Kabar Kota Bima

Lambe Rima Talks Bongkar Keresahan Anak Muda, Mulai Pendidikan, Budaya hingga Tata Kelola Kota

1
×

Lambe Rima Talks Bongkar Keresahan Anak Muda, Mulai Pendidikan, Budaya hingga Tata Kelola Kota

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Keresahan anak muda Bima terhadap pendidikan, identitas budaya, hingga tata kelola daerah mengemuka dalam diskusi publik Lambe Rima Talks Vol. 2, Minggu 13 September 2026. Diskusi daring tersebut mengangkat tema “Curhat Anak Muda Kota Bima: Ma Toi Ma Nuntu Dana Ro Rasa” dan digelar Lambe Rima bersama Under Socpol.

Diskusi publik Lambe Rima Talks Vol. 2. Foto: Ist

Diskusi dipantik Founder Lambe Rima Omar Qilya dan Founder Under Socpol Afif Baihaqi tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa rantau, serta aktivis muda asal Bima.

Persoalan pendidikan menjadi salah satu keresahan utama. Peserta menyoroti masih terbatasnya ruang bagi lulusan perguruan tinggi, untuk mengembangkan diri dan berkontribusi di daerah.

Mereka juga mengkritisi anggapan bahwa kuliah di mana pun hasilnya sama, serta stigma terhadap anak muda yang memilih menempuh pendidikan di luar daerah maupun perguruan tinggi lokal.

Kesenjangan kepercayaan diri antara anak muda dari daerah dan kota juga menjadi perhatian. Peserta menilai, relasi psikologis antara orang tua dan anak perlu diperkuat agar perbedaan pandangan mengenai pendidikan dan masa depan tidak menjadi penghambat.

Perguruan tinggi lokal turut mendapat sorotan. Peserta mendorong dukungan akademik yang lebih serius, termasuk pembenahan fasilitas, infrastruktur dan suprastruktur pendidikan.

Di bidang kebudayaan, peserta mempertanyakan identitas Kota Bima di tingkat nasional. Mereka menilai mempertahankan identitas budaya bukan berarti menolak perubahan, tetapi memastikan nilai-nilai lokal tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Nilai dan sejarah Bima sebagai “Tanah Para Sangiang” serta filosofi “Maja Labo Dahu” dinilai perlu terus dihidupkan. Peserta juga mendorong penguatan literasi dan pemanfaatan media sosial untuk melawan stigma, serta memperkenalkan identitas Bima secara lebih luas.

Sementara dalam isu tata kelola kota, peserta menilai komunitas anak muda mulai aktif bergerak, namun suara dan gagasan mereka belum sepenuhnya terdengar di tingkat pengambil kebijakan.

Kritik juga diarahkan pada pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan Pokok Pikiran (Pokir) Dewan, yang dinilai sebagian peserta berpotensi lebih mengakomodasi kepentingan kelompok atau konstituen tertentu dibanding kepentingan publik secara luas.

Selain itu, peserta menyoroti sejumlah persoalan di lapangan, termasuk keberadaan usaha yang bersinggungan dengan aktivitas ilegal, serta mendorong agar ruang dialog anak muda diperluas melalui diskusi luring di Kota maupun Kabupaten Bima.

Founder Lambe Rima, Omar Qilya mengatakan, Lambe Rima Talks merupakan upaya membuka ruang bagi anak muda untuk menyampaikan ide, gagasan dan keresahan mereka.

“Lewat tema curhat anak muda Kota Bima kali ini, kami berharap Lambe Rima bisa terus menjadi wadah bagi seluruh anak muda di Bima untuk menyalurkan energi, waktu, dan pikiran mereka menjadi sesuatu yang positif,” ujarnya.

Menurut Omar, ruang seperti ini penting karena masih terdapat kesenjangan antara suara anak muda, dan perhatian pemerintah terhadap gagasan mereka.

Sementara Founder Under Socpol, Afif Baihaqi menyambut positif antusiasme peserta. Dirinya berharap diskusi serupa dapat terus digelar, hingga akhirnya menghadirkan pertemuan secara langsung di Kota maupun Kabupaten Bima.

“Keaktifan puluhan pemuda yang hadir menjadi sinyal bahwa anak muda Bima sangat kritis dan cukup cakap untuk berbicara demi tanah kelahirannya sendiri,” katanya.

Lambe Rima Talks Vol. 2 menegaskan adanya keresahan yang sama di kalangan anak muda Bima, terutama terkait pendidikan, identitas budaya dan tata kelola daerah. Diskusi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai ruang curhat, tetapi menjadi pemantik agar suara dan gagasan generasi muda sampai kepada para pengambil kebijakan.

*Kahaba-01