Kabar Kota Bima

Kepala SPMI Akbid Harapan Bunda Sampaikan Orasi Ilmiah Wisuda XVII

52
×

Kepala SPMI Akbid Harapan Bunda Sampaikan Orasi Ilmiah Wisuda XVII

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Kepala Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI) Akbid Harapan Bunda Bima, Bayti Jannah, menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Senat Wisuda ke-XVII di Convention Hall, Kamis 8 Januari 2026). Dalam orasinya, ia memaparkan hasil penelitian tim yang didanai Kemdiktisaintek tahun 2025 mengenai efektivitas teknik meneran pada ibu bersalin.

Kepala Sistim Penjamin Mutu Internal (SPMI) Akbid Harapan Bunda Bima Bayti Jannah. Foto: Ist

Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dompu Barat ini mengungkap inovasi sederhana dalam metode pernapasan, yang mampu menghindarkan ibu dari risiko robekan jalan lahir yang fatal.

Penelitian tersebut melibatkan 32 sampel ibu bersalin. Temuan menunjukkan perbedaan drastis antara teknik tradisional dan teknik tiup-tiup yang lebih modern dan manusiawi.

“Sedangkan yang diberikan intervensi teknik meneran tiup-tiup sebanyak 16 orang (100 persen) ibu bersalin tidak mengalami robekan perineum,” ungkap Bayti Jannah saat memaparkan data penelitiannya di hadapan wisudawan dan tamu undangan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan teknik tradisional yang selama ini lazim digunakan di masyarakat.

“Kelompok pertama sebanyak 16 ibu bersalin diberikan intervensi teknik meneran tradisional didapatkan hasil sebanyak 15 orang (94 persen) ibu bersalin mengalami robekan perineum derajat 2 dan sebanyak 1 orang (1 persen) ibu bersalin mengalami robekan derajat 3,” bebernya.

Bayti menjelaskan, teknik meneran tradisional dengan menahan napas dan mengejan kuat berpotensi meningkatkan tekanan berlebih pada jalan lahir. Hal inilah yang memicu luka luas, perdarahan hebat, hingga trauma berkepanjangan pada ibu.

Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat sebagian ibu merasa trauma dan memilih persalinan dengan tindakan operasi, meskipun seharusnya ibu bisa melahirkan secara normal.

“Sebaliknya, teknik tiup-tiup mengedepankan kelembutan pada tubuh ibu dengan mengatur napas secara terkontrol,” paparnya.

Bayti menegaskan, keselamatan ibu tidak selalu bergantung pada teknologi canggih, melainkan pendekatan empati berbasis ilmu.

“Temuan ini mengajarkan kepada kita akan satu hal penting bahwa keselamatan ibu tidak selalu ditentukan oleh teknologi canggih, tapi bisa melalui pendekatan yang manusiawi, penuh empati, dan berbasis ilmu,” pungkasnya.

Di akhir orasi, ia berpesan kepada 54 wisudawati agar ilmu yang diperoleh menjadi amanah untuk menghadirkan solusi nyata dan pelayanan yang memuliakan kehidupan di tengah masyarakat.

*Kahaba-04