Pangeran Diponegoro: Buyut dari Bima, Makam di Makassar

Oleh: M Dahlan Abubakar*

Pangeran Diponegoro. Foto: Ist

Nama kecil Pangeran Diponegoro hampir tidak banyak diketahui orang. Nama kecil Diponegoro itu yang tak begitu banyak diketahui publik sama halnya dengan asal usul buyutnya. Yang justru banyak diungkap orang adalah, mengenal perjuangannya yang gigih melawan Belanda. Bahkan, orang tidak pernah menyebut-nyebut bahwa Pangeran Diponegoro memiliki darah Bima.

Dia lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dengan nama kanak-kanak Bendoro Raden Mas Mustahar. Ayahnya Sultan Hamengkubuwana III dengan ibu R.A. Mangkarawati. Pasangannya, Raden Ajeng Ratu Ratna Ningsih dari keturunan Jawa dan beragama Islam. Setelah nama kanak-kanak dia dikenal dengan nama Bendara Pangeran Harya Dipanegara dan kemudian kondang dengan Pangeran Diponegoro.

Dalam kronologi Jawa, tanggal kelahiran bakal calon Ratu Adil ini, tulis Peter Carey (“Takdir”: 2014), menunjukkan pertanda baik. Tepat pada bulan Jawa Sura, bulan pertama dalam almanak Jawa, ketika secara tradisional kerajaan-kerajaan baru didirikan dan siklus sejarah baru dimulai.

Carey mengutip Moentahdim (2014) mengatakan, secara mudah dapat dikatakan, sosok perempuan yang paling berpengaruh dalam diri Pangeran Diponegoro muda adalah nenek buyutnya, Ratu Ageng, seringkali disebut Ratu Ageng Tegalrejo, anak perempuan Kiai Ageng Derpoyudo. Guru agama kondang yang dimakamkan di Majangjati, dekat Sragen.

“Leluhur Ratu Ageng dapat dilacak dari sisi ibunya hingga ke Sultan Bima I Abdul Kahir (1583-40 memerintah 1621-40),” tulis Carey sebagaimana dikutip dari tulisannya tahun 2008.

Kakek moyangnya, Kiai Ageng Datuk Sulaiman alias Kiai Sulamen Bekel Jamus (lahir 1601) adalah anak tertua Sultan Abdul Kahir dan ulama asal Bima, Sumbawa yang sangat terhormat. Ia telah menghabiskan banyak waktu di Jawa mendalami ilmu di pesantren ternama dan dan menikahi putri sang guru agama terkemuka dari Jawa Timur, Kiai Wiroyudo, dan dimakamkan di Sikuwoati.

Catatan yang agak lengkap tentang silsilah Kiai Ageng Datuk Sulaiman ini ditulis oleh Dzul Amirulhaq yang berjudul “Haji Datuk Sulaiman, Pangeran Bima Di Tanah Rantau: Leluhur Pangeran Diponegoro”. Tulisan itu dimuat di htpp://www.babuju.com 20 Juli 2012 yang juga dijadikan rujukan oleh Carey dalam bukunya yang berjudul “Takdir” (hlm :11 dan 106).

Abdul Kahir yang disebut-sebut Carey sebagai keturunan Pangeran Diponegoro dari sisi ibunya merupakan Sultan Bima I yang memerintah 1620-1640. Pada masa kesultanannya, agama Islam baru belasan tahun menjadi agama yang dianut rakyat di Kerajaan Bima.

Sebelum agama Islam masuk ke Pulau Sumbawa dan Bima pada khususnya, rakyat sudah mengenal agama. Lalu Wacana dkk (1991: 59) mengatakan, sebelum agama Islam masuk Pulau Lombok, penduduk menganut agama Hindu dan Budha-Budhi. Di Pulau Sumbawa kebanyakan agama “fetish” (pemujaan) atau “fetisch” (animisme) dan selebihnya Hindu.

Agama Islam masuk ke Lombok pada abad XVI dibawa oleh Sunan Prapen putra Sunan Giri. Dalam perjalanannya ke Lombok, dia juga meneruskan tugasnya ke Pulau Sumbawa. Sehingga, Pulau Sumbawa selain memperoleh pengaruh dan agama Islam dari Jawa, juga dari Sulawesi Selatan pada abad XVII.

Mengutip buku Tanbo yang berada di Istana Bima, Ahmad Amin (1971: 49) menyebutkan, rakyat di daerah ini dulu menganut agama Syiwa. Agama Islam menyebar ke Bima dan Sumbawa umumnya, tidak dapat dipisahkan dari hubungan politik maupun perekonomian dengan kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan.

Menurut Ahmad Amin, sejarah masuk dan perkembangan agama Islam di Bima mencakup periode yang panjang. Pada masa mulai dilantik sebagai Raja Bima XXVII RUMA TA MA BATA WADU sudah mulai melihat adanya gejala-gejala keonaran dan kekacauan di dalam kerajaannya, Bahkan terbetik berita bahwa pamannya bermaksud merebut kedudukannya. Benar juga, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh pamannya yang mengakibatkan sang Raja terpaksa melarikan diri, Beberapa pengikutnya pun ikut dalam pelarian itu yang menuju ke Wera, Bima Utara.

M Dahlan Abubakar. Foto: Ist

Di Pelabuhan Nanga Kandang (Wera), menggunakan perahu beliau menyeberang ke Sulawesi. Angin timur membawa perahu yang ditumpanginya dan terdampar di sekitar Bantaeng. Tujuan pelariannya ke Sulawesi itu adalah memohon bantuan Raja Gowa agar dapat merebut kembali mahkota kekuasaan yang sudah direbut pamannya. Dia menyampaikan maksudnya kepada Raja Gowa di Istana Gowa.

