Kota Bima, Kahaba.- Komisi II DPRD Kota Bima menyoroti pola pengambilan kupon gas elpiji 3 kilogram yang dinilai tidak manusiawi dan kerap menimbulkan kericuhan di tengah masyarakat. (Baca. Antre Kupon Gas Elpiji, Seorang IRT di Kolo Pingsan)
Sorotan ini muncul menyusul insiden seorang ibu rumah tangga pingsan akibat berdesakan saat mengantre kupon gas elpiji di Kelurahan Kolo, Senin 26 Januari 2026.
Anggota Komisi II DPRD Kota Bima Hj Gina Adriani menegaskan, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, antrean panjang dan kondisi berdesakan hampir terjadi setiap pekan, namun baru kali ini berujung warga pingsan.
“Kejadian seperti ini bukan hal baru. Hampir setiap minggu masyarakat berdesakan hanya untuk mendapatkan kupon gas. Warga seperti pengemis, padahal ini kebutuhan dasar,” tegas Gina, Selasa 27 Januari 2026.
Kat Duta Partai Golkar itu, pola distribusi gas elpiji yang diterapkan saat ini perlu segera dievaluasi dan diubah. Menurutnya, sistem pembagian kupon yang tidak tertata justru menciptakan persoalan dan membahayakan keselamatan warga.
Gina juga mengkritik OPD terkait agar tidak hanya duduk di belakang meja, tapi turun langsung melakukan pengawasan. Agar proses distribusi gas juga berjalan aman.
“Distributor juga harus tegas. Pangkalan yang terus membiarkan kondisi seperti ini terjadi perlu diberikan sanksi,” katanya.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya perubahan pola distribusi, termasuk membuka peluang penambahan pangkalan baru, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat dan banyak pihak yang bersedia menjadi pangkalan resmi.
“Kalau memang perlu, tambah pangkalan. Banyak masyarakat yang mau dan mampu. Jangan biarkan persoalan ini terus berulang,” ujarnya.
Gina menambahkan, Komisi II tetap menerima laporan terkait beragam persoalan distribusi gas elpiji. Untuk itu, hal seperti ini tetap harus dievaluasi dan pengawasan secara terus menerus.
*Kahaba-01













