Oleh: Ririn Kurniawati*
Kota Bima sedang berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, kebutuhan pembangunan terus meningkat dan masyarakat membutuhkan lebih banyak lapangan pekerjaan. Namun di sisi lain, ruang fiskal pemerintah daerah justru semakin terbatas.
Capaian indikator makro Kota Bima tahun 2025 menunjukkan angka yang pesimis, dimana pertumbuhan ekonomi Kota Bima turun dari tahun sebelumnya 4,04 persen menjadi 3,22 persen serta angka pengangguran yang naik dari 3,27 persen menjadi 4,26 persen. Angka PDRB sisi pengeluaran (konsumsi) menunjukkan kalau kontribusi terbesar penyumbang PDRB Kota Bima Adalah melalui konsumsi rumah tanggga sebesar 64 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto (investasi) 32 persen dan konsumsi pemerintah 30 persen, artinya untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi kota bima kita perlu menaikkan angka konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi yang masuk ke Kota Bima, investasi yang masuk pun adalah investasi yang padat karya untuk menurunkan angka pengangguran.
Di sisi lain Tahun 2026 ini merupakan tahun sulit bagi Sebagian besar daerah yang mengandalkan pendapatan nya melalui dana transfer termasuk didalam nya Kota Bima, turunnya dana transfer membuat pemerintah harus ekstra berpikir untuk memperketat belanja dan mencari sumber-sumber pendapatan baru untuk mengakselerasi rencana Pembangunan.
Untuk mendorong kinerja pemerintah daerah pemerintah pusat memberikan anugerah kepada daerah yang berprestasi dengan kategori antara lain : Pengendalian Inflasi, Penurunan Tingkat Pengangguran , Penurunan Kemiskinan dan Stunting, Creative Financing / Creative Finance.
Menyikapi hal ini, tentunya diperlukan konsep berpikir yang tidak biasa, kita dituntut untuk mulai berpikir kreatif, pertanyaannya apa yang bisa dilakukan untuk menjawab permasaalahn, turunnya pertumbuhan ekonomi, naiknya angka pengangguran dan berkurangnya dana transfer pusat yang berakibat pada berkurangnya pendapatan daerah untuk membiayai pembangunan???
Seperti yang disebutkan di atas pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang berprestasi dalam bentuk insentif fiscal, salah satu kategorinya Adalah Creative Finance, apa itu creative finane??
Kategori ini bukan sekadar melihat besarnya PAD. Yang dinilai adalah kemampuan Pemda melakukan inovasi dalam mengoptimalkan sumber daya dan pembiayaan pembangunan.
Beberapa aspek yang diberitakan menjadi bagian penilaian antara lain: Inovasi pajak dan retribusi daerah, Peningkatan dan optimalisasi PAD, Pengelolaan BUMD, Pemanfaatan CSR , Optimalisasi Barang Milik Daerah (BMD), Optimalisasi BLUD, Kerja sama dengan badan usaha/KPDBU
Salah satu aspek yang sedang diusahakan Adalah melalui optimaliasi pemanfaatan asset BMD. Hal ini yang mendorong pemerintah Kota untuk mengikuti Sasambo Chalenge Invesment yang di inisiasi oleh Bank Indonesia, Kegiatan ini sudah berlangsung sejak bulan mei di Mataram yang diawali dengan capacity building, pemerintah kota mengajukan 5 proyek investasi yang akan ditawarkan kepada investor salah satunya Adalah Plaza Hybrid Bima Mantika yang lolos sampai pada tahap incubator.
Kegiatan Incubator Sasambo Investment Challenge (SIC) 2026 di adakan di Jakarta, SIC merupakan sebuah rangkaian pendampingan untuk mematangkan proyek-proyek investasi daerah agar semakin siap ditawarkan kepada investor.
Dalam kegiatan tersebut, Plaza Hybrid Kota Bima Mantika menjadi salah satu proyek investasi Kota Bima yang berhasil lolos tahap kurasi dan masuk dalam daftar Project Incubator Sasambo Investment Challenge (SIC) 2026. Proposal proyek ini selanjutnya mendapatkan pendampingan melalui coaching clinic untuk disempurnakan menjadi proyek yang memenuhi standar Investment Project Ready to Offer (IPRO) dan siap dipromosikan kepada calon investor.
Apa Itu Plaza Hybrid Kota Bima Mantika?
Plaza Hybrid Kota Bima Mantika merupakan konsep pengembangan kawasan komersial modern dengan pendekatan hybrid mixed-use development, yaitu menggabungkan berbagai fungsi dalam satu kawasan yang terintegrasi. Proyek ini dirancang bukan hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai ruang kuliner, hiburan, perhotelan, kegiatan masyarakat, pelayanan publik, serta ruang terbuka.
Dalam dokumen IPRO, Plaza Hybrid Mantika digambarkan sebagai pusat rekreasi, belanja, kuliner dan pelayanan publik modern yang direncanakan berdiri di lokasi eks Kantor Bupati Bima, sebelah barat Kantor Wali Kota Bima. Luas lahan yang disiapkan sekitar 25.000 meter persegi, dengan peruntukan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa.
Konsep hybrid tersebut akan menghadirkan sejumlah fungsi dalam satu kawasan, antara lain retail dan lifestyle, food and beverage, hotel bintang tiga, event hall, entertainment, pelayanan publik, ruang terbuka atau public plaza, smart parking, serta ruang perkantoran. Dengan demikian, masyarakat nantinya tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga dapat menikmati kuliner, menghadiri kegiatan atau pertunjukan, mendapatkan layanan tertentu, maupun memanfaatkan ruang publik yang tersedia.
