oleh

Belajar Dari Rumah: Persepsi dan Kompromi Atas Perubahan

-Opini-0 kali dibaca

Oleh: Muhammad Irfan*

Muhammad Irfan. Foto: Ist

Keputusan bersama empat kementrian dalam menyikapi tahun ajaran dan akademik pada masa Pandemi Covid-19, jelas meluruskan tugas masing-masing pihak. Salah satunya keputusan pembukaan sekolah tak jadi kewenangan mutlak dari kepala daerah atau kepala dinas terkait.

Pengambilan keputusan dilakukan secara penjejangan tetapi tidak sebagai “hierar chical“. Masing-masing elemen mempunyai kekuatan sama untuk menentukan dan mengambil keputusan, bahkan sampai pada tingkat orang tua.

Implikasi keputusan bersama tersebut, yaitu mengajak berbagai pihak untuk bersama – sama berpikir dan bekerjasama sesuai dengan tugas yang dilakoni. Secara prinsip harus ada satu tatanan distribusi tugas yang berimbang dan berkesetaraan sebagai suatu kompromi ekosistem yang ada di sekolah, orang tua atau keluarga dan masyarakat.

Persepsi yang Berkembang

Terbuka kemungkinan isu pembukaan sekolah disalah tafsirkan sejumlah pemimpin daerah sebagai indikator keberhasilan kinerja kepemimpinan. Mereka bisa berasumsi, tak menyegerakan pembelajaran tatap-muka sebagai kegagalan janji kepada masyarakat.

Harusnya, dalam situasi yang penuh ketidakpastian, kompromi “hati dan jiwa” dari berbagai pemangku kepentingan menjadi pemilihan utama dalam pengambilan kebijakan di daerah. Prinsip kesehatan dan keselamatan, mungkin menjadi basis pembuatan kebijakan yang terbaik saat ini.

Selama beberapa bulan Belajar Dari Rumah (BDR), muncul keluhan pihak sekolah yang mengindikasikan belum optimalnya peran serta keluarga atau orang tua dalam proses pendampingan.

Kendala yang dihadapi nyaris identik. Baik mereka yang tinggal di perkotaan, perdesaan, maupun daerah terpencil. Apakah semua orang tua di perkotaan tidak mengalami hambatan penguasaan teknologi ketika mendampingi anak-anaknya belajar?

Apakah semua orang tua di perkotaan mampu mendukung pemenuhan belanja paket pulsa? Apakah orang tua yang bekerja tidak memiliki waktu untuk mendampingi anak- anaknya dibandingkan orang tua yang tidak bekerja?

Jelas terlihat, komponen ekosistem pendidikan yang ada masih belum siap menghadapi situasi pembelajaran bukan tatap muka. Umumnya, orang tua masih terpaku pada paradigma bahwa sekolah bertanggung jawab sepenuhnya atas pendidikan anak- anak.

Ditengarai, hal tersebut terjadi karena belum terwujudnya komunikasi atau dialog yang mengangkat isu “siapa melakukan apa?”

Pentingnya Kompromi

Keluhan-keluhan yang muncul, mengindikasikan masih banyak dari kita yang belum siap berubah, yang sering disebut milenial di sebut belum bisa move-on. Banyak yang lebih menyukai hal-hal bersifat “kenyamanan”.

Keluhan para orang tua diduga karena selama ini, mereka mendapat tingkat kenyamanan luar biasa. Urusan anak-anak sepenuhnya diserahkan, dipercayakan, dan dimandatkan kepada pihak sekolah.

Bagi orang tua, yang penting atau pokoknya sudah menyelesaikan kewajiban membayar uang sekolah. Menarik ketika orang tua mengeluhkan betapa susahnya berinteraksi dengan anak sendiri.

Mereka baru menyadari beban guru yang harus menghadapi keberagaman karakter siswa, juga banyak guru mengeluhkan berbagai keterbatasan, yaitu di samping amanah sebagai orang tua kedua bagi anak-anak, juga beban yang sifatnya administratif terkait profesinya.

Belajar dari rumah banyak memberikan pembelajaran banyak hal kepada kita. Orang tua suka atau tidak, harus mengambil sebagian peran guru. Peran tersebut tidak hanya mendampingi, tetapi sekaligus dapat “ bersahabat dan berdamai “ dengan teknologi. Sejauh mana orang tua dapat melakukan peran-peran dimaksud akan berimplikasi terhadap tingkat keluhan dan tingkat stress.

Guru yang selama ini abai terhadap penguasaan teknologi alias gagap teknologi, harus segera menyadari, guru tidak hanya menggunakan pola konvensional sehingga harus melakukan kunjungan rumah (home visit) selama masa pandemi.

Manusia Baru Berkompromi

Belajar dari rumah mengajarkan kita untuk mau menjadi “manusia baru“ salah satu maknanya, kita harus cepat berkompromi terhadap berbagai perubahan cara berpikir “kalau dulu” atau “seharusnya” begini dan begitu, harus segera ditinggalkan dan ditanggalkan.

Mampukah proses kompromi itu dilakukan? Menarik untuk mengutip Tryon Edwards (1809-1894), seorang teolog dari Amerika Serikat mengenai kompromi dan kegagalan kompromi. Edwards mengatakan “ kompromi adalah pengorbanan dari satu hak atau kewajiban dengan harapan mempertahankan yang lain, tapi terlalu sering berakhir dengan hilangnya keduanya”.

*Praktisi Pendidikan, Kepala LPMP NTT

Komentar

Kabar Terbaru