oleh

Figur H Arifin dan Peta Pilkada Kabupaten Bima 2020

-Opini-20 kali dibaca

Oleh: Muslihun*

Muslihun Yakub

H Arifin secara tegas dan prinsip memilih opsi sebagai 01 dalam Pilkada Kabupaten Bima 2020. H Arifin diusung secara bulat oleh DPP Partai Demokrat. Banyak yang bertanya, H Arifin berpasangan dengan siapa? Lewat partai apa saja? Sekali lagi H Arifin tidak memikirkan itu.

H Arifin hanya fokus berfikir menemukan problem apa dan bagaimana menjawab problem itu dalam konteks Kabupaten Bima. Itu penting sebagai dasar pijakan awal untuk menentukan bagaimana otoritas kekuasaan dipergunakan sebagaimana yang seharusnya.

H Arifin tahu dan sadar betul bahwa meraih kekuasaan jauh lebih muda daripada menjalankan kekuasaan. Dengan “uang” kekuasaan bisa diraih. Tetapi tanpa ide, tanpa gagasan, tanpa pengalaman, kekuasaan tidak bisa dikelola dengan baik.

H Arifin sedang bergerak mengurai itu. Ia menjelma sebagai simbol konfrontasi untuk memecahkan anomali dan paradoks pembangunan dari praktek politik yang sarat penyimpangan dilevel elit dan sarat ketimpangan dilevel masyarakat bawah.

H Arifin kapabel mengurai anomali dan parodoks pembangunan. Itulah tesis yang mendasari Partai Demokrat mengusung H Arifin. Harus diakui, ada titik temu idealisme DPP Partai Demokrat dengan kematangan H Arifin sebagai sosok yang mewarnai hidupnya sebagai mantan abdi negara dan abdi rakyat.

Uji konsolidasi lapangan juga membuktikan itu dilihat dari arus respon penyambutan publik. Publik yang mendambakan adanya kebaruan dan pembaharuan belum bisa bergerak leluasa akibat tekanan oligarki yang cukup lama.

Sejauh arus bawah bisa dirapikan melalui gerakan moral yang berpihak maka simbol oligarki dilevel atas akan roboh dengan sendirinya.

H Arifin tidak sekedar bermaksud mengganti “isi rumah”. Tetapi juga punya niat dan rencana membangun rumah baru yang nyaman dan indah bagi semua golongan. Dukungan anak-anak yatim sudah lebih dari cukup untuk memastikan kehormatan perjuangan.

 Bagaimana Peta Pilkada?

Mudah sekali untuk diurai bahwa pasangan petahana adalah simbol terkuat yang bisa mengambrukan rumah politik pasangan Syafaad.  Secara politik petahana dikawal oleh Partai Golkar, Partai Gerindra, PKB, PPP, PBB. Syafaad berdiri gemetar hanya dengan partai PAN. Sementara arus terkuat Nasdem tertuju ke petahana. Tapi juga belum 100 persen menutup peluang pasangan Syafaad.

Pasangan IMAN mengalami problem elektoral diarus bawah. Konsolidasi politik yang mengendarai isu agama terbukti secara ilmiah dan metodologis gagal total mendongkrak popularitas dan elektabilitas IMAN.

Kendaraan politik pasangan IMAN sudah cukup sebagai tiket kompetisi. PKS, Hanura, PDIP. Tapi bagaimana mungkin menemukan keindahan kompetisi bila mobil yang ditumpangi sudah lebih dulu sadar gagal melihat arah. IMAN tidak bekerja, juga AMAL tidak kelihatan.

Keterjepitan pasangan Syafaad adalah dampak langsung dari gabungan kerja politik IMAN dan petahana merapikan dukungan parpol pengusung.  H Arifin sedang memanen kebahagian itu.

H Arifin adalah simbol sukses story menjaga persahabatan dengan kawan politik. Juga ancaman bagi  yang merawat kemiskinan dan pengangguran.

Apa yang membahayakan H Arifin dari segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi? Jawabannya “tidak ada”! Itulah sisi heroik seorang mantan ASN yang menjiwai martabat anak yatim.

*Staf Anggota DPD RI

Komentar

Kabar Terbaru