Kabar Kota Bima

Dari Anak Guru ke Doktor Summa Cum Laude, Kisah Taman Firdaus Menginspirasi

1
×

Dari Anak Guru ke Doktor Summa Cum Laude, Kisah Taman Firdaus Menginspirasi

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Tidak semua perjalanan menuju puncak dimulai dengan langkah besar. Bagi Taman Firdaus, semuanya berawal dari mimpi sederhana seorang anak guru, yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

Taman Firdaus saat mendapatkan gelar Doktor Summa Cum Laude. Foto: Ist

Perjalanan panjang itu akhirnya berbuah manis. Guru SMA Negeri 4 Kota Bima tersebut resmi menyandang gelar Doktor Teknologi Pendidikan, setelah dinyatakan lulus dengan predikat Summa Cum Laude, penghargaan akademik tertinggi, dalam ujian terbuka Program Doktor Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Bali, Selasa 4 Juli 2026.

Di hadapan 10 dewan penguji, Taman Firdaus berhasil mempertahankan disertasinya dengan sangat baik. Hasilnya, ia dinyatakan lulus dengan predikat Summa Cum Laude, sebuah capaian yang hanya diberikan kepada lulusan dengan prestasi akademik luar biasa.

Bagi Taman Firdaus, keberhasilan itu bukan sekadar tentang menyandang gelar doktor. Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang penuh kerja keras, disiplin, serta keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus terus diperjuangkan, apa pun latar belakang seseorang.

Sebagai putra seorang guru, ia tumbuh dengan nilai-nilai kesederhanaan dan kecintaan terhadap dunia pendidikan. Nilai itulah yang membentuknya hingga tetap konsisten menempuh pendidikan tinggi, di tengah kesibukannya mengajar di SMA Negeri 4 Kota Bima dan mengemban amanah sebagai anggota Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bima.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia pendidikan di Kota Bima. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi para pendidik, Taman Firdaus membuktikan bahwa seorang guru tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga terus belajar untuk meningkatkan kualitas diri.

Baginya, gelar doktor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan.

“Predikat dan gelar ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi menjadi tanggung jawab yang harus saya wujudkan melalui pengabdian bagi kemajuan pendidikan di NTB, khususnya di Kota Bima,” ungkapnya, Rabu 5 Agustus 2026.

Kisah Taman Firdaus menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan ketekunan, konsistensi, dan semangat belajar sepanjang hayat, seorang anak guru dari Bima mampu menorehkan prestasi akademik tertinggi di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Harapannya, capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para guru, mahasiswa, dan generasi muda untuk terus mengejar ilmu pengetahuan, melakukan riset, serta menghadirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

*Kahaba-01