Konsep ini juga diarahkan untuk menjadi one stop destination, sehingga berbagai kebutuhan masyarakat dapat dilakukan dalam satu kawasan. Dalam dokumen proyek, Plaza Hybrid Mantika diposisikan sebagai “Pusat Perdagangan, Gaya Hidup, Hiburan dan Rekreasi Terbesar di Pulau Sumbawa Bagian Timur.”
Lokasi Pembangunan Plaza Hybrid Kota Bima Mantika??
Lokasi proyek menjadi salah satu keunggulan utama Plaza Hybrid Mantika. Kawasan pembangunan merupakan eks Kantor Bupati Bima yang berada tepat sebelah barat Kantor Pemerintahan Kota Bima berada di pusat Kota Bima dan memiliki akses strategis terhadap kawasan pemerintahan, perdagangan serta berbagai fasilitas perkotaan. Pemilihan lokasi ini juga dimaksudkan sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan asset daerah.
Pemanfaatan aset pemerintah daerah tersebut diarahkan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus dapat mendorong aktivitas ekonomi di kawasan pusat kota. Dokumen IPRO mencatat bahwa lahan saat ini merupakan aset Pemerintah Kota Bima dengan status hak guna, sementara peruntukan lahannya sesuai tata ruang adalah perdagangan dan jasa.
Kehadiran Plaza Hybrid Mantika juga diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pusat perdagangan dan rekreasi modern yang terintegrasi. Analisis pasar dalam dokumen proyek menempatkan Kota Bima sebagai pusat aktivitas ekonomi regional yang melayani tidak hanya masyarakat Kota Bima, tetapi juga masyarakat dari Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan wilayah Pulau Sumbawa bagian timur. Hal ini juga dimaksudkan untuk mendorong konsumsi masyarakat yang selama ini berpusat di Lombok beralih ke Kota Bima dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Bukan hanya untuk berbelanja, salah satu daya tarik utama Plaza Hybrid Mantika adalah keberadaan berbagai fasilitas yang dirancang dalam satu kawasan. Di dalamnya direncanakan terdapat area retail modern, restoran dan kuliner, hotel, event hall, fasilitas hiburan, ruang publik, perkantoran dan area parkir.
Dengan konsep tersebut, kawasan ini diharapkan menjadi tempat yang dapat mempertemukan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Pelaku UMKM lokal juga diharapkan memperoleh ruang untuk mengembangkan usahanya melalui keterlibatan dalam ekosistem perdagangan dan kuliner yang dibangun di kawasan Plaza Mantika.
Dokumen proyek juga menempatkan dukungan terhadap UMKM, peningkatan aktivitas ekonomi lokal, serta penciptaan lapangan kerja sebagai bagian dari keuntungan pengembangan proyek.
Investasi Rp413,4 Miliar dengan Skema BOT
Dari sisi investasi, Plaza Hybrid Kota Bima Mantika diproyeksikan membutuhkan nilai investasi sekitar Rp413,4 miliar. Proyek ini ditawarkan menggunakan skema Build-Operate-Transfer (BOT) atau Bangun-Guna-Serah dengan masa konsesi selama 30 tahun.
Melalui skema tersebut, investor atau badan usaha akan berperan dalam pembangunan dan pengoperasian kawasan, sementara Pemerintah Kota Bima menyediakan aset/lahan dan memberikan dukungan sesuai mekanisme kerja sama yang disepakati. Setelah masa kerja sama berakhir, aset kemudian diserahkan kembali kepada Pemerintah Kota Bima sesuai ketentuan perjanjian.
Skema BOT ini juga dirancang agar pengembangan aset daerah dapat dilakukan tanpa seluruh beban pembangunan harus ditanggung melalui APBD. Dalam dokumen proyek, skema pembagian hasil yang ditawarkan mencantumkan 70 persen untuk investor dan 30 persen untuk Pemerintah Kota Bima, dengan tetap mengacu pada perjanjian kerja sama yang nantinya disepakati.
Diharapkan Menjadi Penggerak Ekonomi Kota Bima
Lebih jauh, Plaza Hybrid Mantika diharapkan dapat menjadi salah satu landmark ekonomi baru Kota Bima. Kehadirannya diharapkan mendorong peningkatan aktivitas perdagangan dan jasa, membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan aktivitas UMKM, serta memperkuat posisi Kota Bima sebagai pusat kegiatan ekonomi di wilayah Pulau Sumbawa bagian timur. Selain itu diharapkan juga meningkatkan pendapatan asli daerah melalui kontribusi tetap invesstasi, pajak makan minum, retribusi parkir dan pajak reklame.
Bagi Pemerintah Kota Bima, proyek ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah agar memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih besar bagi masyarakat.
Pemerintah Kota Bima terus berupaya memastikan Plaza Hybrid Mantika tidak hanya menjadi sebuah gagasan pembangunan, tetapi dapat dipersiapkan sebagai proyek investasi yang memiliki konsep jelas, prospek pasar, skema kerja sama, serta manfaat ekonomi yang terukur.
Dengan lokasi yang strategis, konsep kawasan terpadu dan peluang pasar regional yang besar, Plaza Hybrid Kota Bima Mantika diharapkan menjadi salah satu proyek strategis yang mampu membawa wajah baru kawasan pusat Kota Bima sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah di masa mendatang.
*Penulis ASN Kota Bima dan Alumni Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang













