Kota Bima, Kahaba.- Senyum itu tak pernah lepas dari wajah Saimah binti Muhammad Kuba. Keriput yang menghiasi wajahnya seakan menjadi catatan panjang perjalanan hidup seorang perempuan sederhana, yang menghabiskan sebagian besar usianya sebagai petani di Kota Bima.
Di usia 97 tahun, ketika sebagian besar orang memilih menikmati hari-hari tua bersama keluarga di rumah, Saimah justru baru saja menyelesaikan perjalanan terjauh dan paling berkesan dalam hidupnya. Ia menunaikan ibadah haji, sebuah cita-cita yang selama puluhan tahun hanya tersimpan dalam doa.
Perempuan asal RT 07 RW 03 Kelurahan Jati Baru Timur itu berangkat ke Tanah Suci pada 5 Mei 2026 bersama Kloter 11 Embarkasi Lombok. Saat keberangkatan, usianya tercatat 97 tahun, menjadikannya salah seorang jemaah haji perempuan tertua dari Indonesia pada musim haji tahun ini.
Perjalanan tersebut bukan tanpa cerita. Awalnya, Saimah berencana berangkat bersama putri kandungnya, Aminah. Namun qadarullah, sang anak belum mendapat kesempatan untuk berhaji pada tahun ini. Kondisi itu membuat keluarga diliputi rasa khawatir.
Bagaimana seorang perempuan yang hampir berusia satu abad menjalani seluruh rangkaian ibadah haji seorang diri, jauh dari keluarga dan berada di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara
Kekhawatiran itu ternyata tidak berlangsung lama. Selama berada di Arab Saudi, Saimah mendapatkan perhatian dan pendampingan dari petugas haji, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, serta sesama jemaah dalam satu kloter. Keluarga yang berada di Kota Bima juga terus memperoleh kabar mengenai kondisi dan aktivitasnya.
Bantuan datang dari banyak arah. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal berubah menjadi saudara yang saling menjaga dan membantu. Di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya, Saimah mampu menyelesaikan seluruh rukun haji dengan baik.
Keteguhan dan semangatnya menjalankan ibadah di usia lanjut menarik perhatian banyak pihak. Saimah bahkan menerima penghargaan dari Sarekat Al Bait Guest sebagai salah seorang jemaah haji perempuan tertua asal Indonesia yang menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun ini. Namun bagi Saimah, penghargaan itu bukanlah hal yang paling membekas dalam ingatannya.
Setelah seluruh rangkaian rukun haji selesai dilaksanakan, ia mendapat kesempatan mendekati dan mencium Ka’bah. Momen yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam angan-angannya itu akhirnya menjadi kenyataan. Dengan bantuan keluarganya yang berada di Arab Saudi, Saimah dapat menyentuh bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia.
Peristiwa tersebut direkam dalam sebuah video yang kemudian beredar luas di Facebook. Video itu menjadi viral dan mengundang beragam komentar haru dari warganet. Banyak yang mengaku tersentuh melihat seorang nenek berusia 97 tahun akhirnya mampu mewujudkan impian yang mungkin telah dipanjatkannya sepanjang hidup.
Ketika ditemui Kahaba.net di kediamannya beberapa hari setelah kembali ke tanah air pada 16 Juni 2026, Saimah tampak duduk santai ditemani anak dan cucu-cucunya. Sesekali ia tersenyum saat mengenang pengalaman selama berada di Tanah Suci.
Dengan suara pelan, ia menceritakan bagaimana perhatian yang diberikan petugas haji kepadanya selama menjalankan ibadah.
“Semua dibantu. Makanan ada, obat-obatan ada, dan banyak perhatian yang saya dapatkan. Pelayanan hajinya sangat bagus,” tuturnya.
Saimah mengaku sebenarnya merasa malu untuk menceritakan banyaknya bantuan yang diterimanya. Menurutnya, terlalu banyak orang baik yang telah membantu mewujudkan impian tersebut.
“Saya malu sebenarnya kalau cerita semua bantuan yang saya dapat. Banyak sekali yang membantu saya sampai bisa berhaji,” katanya.
Bagi Saimah, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan biasa. Di usianya yang telah mencapai 97 tahun, kesempatan menunaikan rukun Islam kelima menjadi nikmat terbesar yang pernah dirasakannya sepanjang hidup.
Karena itu, ketika ditanya apa yang masih menjadi keinginannya setelah kembali ke Kota Bima, jawabannya sederhana namun menggetarkan.
“Kalau Allah kasih kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Tanah Suci,” ujarnya sambil tersenyum.
Saimah bersama keluarga juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada seluruh pihak yang telah membantu perjalanan hajinya. Mulai dari Kementerian Agama, Pemerintah Kota Bima, petugas penyelenggara ibadah haji, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, hingga para jemaah yang dengan penuh kepedulian mendampinginya selama berada di Arab Saudi.
Kisah Saimah menjadi pengingat bahwa usia tidak pernah mampu membatasi harapan. Setelah puluhan tahun menyimpan impian, perempuan sederhana dari Jati Baru Timur itu akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Suci, menyelesaikan seluruh rukun haji, bahkan mencium Ka’bah yang selama ini hanya bisa dipandang dari kejauhan.
Di penghujung usia, ia menemukan kebahagiaan yang selama hidup selalu dipanjatkan dalam doa. Sebuah perjalanan yang mungkin hanya berlangsung beberapa pekan, tetapi akan tinggal selamanya dalam ingatan seorang nenek bernama Saimah.
*Kahaba-01













