dan diberikan pengetahuan tentang hal tersebut secara intens dan bekelanjutan baru terjadi pergeseran paradigm berfikir. Oleh sebab itu seharusnya opsi yang paling gampang diambil sebenarnya adalah Lockdown terlebih dahulu baru dibarengi dengan strategi penanganan lainnya. Dalam kasus epidemic Covid-19 jika tidak segera dikendalikan secara optimal maka akan banyak jatuh korban, biaya yang dikeluarkan akan lebih banyak lagi dan akhirnyapun dampak perburukan ekonomi menjadi lebih parah.

*Juru Bicara Bidang Kesehatan Tim Cod-19 Kota Bima, Humas Rsud Kota Bima

Komentar

Kabar Terbaru