Kota Bima, Kahaba.- Tim Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima yang di nahkodai Dosen Pembimbing Muhammad Yusuf, bersama tiga mahasiswa Shalsabila, Fitriah Nur Ramadani dan Hayatun, melaksanakan kegiatan program Pembinaan wirausaha mahasiswa yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2026.
Yusuf menyampaikan, inovasi produk berbasis kearifan lokal tersebut kembali hadir dari ide dan gagasan para generasi muda. Produk herbal Lo’i Pa’i Piri dengan nama brand HERBABAG LO’I MBOJO ini resmi diperkenalkan sebagai produk minuman herbal khas Bima, yang menggabungkan kekayaan rempah tradisional dengan konsep kemasan modern dan praktis dalam bentuk tea bag.
“Herbabag lo’i mbojo merupakan produk herbal dalam bentuk teh celup, dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai bahan alami seperti kunyit, temulawak, jahe, cengkeh, tempuyang, temulawak, temu giring, delima , cengkeh biji gorek, pinang, serta rempah-rempah alami lainnya,” ungkapnya, Senin 10 Agustus 2026.
Kehadiran produk ini kata dia, menjadi salah satu bentuk inovasi dalam mengangkat potensi bahan herbal lokal, agar memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus lebih mudah diterima oleh konsumen masa kini.
Produk tersebut dikembangkan oleh mahasiswa STIE Bima melalui program P2MW, tidak hanya diarahkan sebagai produk komersial, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan, kreativitas, serta kemampuan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
“Nama HERBABAG Lo’i Mbojo sendiri merepresentasikan identitas budaya masyarakat Bima. Artinya dalam konteks produk ini, penggunaan istilah lokal tersebut menjadi bagian penting dari strategi untuk mempertahankan identitas budaya, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisional Bima melalui produk yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara lebih luas,” beberanya.
Menariknya, Herbabag Loi Mbojo kata Shalsabila selaku ketua TIM P2MW STIE Bima, hadir dengan konsep “herbal tea bag”, sehingga konsumen tidak perlu melalui proses pengolahan herbal yang rumit. Produk cukup diseduh menggunakan air panas dan dapat dinikmati sebagai minuman herbal yang praktis. Konsep ini menjadi salah satu upaya untuk menjembatani tradisi minuman herbal dengan gaya hidup masyarakat modern, yang mengutamakan kepraktisan.
“Peluncuran produk ini juga menjadi momentum penting bagi tim pengembang, untuk memperkenalkan identitas baru produk herbal lokal Bima. Jika selama ini berbagai produk herbal tradisional lebih banyak dikenal dalam bentuk racikan atau seduhan konfensional, HERBABAG LO’I MBOJO mencoba menghadirkan pengalaman baru melalui desain produk, kemasan, dan sistem penyajian yang lebih modern,” pungkasnya.
Anggota tim lainnya, Fitriah Nur Ramadani dan Hayatun menambahkan, dengan kehadiran produk herbal lokal dengan kemasan modern memiliki peluang pengembangan yang cukup besar. Berbagai produk herbal di Indonesia juga menunjukkan bahwa inovasi pengolahan, branding, dan pemasaran dapat menjadi strategi untuk memperluas pasar. Bahkan, pemerintah mendorong penguatan UMKM obat bahan alam melalui kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah agar produk lokal semakin berdaya saing.
Bagi tim HERBABAG LO’I MBOJO, peluncuran produk bukanlah akhir dari proses, melainkan awal untuk mengembangkan produk secara berkelanjutan. Penguatan kualitas produk, desain kemasan, legalitas usaha, pemasaran digital, serta perluasan jaringan distribusi menjadi bagian penting yang akan terus dikembangkan agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami ingin produk ini tidak hanya menjadi produk herbal, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan rempah dan identitas budaya Bima kepada masyarakat yang lebih luas. Kami berharap produk ini dapat berkembang dari produk mahasiswa menjadi produk lokal yang memiliki daya saing,” imbuhnya.
Melalui inovasi tersebut tambah Yusuf, dapat membawa pesan bahwa kearifan lokal tidak harus berhenti sebagai tradisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk kreatif dan bernilai ekonomi. Perpaduan antara pengetahuan tradisional, kreativitas mahasiswa, teknologi pengemasan, dan strategi kewirausahaan diharapkan mampu menjadikan produk herbal khas Bima semakin dikenal.
“Peluncuran produk ini sekaligus menjadi bukti bahwa potensi lokal Bima memiliki ruang besar untuk dikembangkan oleh generasi muda. Dari rempah dan pengetahuan tradisional, lahir sebuah produk yang membawa identitas Mbojo menuju pasar yang lebih modern,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima Firdaus memberikan apresiasi tinggi dan rasa bangga kepada dosen serta mahasiswa setempat atas keberhasilan luar biasa yang diraih.
Prestasi ini terasa sangat istimewa karena capaian tersebut menjadikan STIE Bima sebagai satu-satunya perwakilan kampus di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang berhasil lolos dan memperoleh hibah Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
Menurut Firdaus, pencapaian skala nasional ini merupakan bukti nyata dari kualitas pembinaan kewirausahaan yang berjalan optimal di lingkungan kampus.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berinovasi, sekaligus memperkuat posisi STIE Bima sebagai wadah pencetak wirausahawan muda yang tangguh, kreatif dan mandiri di masa depan.
*Kahaba-04













