Kabar Kota Bima

Tokoh Ormas dan Pondok Pesantren se-NTB Peringatkan Aparat dan Pemerintah, tidak Beri Ruang Pesta LGBT Jelang Tahun Baru

1275
×

Tokoh Ormas dan Pondok Pesantren se-NTB Peringatkan Aparat dan Pemerintah, tidak Beri Ruang Pesta LGBT Jelang Tahun Baru

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Silaturrahim dan diskusi Ormas dan Pondok Pesantren se-NTB, dengan tema “Selamatkan Nkri dan Jaga Generasi Bangsa”, Minggu (4/13) melahirkan sejumlah rekomendasi.

Tokoh Ormas dan Pondok Pesantren se-NTB Peringatkan Aparat dan Pemerintah, tidak Beri Ruang Pesta LGBT Jelang Tahun Baru - Kabar Harian Bima
Silaturrahim dan diskusi Ormas dan Pondok Pesantren se-NTB. Foto: Ist

Ketua FUI Bima Ustadz Asikin mengatakan, ada beberapa rekomendasi hasil pertemuan tersebut. Pertama, kedaulatan NKRI sudah rapuh dari segala sisi (IPOLEKSOSBUDHANKAM), saatnya warga bangsa terutama Umat Islam, bangkit menyelamatkan NKRI, mengembalikan pemerintah Negara Indonesia kepada amanat alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.

Tokoh Ormas dan Pondok Pesantren se-NTB Peringatkan Aparat dan Pemerintah, tidak Beri Ruang Pesta LGBT Jelang Tahun Baru - Kabar Harian Bima

Untuk membentuk pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia dalam Undang-Undang Dasar yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, peri-kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Hal ini bisa terwujud dengan Kepemimpinan Ulama atau Pemimpin yang direstui Ulama,” ujarnya melalui siaran pers yang diserahkan ke media ini, Senin (5/12).

Rekomendasi kedua sambungnya, menolak keras kehadiran Utusan Khusus LGBTQI+ Jesicca Stern, karena bertentangan dengan segala norma di dalam NKRI. Hal ini tertuang dalam pernyataan sikap.

Kemudian menyampaikan tazkirah atau peringatan kepada pemerintah pusat sampai daerah, untuk tidak memberikan ruang dan izin berkumpul serta pesta kaum LGBT, terutama menjelang Natal, Tahun Baru dan pada waktu pawai merayakan kemerdekaan Indonesia.

“Sudah cukup negeri kaum Soddom (kaum Luth) dijungkir balikkan oleh Allah karena praktek LGBT. Sudah cukup bencana dan malapetaka yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia sampai detik ini karena syirik, maksiat dan LGBT,” tegasnya.

Rekomendasi lain yakni menyampaikan peringatan kepada Kepolisian Republik Indonesia sebagai penjaga KAMTIBMAS, agar menjalankan tugasnya dengan baik. Jangan memberikan ruang kepada pelaku maksiat, narkoba, LGBT, dan lain-lain apalagi menjadi pelaku dan bandarnya.

Terakhir menyampaikan Tazkirah atau peringatan kepada Polri, TNI dan Sipil agar benar-benar menginteli para pelaku maksiat, narkoba, LGBT, dan lain-lain. Sebaliknya jangan menginteli para ulama dan umat Islam yang secara tulus ikhlas berjuang memerdekakan, mempertahankan kemerdekaan dan sekarang menyelamatkan NKRI dari kepunahan.

*Kahaba-01