Kota Bima, Kahaba.- Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dinilai telah mengubah cara organisasi, dunia pendidikan, perusahaan, hingga masyarakat menjalankan aktivitasnya. Karena itu, literasi AI menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki lulusan ilmu manajemen agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Ismunandar dalam orasi ilmiah saat Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan XXIII Tahun Akademik 2025/2026 STIE Bima, di Auditorium STIE Bima, Kamis 27 Agustus 2026.
Mengangkat tema “Pentingnya Literasi AI dalam Ilmu Manajemen: Merangkul Transformasi di Era Digital”, Ismunandar mengatakan AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan dan bisnis.
Menurutnya, dalam ilmu manajemen, AI telah mengubah cara organisasi belajar, beradaptasi, mengambil keputusan, hingga menyusun strategi.
Di bidang pendidikan misalnya, AI dapat membantu mempersonalisasi pembelajaran, menganalisis gaya belajar mahasiswa, hingga memberikan umpan balik secara cepat. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga menghadirkan tantangan terkait integritas akademik, orisinalitas, serta etika.
Karena itu, mahasiswa tidak boleh hanya menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas, tetapi harus mampu memanfaatkannya sebagai alat untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, menganalisis data, merancang model bisnis, memahami perilaku konsumen, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Literasi AI bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi kemampuan untuk memahami cara kerja AI, potensi bias dalam algoritma, serta batas-batas etis penggunaannya,” ujarnya.
Dalam dunia perusahaan, kata Ismunandar, AI telah berkembang dari sekadar perangkat operasional menjadi aset strategis.
Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memprediksi kondisi pasar, mengoptimalkan rantai pasok, memitigasi risiko, hingga memahami perilaku konsumen.
Namun, perkembangan tersebut juga menuntut manajer memiliki kemampuan mengelola perubahan. Manajer yang memiliki literasi AI tidak seharusnya melihat otomatisasi sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan.
“AI memang dapat menggantikan sejumlah pekerjaan repetitif, tetapi tidak dapat menggantikan empati, negosiasi, etika, serta kepemimpinan visioner manusia,” ungkapnya.
Ismunandar kemudian mengaitkan perkembangan AI dengan potensi daerah. Menurutnya, literasi AI harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat Kota Bima dan NTB.
Potensi UMKM, budaya, pariwisata, pertanian, hingga sektor maritim dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi digital dan AI.
Dirinya mencontohkan UMKM tenun Bima yang dapat memanfaatkan teknologi untuk membaca tren warna dan motif serta memperluas pemasaran ke pasar yang lebih luas.
Begitu pula sektor pariwisata dan budaya. Event seperti Festival Rimpu Mantika dapat dipromosikan secara lebih terukur dengan memanfaatkan teknologi digital, untuk memetakan audiens dan membangun kampanye yang tepat sasaran.
“Ethical Digital Marketing harus diterapkan, yakni mempromosikan budaya tanpa mengeksploitasinya, membangun kepercayaan wisatawan, sekaligus menghidupkan ekosistem ekonomi masyarakat lokal,” jelasnya.
Literasi AI juga dinilai dapat membantu petani dan nelayan memanfaatkan teknologi prediktif terkait cuaca dan musim. Dalam konteks tersebut, lulusan manajemen diharapkan mampu menjadi penghubung antara perkembangan teknologi dengan kebutuhan riil masyarakat.
Kepada para wisudawan dan wisudawati, Ismunandar berpesan agar gelar sarjana manajemen tidak hanya dipandang sebagai sertifikat kelulusan, tetapi sebagai mandat intelektual untuk menjadi pemimpin di tengah perubahan yang semakin cepat.
“Teknologi hanyalah alat, sedangkan manusia adalah sang konduktor,” tegasnya.
Menurutnya, literasi AI bukan untuk membuat manusia berpikir seperti mesin. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan yang menjadi keunggulan manusia, seperti kreativitas, intuisi, empati sosial, keberanian mengambil risiko, dan kepemimpinan.
Ia juga mengajak para lulusan tetap bangga dengan identitas lokal sembari memiliki wawasan global. Ilmu manajemen yang diperoleh di STIE Bima diharapkan dapat digunakan untuk memberdayakan UMKM, mengembangkan industri kreatif, serta membangun ekosistem digital yang beretika di Bima.
“Jadilah lulusan STIE Bima yang bangga dengan identitas lokal, tetapi memiliki resonansi pemikiran global,” pesannya.
*Kahaba-01