Raja Gowa bersedia membantu tentu dengan syarat. Bila mahkota Bima berhasil direbut kembali, Raja Bima hendaknya bersedia mengizinkan penyebaran agama Islam di daerah Bima. Kerajaan Gowa sendiri pada saat itu telah menjadi suatu Negara Islam.

Sebelum menyatakan kesediaannya memenuhi syarat yang diajukan Raja Gowa tersebut, cukup lama juga bagi RUMA TA MA BATA WADU berhasil menyelidiki dan mempelajari sekali akan segala pelajaran, tindak tanduk dan segala cara di dalam seseorang yang menganut agama Islam. Malah tata cara pemerintahan Islam pun diselidiki dengan sewajarnya di Kerajaan Gowa tersebut. Akhirnya, Baginda sendiri sangat berkenan memeluk agama Islam sekaligus mengucapkan kalimat syahadat.

Seiring dengan pernyataan memeluk agama Islam, Raja Bima bersedia menyetujui syarat-syarat yang dikemukakan Raja Gowa. Bahkan, Raja Bima bertekad benar-benar memberikan bantuan sebesa-besarnya demi tersebarnya syiar agama Islam di Bima kelak. Raja Gowa pun bukan hanya mau membantu, melainkan juga Raja Bima yang masih muda belia itu dijadikan menantu. Perkawinan antara Raja Bima dengan putri Gowa yang namanya adalah I Patimang Dg. Nisakking Karaeng Bonto Je’ne.

Usai pernikahan, bulan Rabiul Awal tahun 1050 H atau (1640) M berangkatlah iring-iringan Raja Bima yang kemudian bergelar Sultan Abdul Kahir menuju Bima. Tujuannya, merebut kembali mahkota kerajaan yang telah pindah tangan kepada pamannya. Sultan Abdul Kahir memperoleh bala bantuan angkatan perang mertuanya. Sultan Bima ditemani dua orang gurunya, yang juga guru Raja Gowa, yaitu Datuk dua bersaudara yang berasal dari Pagaruyung yang bernama Abdurrahman Gelar Datuk Ribandang dan Abdurrahim Gelar Datuk ri Tiro.
Masih di bulan Rabiul Awal, rombongan Sultan Bima yang diperkuat rangkatan perang Gowa tiba di Bima. Kedua angkatan perang itu bertempur dan Sultan Bima berhasil merebut kembali mahkota kekuasaannya. Tahta kerajaan pun diduduki oleh RUMA TA MA BATA WADU dengan gelar baru Sultan Abdul Kahir.

Sudah menjadi kebiasaan, jika rajanya telah menganut sesuatu agama, maka rakyatnya pun turut memeluk agama tersebut. Demikian halnya dengan rakyat Bima pada masa itu. Semuanya memeluk agama Islam. Namun ada sebagian kecil rakyat yang menolak memeluk agama Islam. Mereka kemudian terdesak dan menghindarkan diri ke pegunungan. Mereka ini adalah orang-orang yang kemudian dikenal dengan nama orang Donggo.

Pada umumnya, tulis M  Hilir Ismail (2004: 64) rakyat pada umumnya mudah menerima ajaran Islam, karena tidak bertolak belakang dengan ada yang sudah dikenal sejak masa Ncuhi. Mereka yang masih enggan menerima agama Islam berpindah ke pedalaman dan bermukim di daerah pemukiman sebelah Barat Teluk Bima, dan bergabung dengan Dou Donggo Ipa (Orang Donggo Seberang) sekarang.

Apa yang dilakukan orang Donggo itu sama dengan yang dikemukakan Wacana (1991: 59) terhadap orang Lombok yang tidak mau memeluk agama Islam. Mereka melarikan diri ke gunung-gunung dan daerah terisolasi seperti Tebango, Pengantap, Ganjar, Tendaun, dan Pejarakan Ampenan. Mereka kebanyakan menganut agama Budha-Budhi dan selebihnya Hindu.

Begitulah kisah perjalanan buyut Pangeran Dipoengoro di lintasan sejarah. Pangeran Dipenogoro sendiri setelah ditangkap di Magelang lalu diasingkan ke Gedung Karesidenan Semarang, di Ungaran. Dia dibawa ke Batavia pada 5 April 1830 menggunakan kapal “Pollux”. Pangeran Diponegoro tiba di Batavia pada 11 April 1830 dan ditawan di Stadhuis (Gedung Museum Fatahillah).

Pada 30 April 1830, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama istri keenamnya bersama Tumenggung Dipasena dan istrinya serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna. Mereka tiba di Manado pada 3 Mei 1830 dan ditawan di Benteng Amsterdam.

Peter Carey sejarawan Inggris yang menghabiskan waktunya 30 tahun meneliti tentang Pangeran Diponegoro mengatakan, Gubernur Jenderal AJ Duymar van Twist mengeluarkan perintah rahasia bahwa keluarga Diponegoro tetap diperlakukan sebagai orang dalam pengasingan dan hanya diperbolehkan berada di Makassar. Mereka mendapatkan tunjangan 6000 gulden yang dibayarkan melalui keraton Yogyakarta.

Pada tahun 1834, Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855 pukul 06.30 pagi. Tujuh hari kemudian, anak dan istrinya memutuskan untuk tetap tinggal di Makassar. Makamnya kini terdapat di Jl. Diponegoro, Kecamatan Wajo Kota Makassar, tak cukup 1 km dari Pelabuhan Makassar.

*Penulis, Wartawan Senior, Akademisi, Penulis Buku, Putra Bima dan Tinggal di Makassar

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *